Kota Malang Darurat Banjir, Ini Kata Guru Besar Teknik Pengairan Pertama di Indonesia

Malangpariwara.com – Guru Besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, M.S., IPU, menilai fenomena banjir yang kembali terjadi di Kota Malang bukan sekadar akibat cuaca ekstrem.

Melainkan konsekuensi langsung dari peningkatan jumlah penduduk dan maraknya alih fungsi lahan.

Rektor UB periode 2014-2018 itu menjelaskan, penduduk Kota Malang sebenarnya hanya sekitar 850 ribu penduduk sesuai data BPS.

Namun, karena keberadaan 62 perguruan tinggi dan tingginya arus mahasiswa setiap tahun, jumlah penduduk yang tinggal di Malang secara riil diperkirakan mencapai 1,2 hingga 1,5 juta jiwa.

“Dengan pertambahannya jumlah penduduk, maka kebutuhan pemukiman, infrastruktur lainnya, rumah sakit, kantor, Cafe, tumbuh. Sehingga kalau jumlah penduduk naik, maka jumlah hunian naik,” ujarnya saat dihubungi Malangpariwara, Minggu, (7/12/2025).

Kondisi ini dinilainya telah membuat lahan-lahan yang dulu mampu meresapkan air menjadi tertutup bangunan.

Dalam teori teknik air, air mengalir, debit banjir atau debit genangan itu adalah fungsi CIA.

Menurutnya, kondisi permukaan Kota Malang kini membuat koefisien pengaliran (C) hampir mencapai angka 1.

Yang berarti air hujan tidak lagi meresap ke tanah, melainkan langsung mengalir menjadi limpasan permukaan.

“C-nya 1, maka debit banjir itu akan tergantung pada hujannya. Jadi kalau hujannya semakin deras, maka air yang mengalir semakin banyak. Jadi oleh karena itu di Malang ini salah satu solusi mengendalikan jumlah penduduk, mengendalikan alih fungsi lahan,” tegas Prof. Bisri yang juga pernah menjabat sebagai staf ahli Pemkot Malang.

Langkah Penanggulangan

Sebagai langkah penanggulangan, Prof. Bisri menyebutkan empat langkah utama yang perlu dilakukan Pemkot Malang untuk mengurangi risiko banjir.

Pertama, mengendalikan jumlah penduduk, khususnya arus masuk ke Kota Malang.

Kedua, mengendalikan alih fungsi lahan, memperketat penerapan RTRW agar kawasan resapan tidak habis oleh permukiman.

Kemudian, lanjut Prof. Bisri, yang ketiga adalah menuntaskan masterplan drainase yang sudah disusun Pemkot.

Keempat, meningkatkan kesadaran masyarakat, mulai dari menjaga saluran air, tidak menutup drainase, hingga mencegah sampah masuk ke aliran air.

Prof. Bisri juga menekankan pentingnya budaya kerja bakti sebelum musim hujan.

“Angkat sampah ini perlu digalakkan lagi, apalagi sebelum musim hujan parah ini. Semua kerja bakti dengan saluran sehingga paling enggak lumayan,” ujarnya.

Prof. Bisri juga mengungkapkan tengah mengembangkan teknologi SDBSI (Saluran Drainase Berbasis Sumur Injeksi) sebagai solusi membantu mengurangi aliran air ke jalan raya.

“Nanti kalau itu bisa sukses, maka tidak ada air yang mengalir ke jalan raya,” tutup Prof. Bisri.

Tantangan Berat Kota Malang
Kota Malang Darurat Banjir Jika Populasi Penduduk Tak Dikendalikan, Ini Kata Guru Besar Teknik Pengairan Pertama di Indonesia
Anggota Komisi C DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi S.H., (Baju hitam berkopyah) menanggap banjir merupakan tantangan berat Pemkot Malang. (Ist)

Senada Anggota Komisi C Arief Wahyudi S.H., yang juga alumni UB dari FH menambahkan bahwa banjir itu menjadi tantangan berat Pemkot Malang.

Menurutnya, kalau untuk jangka panjang yang memang harus dimulai dari sekarang.

“Dengan pengendalian alih fungsi lahan dari lahan terbuka hijau menjadi lahan terbangun sudah harus dihentikan dan ini butuh keberanian dari Pemerintah,” tegas Legislator FPKB dapil Klojen.

Disamping itu menambah resapan resapan air pada banyak titik di Kota Malang kata AW harus ada perencanaan yang holistik dan menyeluruh.

Namun demikian untuk jangka pendek, pembenahan saluran drainase harus dilakukan dengan segera.

Karena delapan puluh persen saluran drainase di Kota Malang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Terutama karena sedimentasi nya sudah pada tingkat jenuh atau memenuhi 70 persen saluran yang ada.

“Disamping itu jalan air masuk ke gorong gorong harus dinormalisasi dengan membongkar bangunan permanen yang ada diatasnya,” tandas Arief Wahyudi mengakhiri. (Djoko W)