Pendaftaran Ketua DPD Golkar Kota Malang Diwarnai Aspirasi PL Lima Kecamatan, Soroti Mekanisme Musda

Malangpariwara.com – Proses pendaftaran calon Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI diwarnai penyampaian aspirasi dari sejumlah Pengurus Lini (PL) tingkat Kelurahan.

Perwakilan PL dari lima kecamatan menyuarakan keberatan terhadap mekanisme Musda yang dinilai minim pelibatan akar rumput.

Aspirasi tersebut mencuat di hari pendaftaran, Sabtu (13/12/2025), yang hanya dibuka selama tiga jam, mulai pukul 12.00 hingga 15.00 WIB.

Panitia menetapkan baik pengambilan formulir maupun pengembalian berkas harus dilakukan dalam rentang waktu tersebut, dan keterlambatan dinyatakan gugur.

Tulisan-Tulisan di dinding yang menyampaikan aspirasi kepada Golkar Malang. (Djoko)

Salah satu perwakilan PL, Bambang Sugeng (PL Sukoharjo), menegaskan sikap yang disampaikan bukan bentuk penolakan terhadap calon tertentu.

Melainkan kritik terhadap pola pengambilan keputusan yang dianggap elitis.

“Kita ini ada aspirasi daripada PL-PL yang selama ini diabaikan oleh pimpinan-para pimpinan yang di atas. Jadi kita tidak pernah diajak bicara atau dimintai usulan atau apa pun mengenai masalah musda. Jadi yang di atas itu menentukan se-enaknya sendiri tanpa, mengabaikan usulan daripada kita,” ujar Bambang.

Masukan Perbaikan Tata Kelola Musda

Menurutnya, Musda semestinya dijalankan sesuai AD/ART partai dengan memberi ruang partisipasi bagi kader di tingkat bawah.

Ia menekankan bahwa seluruh bakal calon yang muncul merupakan kader berkualitas dan seharusnya diberi kesempatan yang setara.

“Lambangnya aja beringin. Kalau dipotong dahannya, nggak mungkin ringin itu mati. Tapi kalau dicabut akarnya, gimana caranya?” tegasnya.

Bambang menyebut aspirasi tersebut datang dari PL di Kecamatan Klojen, Lowokwaru, Sukun, Blimbing, dan Kedungkandang.

Salah Satu Bentuk Aspirasi Terkait Musda. (Djoko)

Selain mekanisme pendaftaran, mereka juga mempertanyakan alasan Musda digelar di luar Kota Malang, padahal situasi daerah dinilai kondusif.

“Sebenarnya kita menginginkan Musda di Kota Malang. Tapi nggak tahu kenapa, sebabnya apa kok dialihkan ke Surabaya. Padahal di sini kan situasinya kondusif. Nggak ada istilahnya, nggak ada kendala apapun. Nah itu yang kita nggak paham di sini,” katanya.

Meski demikian, Bambang menegaskan pihaknya tetap menghormati keputusan partai, termasuk jika nantinya terdapat penunjukan dari pusat.

Namun ia berharap suara kader akar rumput tetap menjadi bahan pertimbangan.

“Kita bukan protes. Cuma kita hanya meluruskan aspirasi kita seperti ini. Itu pesan moral-lah istilahnya,” tandasnya diamini Pl.lainnya.(Djoko W)