JIP; “Hapus Stigma Negatif yang Melekat Pada Penderita HIV/AIDS”

Rica Focalpoint JIP untuk wilayah kota Malang sedang presentasi

MALANG – Di negara lain, keterlibatan ODHA dalam level tertinggi di program penanggulangan AIDS telah terbukti mampu memberikan masukan-masukan yang membumi dan dibutuhkan dalam memberikan daya ungkit keberhasilan program penanggulangan AIDS. Di banyak negara, ODHA sudah bukan lagi sekedar dijadikan obyek namun sudah menjadi decision maker dalam program penanggulangan AIDS di pemerintahan.

Sementara di Indonesia masih berkutat pada Mindset pandangan sebelah mata.

Stigma negatif yang melekat pada penderita HIV/AIDS di tengah masyarakat masih melekat. Akibatnya, penderita HIV/AIDS dijauhi, kesadaran memeriksakan diri juga masih minim. Untuk itu, edukasi pada masyarakat mengenai seluk beluk penyakit HIV/AIDS perlu terus dilakukan. Edukasi yang dinilai masih minim menjadi penyebab jumlah penderita terus meningkat.

Focal Point Jaringan Indonesia Positif (JIP) wilayah Kota Malang, Rica Wanda mengatakan penyakit HIV mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1985an sampai sekarang. Namun stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya masih muncul. “Harapan kami ketika ada orang yang terjangkit HIV, jangan langsung dijauhi karena kekhawatiran tertular. Karena HIV tidak semudah itu menular,” kata Rica Focalpoint JIP untuk wilayah kota Malang Selasa (17/9/2019) dalam acara konsolidasi dan diskusi bersama di salah satu resto ikan bakar Malang.

Acara yang digelar Jaringan Indonesia Positif
( JIP ) ini dihadiri; media, stake holder dan NGO yang konsen di isu HIV Aids seperti Yayasan igama malang; Yayasan opsi (organisasi perubahan sosial); Yay.paramitra; Ippi malang; Kdsnetralplus;
TB care aisiyah; Wamarapa; WPA turen;
Polresta malang;
Kpa kota malang;
Jaringan gusdurian;
Metamorfosis (korban narkoba suntik);
Lapas kelas 1 lowokwaru;
Dinas sosial;
Dinas kesehatan;
Puskesmas dinoyo;
Lapas wanita sukun;
ARV community Support;
dan beberapa Wartawan cetak maupun elektronik.

Menyambung diskusi yang cukup gayeng namun sangat penting ini Rica menyambung materi diskusi. Menurutnya untuk
saat ini semua orang harusnya sudah paham apa itu HIV/AIDS, lalu bagaimana penularannya. Sehingga penderita tidak serta Merta dijauhi atau dikucilkan dari lingkungan masyarakat.

“Tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lintas sektor harapan kami bergerak di bidang itu untuk berbicara soal HIV. Harapan kami regenerasi baru ini tidak terputus informasinya. Selama ini program sosialisasi jalan terus, tetapi jumlah penderitanya terus naik,” tuturnya.

Sebagai komunitas yang konsentrasi di pendampingan HIV/AIDS, JIP pun kini lebih banyak menggandeng sejumlah komunitas untuk melakukan diskusi tentang upaya penanganan dan pencegahan penyakit tersebut.

“Kami sering melakukan pertemuan dan diskusi dengan tokoh agama serta tokoh masyarakat. Tak hanya penanganan, namun juga tentang advokasi anggaran pemerintah yang digunakan untuk menangani masalah ini,” ujar Rica.

Dengan pemahaman yang baik tentang HIV/AIDS, diharapkan dapat membantu menekan jumlah penyebarannya, sekaligus meningkatkan kesadaran untuk memeriksakan diri pada tenaga kesehatan.

“Berdasarkan temuan kami di lapangan, setiap hari ada satu dari lima orang yang tidak sadar bahwa ada virus HIV di tubuhnya. Jika telah melakukan aktivitas yang rentan terserang HIV, alangkah lebih baik segera melakukan pemeriksaan kesehatan. Sebab terserang HIV belum tentu kena AIDS. Hal ini yang juga harus dipahami masyarakat,” tandasnya.

Dari diskusi yang cukup panjang itu bisa ditarik kesimpulan bahwa kita masyarakat Indonesia harus bisa merubah mindset stigma negatif yang melekat pada ODHAHIV/AIDS di tengah masyarakat. Karena HIV/ AIDS tidak membunuh tetapi yang membunuh adalah penyakit lain yang diderita pengidap HIV/ AIDS.

Sangat ironis, cakupan pengobatan AIDS atau pengobatan ARV di Indonesia tercatat hanya 17% dan angka ini adalah yang terburuk di regional Asia Pacific bahkan Dunia. Dengan hanya ada sekitar 140 ribu orang dengan HIV yang berada dalam pengobatan ARV artinya ada 500.000 ribu lainnya masih belum ada dalam pengobatan – bahkan masih belum mengetahui dirinya terinfeksi HIV.

Capaian yang buruk ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Yang utama adalah kurangnya political will dari pemerintah dan layanan untuk memberlakukan Test and Treat, keterlambatan dalam mengadopsi pembelajaran terbaik dari negara lain yang nyata-nyata mendukung program AIDS, masih tingginya stigma dan diskriminasi kepada kelompok terdampak AIDS seperti orang dengan HIV, pekerja seks, LGBT, pengguna narkotika, perempuan dan anak sampai dengan mahalnya harga obat ARV yang dibeli oleh pemerintah Indonesia dari industri farmasi BUMN.

Masih banyak prosedur yang dijalankan oleh layanan kesehatan sebelum memberikan obat ARV kepada ODHA diyakini juga turut menjadi pemicu rendahnya cakupan pengobatan ARV ini.

Begitu tahu status HIVnya, seharusnya berdasarkan evidence global, ODHA itu bisa langsung diberikan obat ARV namun dalam faktanya, ODHA masih diminta untuk melakukan tes-tes penyerta lain sebelum bisa diberikan obat ARV sementara semestinya tes-tes ini bisa dilakukan belakangan.(*) ( JKW )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *