Dikritik DPRD Soal Penanganan Banjir, Wali Kota Malang: Kami Sudah Bekerja

Malangpariwara.com – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan Pemerintah Kota Malang sudah menjalankan langkah konkret dalam penanganan banjir.

Ia menanggapi kritikan DPRD yang menyebut Pemkot “harus action, bukan sekadar acting”. Kritik tersebut sebelumnya muncul dalam rapat kerja DPRD Kota Malang kemarin.

Saat ditemui Selasa (9/12/2025), Wahyu menyatakan pihaknya telah memiliki master plan drainase dan tengah menjalankan berbagai program penanggulangan banjir secara bertahap.

“Kita kurang serius bagaimana, master plan sudah kita susun. Tahun ini sudah ada proyek dari provinsi, tahun depan kita dari Bank Dunia, semuanya kan berproses,” jawab Wahyu saat ditanya soal kritik.

Kurangnya Kesadaran Masyarakat

Wahyu menekankan, sejumlah titik banjir justru dipicu timbunan sampah rumah tangga. Bahkan saat melakukan pengecekan langsung, ia mendapati tumpukan sampah hingga kasur dibuang ke saluran.

“Salurannya sudah baik, tetapi kesadaran masyarakat. Memang yang harus kita tekankan ini kesadaran masyarakat,” jelas Wahyu.

“Jembatan-jembatan sudah kita buat, kawat-kawat supaya tidak membuang sampah. Tapi kan masih terjadi itu,” imbuhnya.

Baca Juga:

DPRD Kritik Penanganan Banjir Kota Malang: Pemkot Harus Action Hasil Nyata Buktikan

Sedimentasi saluran pun disebut cepat kembali menumpuk hanya dalam hitungan minggu akibat sampah yang dibuang sembarangan.

Pemkot Malang telah menetapkan target penyelesaian master plan drainase hingga 2028.

Wahyu optimistis target itu dapat dicapai lebih cepat jika skema pembiayaan tambahan berjalan lancar. Namun, perbaikan fisik tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku masyarakat.

“Kalau sudah ini dibuat master plan yang drainase sudah siap, kesadaran masyarakatnya tetap seperti itu, ya kita akan kembali lagi seperti itu,” jelasnya lagi.

Singgung Perguruan Tinggi

Wahyu juga menyinggung perlunya perguruan tinggi ikut bertanggung jawab dalam penanganan banjir.

Ia menyebut jumlah mahasiswa di Kota Malang hampir sebanding dengan penduduk asli sehingga kontribusinya terhadap timbulan sampah cukup besar.

Ia berencana menggandeng forum rektor untuk mendorong kampus menerapkan sistem pengelolaan air.

Termasuk pembuatan sumur resapan dan sistem injeksi air hujan, agar tidak langsung membuang aliran ke drainase kota.

Terkait kekecewaan DPRD atas ketidakhadiran Sekda dalam rapat kerja, Wahyu mengaku tidak mengetahui undangan tersebut. Ia menyebut dirinya sendiri saat itu sedang berada dalam dinas luar kota.

“Saya nggak tahu, karena kemarin undangannya tidak ke saya. Ya, tapi kalau ke saya, saya perintahkan,” kata Wahyu. Ia memastikan akan mengecek kembali agenda Sekda pada hari tersebut. (Djoko W)