Dengan Mobil KaCa, UMM Ajak WBP Lapas Perempuan Ngabuburit dan Ngaji Bareng

Foto: Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag. yang didapuk mengisi pengajian di Lapas Perempuan kelas II Malang

Jum’at, 23 April 2021

Malangpariwara.com
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menebar manfaat dan kebaikan pada momen Ramadan.

Usai menghibur anak-anak korban gempa Malang Selatan beberapa waktu lalu, kali ini UMM menyambangi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan kelas II Malang untuk buka bersama.

Mengendarai Mobil KaCa dan Mobil Pintar, mereka hadir melaksanakan agenda ngabuburit bersama dan tausiyah kepada penghuni Lapas pada Kamis (22/4/21).

Selain itu juga melangsungkan berbuka bersama dengan 550 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) serta para staf yang ada.

Dua gelaran tersebut merupakan bagian dari rangkaian panjang program UMM Ramadan Berbagi.

Agenda ngabuburit bersama itu dibuka dengan penampilan band yang terdiri dari para warga binaan. Beberapa lagu dibawakan dengan apik, tidak terkecuali lagu rohani yang menggugah hati. Bahkan ada juga lagu-lagu ciptaan mereka sendiri yang sempat ditampilkan.

Mengawali acara, Tri Anna Aryati, Bc.IP, SH., M.Si. selaku kepala Lapas Perempuan Kelas II Malang berterima kasih kepada UMM yang sudah membagi kasih dan sayang kepada keluarga besar Lapas Perempuan. Utamanya dalam aspek jasmani dan rohani.

“Aspek jasmani dengan makananan dan tali kasih yang dibawa. Selain itu juga aspek dengan mendatangkan ustad yang memberikan tausiyah,” ungkapnya.

Ia berharap segala amal baik yang sudah dilakukan segenap UMM bisa mendapat balasan yang lebih baik pula. Mendapatkan hidayah dan ampunan terutama di bulan Ramadan kali ini.

“Semoga Ramadan mampu membuat kita semua menjadi manusia yang lebih baik di kemudian hari,” harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM mengatakan bahwa para WBP harus tetap kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan yang ada. Ia juga berpesan untuk selalu berusaha memiliki hari yang lebih baik dari hari kemarin. Begitupun, hari esok harus lebih baik ketimbang hari ini.

“Jika prinsip ini bisa dilakukan dengan benar, insyaAllah hidayah akan selalu mengiringi serta menjadikan kita orang sukses,” tegasnya.

Ia juga mengutarakan bahwa UMM memang memiliki tekad untuk terus menebar manfaat di segala kondisi. Utamanya dalam aspek kesehatan dan psikologis. Dua aspek yang seringkali terlupakan oleh masyarakat.

“Jika orang lain fokus pada hal-hal pokok seperti sembako, kami lebih mementingkan aspek eksehatan dan psikologis dari masyarakat yang ada,” terangnya.

Fauzan juga ingin agar kerja sama yang terjalin tidak hanya berhenti sampai di acara ini saja. Namun bisa berlanjut di program-program membangun lainnya.

“Mungkin besok ketika idul adha UMM bisa memberikan Qurban di Lapas. Nanti bisa masak dan makan bersama-sama,” ingin Fauzan.

Di akhir sambutan, ia juga berpesan kepada warga binaan untuk mencontoh kupu-kupu. Berawal dari ulat yang banyak orang tidak menyukainya kemudian berubah menjadi kepompong. Hingga akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah dan menebar manfaat ke sesama.

Indah Nuwari, salah satu warga binaan mengutarakan rasa senangnya atas agenda yang sudah dilaksanakan. Menurutnya, berbuka bersama UMM sangat meriah dan menyenangkan. Apalagi ada sumbangan buku yang UMM berikan untuk menghibur warga binaan ketika sedang bosan.

Ia mengaku buku menjadi salah satu hiburan yang mereka miliki untuk menghabiskan waktu.

“Seringkali kami membaca buku yang sama berulang-ulang kali. Alhamdulillah ada banyak buku yang disumbangkan kepada Lapas Perempuan ini,” ungkapnya.

Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag. yang didapuk mengisi pengajian memulai materinya dengan mengajak para warga binaan untuk terus bermuhasabah. Selain itu juga meningkatkan kualitas puasa, tidak hanya menahan haus dan lapar tapi juga menahan semua hawa nafsu yang menggoda.

“Biasanya, godaan paling berat bagi wanita itu adalah menjaga lisan. Ada saja yang dijadikan bahan ghibah, bahkan juga seringkali menyakiti hati orang lain,” jelasnya.

Fatoni, sapaan akrabnya kembali menjelaskan terkait ciri-ciri orang yang puasanya diterima. Pertama, yakni mereka cepat kembali pada ampunan Allah. Ketika melakukan dosa, secepat mungkin kembali ke jalan yang benar. Kemudian juga meninggalkan perkara-perkara yang menyakiti orang lain, baik dari segi fisik maupun hati.

Lebih lanjut, mereka yang puasanya diterima biasanya juga akan lebih dermawan. Jika dulunya pelit dan tidak mau ebrbagi, maka ketika Ramadan usai, mereka akan lebih mudah dan ringan dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT. Selalu bersedekah di keadaan lapang maupun sempit.

Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Arab tersebut juga menuturkan bahwa ketika puasa diterima, biasanya semua aspek kehidupan dari orang tersebut akan menjadi lebih baik. Menjadi orang yang mudah meminta maaf dan menerima maaf atas kesalahan orang lain.

“Mereka juga biasanya beralih dari yang dulunya pemarah menjadi pemurah. Berlaku ramah kepada setiap orang yang menyapa di manapun berada,” tegasnya pada warga binaan.

Terakhir, Fatoni juga berpesan agar selalu membaca Al-Quran secara rutin. Jika memungkinkan, bisa juga membaca terjemahan, memahami serta merenungkan.

“Hingga yang terakhir, semoga kita bisa mengamalkan apa yang ada dalam kitab suci kalam illahi ini,” pungkasnya menutup materi berbarengan dengan adzan magrib. (JKW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *