Bonsai UB Bahas Persiapan, Pembelajaran Luring Terbatas di Masa Pandemi

Foto: Saat Bincang dan Obrolan Santai (Bonsai) bersama pakar Universitas Brawijaya (UB) bersama wartawan pada Senin (3/5/2021).(ist)

Senin, 3 Mei 2021

Malangpariwara.com –
Bincang dan Obrolan Santai (Bonsai) bersama pakar Universitas Brawijaya (UB) pada Senin (3/5/2021) membahas mengenai kesempatan pembelajaran luring di masa Pandemi.

Diskusi yang dihadiri oleh awak media tersebut mengundang tiga narasumber, yaitu Rektor UB Prof.Dr.Ir. Nuhfil AR.,M.S., Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES, serta Pakar Kebijakan Publik Prof.Dr.Bambang Supriyono, M.S. akhirnya
mendapat beberapa hal yang akan dijadikan aturan baru cegah penyebaran Covid 19.

Dalam kesempatan tersebut Prof Bambang menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah terkait pembelajaran daring harus dipatuhi oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan pemerintah sudah mempunyai tolok ukur komprehensif dalam memberikan klasifikasi daerah sesuai dengan zona merah, kuning, dan hijau.

“Untuk kawasan-kawasan zona hijau diperbolehkan luring tapi tetap mematuhi protokol kesehatan. Sedangkan untuk Sekolah Dasar (SD) sampai menengah umumnya telah memiliki kebijakan luring dan tatap muka tapi tetap harus patuh pada protokol kesehatan,”katanya.

Dekan FIA tersebut menambahkan, efektivitas daring tergantung dari partisipasi aktif empat komponen yaitu siswa, orang tua, sekolah, dan terakhir dari media pembelajaran.

“Jika luring, sekolah dan siswa lebih dominan didukung orang tua dan media. Sementara, jika daring keempatnya harus berjalan beriringan.Tentu dimaksud efektif kalau keempatnya berperan aktif.
Sebaliknya jika salah satu saja tidak berperan atau kurang berperan efektivitas menjadi diragukan,”katanya.

Bambang mengatakan untuk meningkatkan partisipasi aktif dari sekolah maka perlu ada bantuan pulsa untuk guru.

Sementara itu, di UB sendiri rencana pembelajaran tatap muka akan dilakukan pada dua angkatan.

Aulani’am mengatakan ada satu angkatan yang sudah dipastikan untuk tatap muka.

Namun hanya 25 persen mahasiswa yang diijinkan untuk tatap muka.

“Rencananya untuk semester depan yang sudah pasti adalah untuk angkatan 2020. Karena menurut kami sejak mereka menjadi mahasiswa baru satu tahun lalu. Mereka belum pernah mengenal siapa dosennya dan bagaimana kampusnya,”katanya.

Selain itu, akan diprioritaskan juga bagi mahasiswa yang saat ini sedang mengerjakan skripsi.

“Pastinya mereka butuh praktikum di laboratorium. Sehingga tatap muka atau pembelajaran luring sangat diperlukan,” katanya.

Meskipun sudah ada kebijakan tatap muka namun pembelajaran masih menggunakan sistem blended learning.

“Pastinya jika luring harus memenuhi protokol kesehatan seperti menyediakan wastafel, menggunakan masker, duduk berjarak satu meter, dan menggunakan ruangan yang mempunyai sirkulasi udara bagus. Diatur Rencana Pembelajaran Semester (RPS) BAB apa yang daring dan BAB apa yang luring,” pungkasnya. (JKW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *