Malangpariwara.com – Di tengah hiruk pikuk Lumajang Jawa Timur, ada sebuah kampung kecil di Kelurahan Ditotrunan yang justru mencuri perhatian lewat inovasi berbasis kearifan lokal. Kampung Lempeni, namanya.
Berada di wilayah RW 02, sesuai dengan namanya, kampung itu berhasil mengembangkan Kopi Lempeni. Minuman tradisional berkhasiat hasil kolaborasi buah kopi dengan tanaman lempeni.
Kopi Lempeni dikenal memiliki rasa kuat, aroma khas, dan tingkat keasaman seimbang.
Proses pengolahannya masih dilakukan secara tradisional dan alami tanpa bahan kimia. Menjadikannya tidak hanya nikmat tetapi juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan.
Tanaman lempeni sendiri merupakan tanaman herbal yang telah lama diyakini warga memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh.
Inisiatif Budidaya
Awalnya, di Kampung Lempeni hanya ada dua tanaman lempeni. Namun berkat inisiatif warga, kini tanaman tersebut tumbuh subur dan menjadi identitas kampung.

Ketua RW 02 Kampung Lempeni, Susiami, mengatakan budidaya lempeni dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan sekaligus untuk memberdayakan warga.
“Untuk lebih mengembangkan tanaman lempeni sebagai peningkatan ekonomi warga, maka kita berusaha menginovasi tanaman lempeni menjadi berbagai produk lempeni. Tujuannya agar bisa dinikmati oleh pengunjung yang datang ke kampung lempeni maupun masyarakat luas,” ujar perempuan yang akrab disapa Ciamy itu.

Budidaya dilakukan dengan menanam tanaman lempeni di sepanjang gang, pinggir jalan raya, hingga halaman rumah warga.
Bahkan, Kampung Lempeni rutin menggelar lomba rumah hijau, dengan syarat setiap rumah wajib memiliki tanaman lempeni selain tanaman hias dan toga.
Olahan Produk Lempeni
Tak berhenti pada budidaya, warga RW 02 juga mengembangkan berbagai produk olahan lempeni.
Mulai dari minuman herbal, daun kering, selai, keripang, peyek, mutmutan, teh, hingga kopi Lempeni yang kini menjadi produk unggulan kampung.
Produk-produk tersebut telah dipasarkan melalui UMKM, warung, hingga online shop dan dinikmati masyarakat di luar Pulau Jawa.

Berkat konsistensi tersebut, RW 02 kini dikenal sebagai Kampung Lempeni dengan ikon L BIR (Lingkungan Bersih, Indah, dan Rapi) serta jargon khas “SemPak TeLes” (Semangat Kompak Tanpa Malas).
Selain sebagai sentra produksi minuman herbal, Kampung Lempeni juga berkembang menjadi wisata edukasi lingkungan.
Berbagai kalangan pengunjung, mulai dari pelajar PAUD hingga perguruan tinggi, ibu-ibu PKK, instansi, hingga lembaga dari tingkat kabupaten dan provinsi kerap berkunjung.
Tujuannya untuk studi tiru belajar pengelolaan bank sampah dan pengembangan tanaman herbal.
Baca Juga:
Cerita Kampung Darling Tangerang: Gerakan Pilah Sampah untuk Jaga Bumi
Di media sosial, aktivitas warga Kampung Lempeni juga aktif dibagikan melalui akun Instagram @lempenirw2.
Mulai dari kegiatan pengemasan daun lempeni sebagai obat herbal hingga ajakan menanam lempeni demi kesehatan dan ekonomi warga.

Kopi Lempeni dan produk turunannya dipercaya memiliki berbagai manfaat.
Di antaranya meningkatkan daya tahan tubuh, menyehatkan jantung, membantu pencernaan, menambah stamina, hingga membantu pemulihan pasca sakit.
“Inilah semangat warga Kampung Lempeni untuk proklim Lestari yang berkelanjutan,” tandas Ciamy, seperti tertulis dalam unggahan akun Instagram @lempenirw2. (Djoko W)






