Malangpariwara.com – Banjir yang kembali terjadi di berbagai titik Kota Malang bukan semata-mata disebabkan kurangnya infrastruktur.
Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, M.S., IPU., dikenal sebagai inisiator dan penggagas konsep sumur injeksi (atau sumur resapan) di wilayah Malang Raya sebagai solusi penabung air dan pencegahan banjir.
Serta menjadi guru besar pengairan pertama di Indonesia yang mempopulerkan teknologi ini, yang kemudian diadopsi di berbagai daerah termasuk Jakarta bersuara terkait banjir di Kota Malang.
Mantan Rektor Universitas Brawijaya (UB) yang ahli di bidang pengelolaan air, mempromosikan gerakan GERAI (Gerakan Menabung Air) menegaskan kembali masalah banjir di Kota Malang.
Menurutnya akar persoalannya adalah tidak adanya sistem maintenance yang berjalan terus-menerus.
Urusan air dan banjir tidak bisa dibebankan hanya ke pemerintah.
āWater is everybodyās business. Air itu urusan semua orang,ā ujar Prof. Bisri memulai perbincangan, saat dihubungi Malang Pariwara Selasa (9/12/2025).
Sebab Banjir Kota Malang
Menurutnya, banjir diakibatkan oleh banyak sebab. Mulai dari sampah yang dibuang sembarangan hingga saluran yang tidak dirawat bertahun-tahun.
Karena itu, ia mendorong lahirnya sistem kerja rutin yang melekat, bukan hanya gerakan sporadis setiap kali banjir datang.
Kota Malang, lanjutnya, sebenarnya memiliki jaringan drainase yang cukup luas. Namun kualitasnya menurun karena tidak ada sistem perawatan.
āKita sudah punya banyak saluran loh sebetulnya. Tapi maintenance-nya itu yang masih kurang,ā imbuh Rektor UB periode 2014-2018 itu.
Dinilainya, banyak pekerjaan besar seperti pembangunan saluran baru akan sia-sia jika tidak disertai perawatan.
Sebetulnya Kota Malang pernah memiliki ide Satgas (Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen) GASS di tiap kelurahan. Tim kecil khusus pengelolaan drainase dan sampah sedimentasi.
Satgas GASS, kata Prof. Basri, harus dibekali alat pengeruk sedimen, alat pengambil sampah, perlengkapan kecil untuk pembersihan saluran, sampai anggaran operasional.
āSehingga sudah rutin, bukan lagi gerakan-gerakan sporadis seperti hari ini,ā tegasnya.
Konsep Satgas GASS
Ia menilai konsep ini harus benar-benar dihidupkan kembali, diperkuat, dan dibuat berjenjang. Mulai dari Satgas tingkat kelurahan, koordinator di kecamatan, hingga Satgas kota di bawah Dinas PUPR dan DLH.
Sistem ini akan membuat penanganan drainase berjalan setiap hari, bukan hanya ketika terjadi bencana.
Sehingga, ketika ada masalah, Satgas sudah hafal salurannya di mana dan apa masalahnya.
Selain itu, karena Malang adalah Kota Pendidikan, Prof. Bisri juga mendorong kolaborasi langsung antara kampus dan kelurahan.
UB, misalnya, bisa bekerja bersama wilayah-wilayah terdekat seperti Penanggungan, Gadingkasri, dan Dinoyo.
āKolaborasi digilir. Jadi sudah otomatis bisa eksekusinya per kelurahan. Tidak seluruh kota Malang. Jadi ide-idenya memang ada satgas-gas di tiap-tiap kelurahan,ā jelasnya.
Lagi, Prof. Bisri mengungkapkan solusi jangka panjang tidak cukup pada drainase makro.
Ia kini mengembangkan konsep SDBSI (Saluran Drainase Berbasis Sumur Injeksi), yaitu pola mikrodrainase yang tersebar di tingkat RT/RW.
Tujuannya, menahan air di titik terkecil dan mengurangi limpasan ke jalan, serta mempercepat surutnya genangan.
āSelama ini kita memang menangani makro. Tidak apa-apa, di jalan-jalan gede tetap jalan. Sekarang harus konsentrasi pindah ke mikrodrainasi,ā tuturnya.
Ia menegaskan, banjir tidak dapat hilang 100 persen di daerah tropis seperti Malang, namun bisa dikurangi durasi dan ketinggiannya. (Djoko W)






