Malangpariwara.com – Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Malang menanggapi berbagai keluhan masyarakat mengenai operasi transportasi publik baru Trans Jatim.
Terutama terkait bus yang melintas dalam kondisi penuh dan tidak dapat mengangkut penumpang di beberapa titik shelter bus Trans Jatim padat seperti Kayutangan dan Sengkaling.
Dalam keterangan suara yang diterima Malangpariwara, Kadishub Kota Malang Drs.R. Widjaja Saleh Putra menjelaskan bahwa ketentuan operasional Trans Jatim sebenarnya telah diatur dalam SOP.
Yakni bus harus berangkat setiap 10–15 menit, meskipun dalam keadaan kosong.
“Ketentuannya memang berhenti di shelter 10-15 menit dan harus jalan tidak melebihi itu. Saya coba untuk koordinasi dengan operator di Terminal Hamid Rusdi. Apakah Bus berangkat setelah okupansi penuh terlebih dahulu atau bisa jadi antrian di terminal Hamid Rusdi juga banyak yang ngantri,” ujar Widjaja.
Widjaja juga memberikan usulan untuk menghandle masyarakat yang berada di shelter tengah kepada operator Trans Jatim.
Selain itu Widjaja juga mengungkapkan bahwa di aplikasi Trans Jatim Ajaib bisa memonitor bus Trans Jatim.

“Akan kami teruskan kepada operator Trans Jatim untuk menghandle, mengangkut dan melayani masyarakat yang ditengah pemberhentian dan seterusnya,” katanya.
Keluhan Calon Penumpang
Keluhan warga muncul karena bus yang datang ke beberapa shelter dalam interval lebih lama dari jadwal seharusnya dan sudah terisi penuh sejak berangkat dari Terminal Hamid Rusdi.
Akibatnya, penumpang di halte-halte tengah kota sering kali tidak dapat terangkut.
Endang Warga Sukun saat bersama 5 orang temannya seusai ngaji di masjid Jami’ Malang hari Minggu (30/11/25) siang ingin mencoba moda transportasi Bus Trans Jatim.
Di mana transportasi ini sedang banyak diminati masyarakat untuk keliling Kota Malang dan Batu, mendadak kecewa karena sulit mendapatkan tumpangan Bus Trans Jatim.

“Iya mas. Kecewa sih kok sulut ya lama kami bersama penumpang lainnya berjajar antri di shelter Kayutangan depan Telkom. Nunggu lumayan lama beberapa bus memang lewat tapi selalu penuh jadi kami gak terangkut. Kami akhirnya belum naik,” katanya.
“Apakah karena gak tepat pas hari libur Sabtu-Minggu? Saya akan coba hari biasa saja mas,” ujar Endang sambil pergi meninggalkan shelter Kayutangan, diikuti teman teman dan penumpang lainnya yang sudah tidak sabar menunggu Bus berikutnya.
Widjaja menegaskan bahwa pihaknya akan mengevaluasi dengan Dishub Provinsi Jawa Timur perihal tersebut.
Ia menambahkan bahwa masyarakat dapat memantau posisi bus secara real-time melalui aplikasi TransJatim.
Meski aplikasi tersebut belum dapat menampilkan jumlah penumpang yang menunggu di setiap titik.
“Posisi bus bisa dilihat lewat aplikasi Trans Jatim. Tapi untuk mengetahui jumlah orang yang menunggu di setiap titik, itu belum bisa. Yang jelas kami akan terus evaluasi memberikan layanan terbaik buat masyarakat,” katanya mengakhiri. (Djoko W/SDV)






