Maharesigana UMM, Tangani Psikososial Korban Bencana diNgajuk

Foto : Maharesigana UMM sedang memberikan dukungan psikososial bagi para penyintas(ist)

Rabu, 24 Februari 2021

Malangpariwara.com – Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk 14 Februari lalu tidak hanya membawa kerugian materi bagi para korban. Secara psikologi, baik anak-anak maupun orang dewasa juga mengalami dampak dari bencana tersebut.

Kondisi ini memantik Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berbuat sesuatu akhirnya membentuk dua tim yang diberangkatkan secara bergantian dalam dua gelombang. Satu tim saat ini telah berada di desa tersebut sejak Sabtu (20/02/31) dan memberikan dukungan psikososial bagi para penyintas.

“Setiap tim terdiri dari 5 mahasiswa dari berbagai fakultas. Fokus mereka pada kegiatan psikososial baik untuk dewasa maupun anak-anak,”kata Rindya Fery Indrawan, Ketua Maharesigana UMM, Selasa (23/02/21).

Setelah melakukan assessment selama 3 hari di tempat pengungsian, Koordinator Tim Psikososial Kelompok I, Ahmad Hendra Purwanto mengungkapkan bahwa para pengungsi saat ini menyampaikan banyak keluhan, baik secara fisik maupun kondisi psikologi. Mulai dari ketakutan, rasa khawatir, gelisah bahkan rasa bersalah yang sangat dalam.

“Ada seorang nenek yang terus menyesali keputusannya membiarkan cucunya pulang ke rumah orang tuanya. Si nenek bilang, seandainya saja ia menahan si cucu, mungkin hingga kini cucunya masih hidup. Tidak terkubur longsor bersama ayah ibunya,” ujar Hendra.

Kondisi sejenis ini yang kemudian menjadi fokus tim untuk melakukan Psychological First Aid (PFA) atau tindakan humanis dan mendukung dalam membantu seseorang yang menderita dan membutuhkan bantuan akibat bencana alam atau krisis.

“Tujuannya menghindari kondisi psikologis yang lebih buruk lagi. Jadi menenangkan, memberikan rasa aman dan nyaman. Kalau kebutuhan fisik sudah tercukupi dari pemerintah daerah yang sangat tanggap,” tambah Hendra.

Foto : Hilangkan kejenuhan dan trauma pada anak anak korban bencana (ist)

Tidak hanya bagi orang dewasa, tim Maharesigana UMM juga fokus pada anak-anak yang juga mengalami tantangan tersendiri. Mereka didera rasa bosan dan juga keinginan yang kuat untuk dapat beraktivitas seperti biasa, padahal keadaan masih belum memungkinkan.

“Layanan dukungan psikososial untuk anak-anak kami berikan dengan membuat jadwal untuk mereka agar tidak jenuh. Jika sebelumnya banyak komunitas atau lembaga lain terus mengajak bermain, kini waktunya kami atur. Kasihan kalau diajak bermain terus anak-anak juga akan lelah dan itu tidak baik untuk imun mereka, apalagi di masa pandemi seperti ini,” tambahnya.

Hendra lalu menguraikan, penjadwalan dilakukan meliputi kegiatan senam di pagi hari, assasment, istirahat, dan mengaji. Ragam ini penting agar anak-anak tidak merasa jenuh.

“Baik pengungsi dan tim harus mendapat istirahat yang cukup, sehingga kondisi tubuh tetap terjaga. Selain itu, kondisi fisik dan spiritual juga tetap harus diperhatikan. Untuk ibu-ibu akan didatangkan ustadzah untuk mengajar mengaji,” ujarnya.

Zakarija Achmat S.Psi., M. Si. selaku pembina Maharesigana UMM menyampaikan, pihaknya mempersiapkan dengan baik untuk pemberangkatan para relawan. Selain mendapat pembekalan dari Laboratorium Psikologi Terapan Psikososial UMM tentang bantuan psikologis awal, kesehatan para relawan juga menjadi fokus.

“Kita kirimkan 10 relawan. Lima orang seminggu, nanti ditarik, diganti tim yang lain karena masih dalam situasi seperti ini. Itu pun harus melalui protokol. Begitu sampai langsung rapid test, swab antigen. Jangan sampai kedatangan para relawan justru menimbulkan cluster baru, ” urainya.

Zakarija melanjutkan, UMM berharap keberadaan para relawan Maharesigana UMM di sana dapat meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Utamanya dalam sisi psikologis baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

“Semoga ini dapat meringankan beban, minimal beban psikologisnya karena memang relawan kita pendekatannya pendekatan psikososial. Misalnya karena para orang dewasa fokus untuk mengembalikan keadaan pada situasi normal, sehingga anak-anak kurang dapat perhatian termasuk masalah pendidikan. Teman-teman relawan akan membantu proses pendidikan ini tetap berjalan. Bukan berati menggantikan guru, tapi lebih secara umum. Contohnya seperti Story Telling,” pungkasnya.( JKW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *