Kanjuruhan Fashion Kalcer Tampilkan Keunikan Gaun Batik Tulis Légat Légot

Malangpariwara.com – Booth Batik Légat Légot turut meramaikan acara Kanjuruhan Fashion Kalcer yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada Rabu (24/12/2025).

Kehadiran Légat Légot menjadi salah satu daya tarik pengunjung karena menampilkan gaun batik tulis dengan teknik yang unik dan proses pengerjaan yang tidak sederhana.

Owner Batik Légat Légot, M. Rizal Nur Abadi, menjelaskan bahwa usahanya saat ini lebih berfokus pada batik tulis dengan pengembangan desain ke arah busana gaun. Menurutnya, batik yang ia kerjakan tidak hanya berupa kain, tetapi dirancang khusus mengikuti pola busana tertentu.

“Untuk usaha batik ini saya lebih fokus ke batik tulisnya. Ke depannya saya memang ingin mengembangkan ke gaun gaun batik dengan teknik khusus dan pola yang unik. Di booth ini belum semua gaun ditampilkan karena prosesnya lebih lama dibanding batik biasa,” ujarnya.

Rizal mengaku mulai terjun ke dunia batik sejak tahun 2019. Berawal dari mengenal batik dan mengikuti berbagai perlombaan, ia pernah meraih juara satu lomba batik di DISPERINDAG Kabupaten Malang.

Dari prestasi tersebut, ia kemudian direkrut oleh beberapa dinas untuk menjadi instruktur batik.

“Setelah ikut lomba dan juara, saya direkrut jadi instruktur. Saya pegang satu kecamatan satu kabupaten, lalu karena sudah tersertifikasi BNSP, saya juga jadi instruktur batik tulis di Kementerian Perindustrian tahun 2022 sampai 2023,” jelasnya.

Pada bazar ini, Batik Légat Légot menampilkan berbagai motif yang masih bersifat abstrak dan campuran. Selain batik tulis, terdapat pula batik dengan pewarna alam yang berasal dari kayu dan daun. Ia menyebut teknik ini sebagai ecoprint kombinasi.

“Kalau yang di bazar ini motifnya masih campur, ada batik tulis dan ada juga warna alam. Ini dari daun, seperti ecoprint, tapi tetap dilanjutkan dengan pencantingan dan pewarna alam, jadi garis putihnya lebih menonjol,” terang Rizal.

Durasi pengerjaan gaun

Dari sisi waktu pengerjaan, Rizal menjelaskan bahwa batik paling sederhana bisa selesai dalam satu hingga dua hari. Namun, untuk busana dengan detail rumit, prosesnya bisa mencapai dua minggu hingga satu bulan.

“Kalau yang detail, mini dress bisa dua minggu, kalau yang panjang bisa sampai satu bulan. Bahkan satu kain bisa melalui proses canting berulang sampai lima kali. Proses panjang inilah yang membuat harga batik tulis menjadi lebih mahal,” jelasnya.

Ia menilai antusiasme pengunjung terhadap bazar cukup tinggi, sehingga tertarik ikut serta untuk memperkenalkan gaun batik tulis kepada masyarakat luas.

“Saya lihat antusiasnya besar sekali, makanya saya ingin mencoba peruntungan di sini sekaligus mengenalkan batik tulis ke masyarakat,” ujarnya.

Tantangan terbesar

Meski demikian, Rizal mengakui tantangan terbesar dalam usahanya adalah sumber daya manusia, khususnya pada proses pencantingan halus.

“Kalau pekerja, kebanyakan dari tetangga sekitar. Yang paling sulit itu pencantingan halus. Untuk kualitas bagus, biasanya saya canting sendiri karena sulit mencari yang benar benar halus,” ungkapnya.

Melalui Batik Légat Légot, Rizal berharap generasi muda bisa lebih memahami perbedaan antara batik asli dan kain bermotif batik. Ia juga ingin menghadirkan desain batik yang lebih sederhana dan casual agar terjangkau oleh anak muda.

“Harapan saya bisa terus mengedukasi, terutama anak anak dan generasi muda, supaya paham mana batik yang benar benar melalui proses pencantingan. Ke depan saya juga ingin membuat desain batik yang simpel, casual, dan bisa menyentuh semua kalangan,” pungkasnya. (Djoko W)