Dies Natalis ke-16 FIB UB, ASB Satukan Rasa untuk Lestarikan Budaya Nusantara

Malangpariwara.com – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) menggelar Dies Natalis ke-16 yang dirangkaikan dengan penyelenggaraan Anugerah Sabda Budaya (ASB) ke-7.

Tahun ini, kegiatan tersebut mengangkat tema “Samadya Danasmara Manunggal Rasa.”

Bermakna ajakan untuk menyatukan rasa dalam mengembangkan dan merawat kebudayaan Nusantara.

Rektor UB, Prof. Widodo, menyampaikan bahwa universitas, termasuk FIB, memiliki peran penting dalam membangun ekosistem budaya yang sehat.

Sekaligus menjadi bagian diplomasi ke masyarakat global.

“Budaya-budaya ini adalah kekuatan kita. Pemahaman yang kita miliki tentang budaya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjadi bagian dari diplomasi kita ke masyarakat global,” ujarnya di Aula Fakultas Ilmu Budaya UB.

Ia juga menyebutkan dalam momentum ASB sebagai kesempatan yang baik untuk memberikan apresiasi kepada banyak pihak.

Diantaranya para seniman, budayawan, dan praktisi budaya yang terus melestarikan warisan budaya bangsa.

Dies Natalis ke-16 FIB UB, ASB Satukan Rasa untuk Lestarikan Budaya Nusantara
Rektor UB memberikan apresiasi kepada banyak pihak pada acara Dies Natalis FIB UB 2025. (Djoko W)
Tradisi Khas FIB UB

Sementara itu, Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa ASB merupakan tradisi khas fakultas sejak 2018.

Meski sempat terhenti pada 2021 karena pandemi, tahun ini ASB kembali hadir dan menjadi penyelenggaraan yang ketujuh.

Melalui tema ‘Samadya Danasmara Manunggal Rasa,’ ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk menyatukan rasa dalam merawat budaya Nusantara.

“Fakultas Ilmu Budaya adalah salah satu tonggak penting di UB dalam tugas mengembangkan dan melestarikan kebudayaan. Mari kita dukung bersama agar kontribusi FIB semakin berdampak,” ungkapnya.

FIB juga mendapat amanah besar dari rektor untuk mengembangkan industri berbasis budaya serta berperan sebagai agen soft diplomacy Indonesia.

Rumah Budaya Indonesia

Saat ini, FIB telah mendirikan Rumah Budaya Indonesia di dua universitas di Tiongkok, yaitu Tianjin Foreign Studies University dan Guangxi Normal University.

“FIB sudah memiliki rumah budaya Indonesia di Cina, ada di dua universitas, yakni Tianjin Foreign Studies University dan Guangxi Normal University,” ungkap Sahiruddin.

Selain itu, FIB juga mengembangkan UKBIPA, pusat uji kemampuan bahasa Indonesia untuk penutur asing, khususnya penutur bahasa Mandarin.

Dies Natalis ke-16 FIB UB, ASB Satukan Rasa untuk Lestarikan Budaya Nusantara
Dekan FIB UB, Sahiruddin, ketika berbicara dengan awak media. (Djoko W)

Upaya internasionalisasi budaya juga diperkuat dengan pengiriman dosen Bahasa Indonesia untuk mengajar di Tiongkok selama dua tahun terakhir.

Tidak hanya itu, FIB juga aktif dalam berbagai program pelestarian budaya, seperti Brawijaya Korpora Project, Batikpedia, dan GenBatik berbasis AI.

Di mana semuanya menggabungkan warisan budaya dengan teknologi digital.

“Program Brawijaya Corpora Project Batikpedia dan AIGEN Batik juga merjoskan bentuk pelestarian budaya dari UB. Jadi ini adalah usaha untuk menjadikan aspek budaya menjadi digital dan bisa dibawa ke luar negeri,” imbuhnya.

Fakultas ini juga menjadi bagian dari International Workstation UNESCO untuk mendukung Malang Raya agar dapat berkembang sebagai kota kreatif UNESCO.

Baca Juga:

Dies Natalis ke-64 FEB UB, Menkop Ferry Juliantono Dorong Universitas Brawijaya Jadi Mitra Strategis Penguatan Koperasi

Dalam tingkat lokal, pada 2025 FIB telah terjun ke 59 desa untuk mendokumentasikan objek budaya.

Serta bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 11 melalui kegiatan Wilwatikta Acarita.

Dekan FIB menyampaikan bahwa seluruh 10 program studi di FIB UB kini telah meraih akreditasi unggul dan beberapa di antaranya juga terakreditasi internasional.

“FIB melaporkan kepada seluruhnya bahwa 10 prodi di FIB sudah terakreditasi unggul dan juga sebelumnya juga sudah terakreditasi internasional,” pungkasnya.

ASB 2025
Dies Natalis ke-16 FIB UB, ASB Satukan Rasa untuk Lestarikan Budaya Nusantara
Koordinator Anugerah Sabda Budaya sekaligus Ketua Dewan Kurator, Yohanes Padmo Adi Nugroho. (Djoko W)

Lebih lanjut, Koordinator Anugerah Sabda Budaya sekaligus Ketua Dewan Kurator, Yohanes Padmo Adi Nugroho, menjelaskan bahwa proses kurasi penerima ASB tahun ini berlangsung cukup panjang.

“Setelah proses panjang tim kurator berkumpul dan berdiskusi, kami memutuskan dengan bulat bahwa tiga nama ini adalah yang paling layak menerima ASB tahun ini,” ujarnya.

Tahun ini, ASB diberikan untuk tiga kategori, yakni sastra, seni tradisi (tari), dan seni rupa. Indikator penilaian mengacu pada moto FIB, yaitu unggul dan berdampak.

Dampak yang dimaksud mencakup dua sisi: dampak kepada masyarakat luas dan dampak internal terhadap FIB, khususnya melalui kerja sama berkelanjutan.

Para penerima ASB tahun ini adalah:

1. Kategori Sastra: Tengsu Cahyono, penyair, cerpenis, sekaligus penemu genre baru bernama pentigraf.

2. Kategori Seni Tradisi (Tari): Winarto Ekram, pengembang berbagai genre tari baru seperti drama tari, sendratari, hingga teater tari, serta pendiri sekolah tari dan pengembang kostum tari.

3. Kategori Seni Rupa: Dadang Rukmana, seniman dengan teknik seni rupa khas yang menjadi identitas karyanya.

Melalui rangkaian agenda Dies Natalis ke 16 ini, FIB UB menegaskan kembali komitmennya untuk menjadi pusat pelestarian budaya, inovasi, dan diplomasi budaya Indonesia ke tingkat global. (Djoko W)