29 Agustus 2025

Tiga Hal Ini jadi Evaluasi di Kota Malang untuk Tekan Stunting

IMG_20231217_183714

Foto: ilustrasi kegiatan deteksi dini Stunting di kota Malang ( Djoko W)

Minggu, 17 Desember 2023

Malangpariwara.com – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) mengidentifikasi sejumlah masalah yang kemungkinan menjadi penyebab kenaikan stunting.

Kepala Dinsos-P3AP2KB Donny Sandito mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang menjadi evaluasi para pakar terkait stunting. Ketiga hal tersebut berkaitan dengan pemenuhan gizi dan pola hidup di lingkungan sekitar.

“Pertama itu terkait ASI. Jadi bayi yang stunting itu tidak mendapatkan asi eksklusif. Kedua, ada diindikasikan keluarga se rumah yang merokok, ketiga karena terkait pola pengasuhan,” ujar Donny.

Hal itu pun menjadi evaluasi di tahun 2023 ini. Nantinya hasil dari evaluasi akan digunakan untuk merumuskan langkah dan kebijakan program untuk menurunkan stunting di tahun 2024. Seperti melakukan koordinasi bersama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang.

“Kita menyampaikan ke Dinkes untuk sosialisasi tentang ASI ekslusif dan pemenuhan gizi. Kemudian kita sosialisasi di sekolah terkait dengan sosialisasi merokok dan terkait pola asuh. Nah, untuk pola asuh kita kerjasama dengan PKK dan lembaga yang terkait dengan pola asuh,” terang Donny.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Erik Setyo Santoso, menyampaikan jika stunting menjadi salah satu program prioritas strategis pemerintah. Sehingga, dibutuhkan upaya agar ada penurunan jumlah anak yang terindikasi atau berisiko mengalami stunting.

“Ini yang terus kita lakukan bersama untuk pelibatan jajaran instansi baik dari Forkopimda ataupun dengan steakholder yang lain. Kita berharap Bangsa Indonesia, terutama di Kota Malang ini juga ada pemahaman terkait nutrisi. Sehingga, bangsa kita pun juga ada satu bentuk transformasi fisik, mental, spiritual dan dari sisi intelektual,” jelas Erik.

Pria yang juga sebagai Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) ini mengatakan bahwa jika pengendalian stunting harus dilakukan dengan mendata by name by adress. Salah satunya melalui bulan timbang.

Selain itu, bayi-bayi yang berisiko stunting diberikan pemberian makanan tambahan selama 90 hari. Hal teraebut dimaksudkan untuk memastikan asupan gizi yang masuk kepada anak-anak dengan risiko stunting.

“Selain itu juga untuk pasangan pranikah, kemudian ibu-ibu hamil untuk nanti kami berikan pemahaman sejak dini dialirkan sebagai bentuk edukasi. Jadi pada saat bulan timbang-timbang berikutnya itu kami berharap yang terindikasi resiko ini bisa langsung kami minimalkan lagi sehingga di Kota Malang bisa zero stunting,” ujar Erik.( Djoko W)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *