Resmikan Infectious Disease Center, UB Perkuat Peran Strategis di Sistem Kesehatan Nasional

Malangpariwara.com – Universitas Brawijaya (UB) menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional melalui pengembangan riset unggulan dan fasilitas layanan kesehatan terpadu. Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, dalam peresmian Infectious Disease Center di RS UB.

Peresmian ini juga dihadiri Duta Besar Jerman untuk Indonesia, HE Ralf Beste pada Sabtu (10/1/2026).

Prof. Widodo menyampaikan bahwa UB memiliki sejumlah research center yang berfokus pada bidang kesehatan dan siap bersinergi dengan pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan.

Menurutnya, terdapat tiga isu kesehatan strategis yang menjadi perhatian UB, salah satunya adalah kanker.

Resmikan Infectious Disease Center, UB Perkuat Peran Strategis di Sistem Kesehatan Nasional
Rektor UB (batik hitam) saat bertemu dengan awak media. (Djoko W)

“Untuk bidang kanker, kami memiliki banyak pakar. Bahkan kami sedang berdiskusi untuk mengembangkan klinik imunoterapi kanker, apabila mendapat dukungan dan izin dari pihak terkait,” ujarnya.

Kembangkan Riset Vaksin

Selain itu, UB juga aktif mengembangkan riset vaksin. Prof. Widodo menjelaskan bahwa para peneliti UB tengah mengembangkan berbagai jenis vaksin.

Mulai dari vaksin konvensional, vaksin rekombinan, hingga vaksin berbasis RNA.

“Karena itu kami sangat berharap dukungan dari berbagai pihak agar riset-riset ini dapat berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Resmikan Infectious Disease Center, UB Perkuat Peran Strategis di Sistem Kesehatan Nasional
Beberapa pusat layanan infeksius yang diresmikan di RS UB. (Djoko W)

Dalam sambutannya, Prof. Widodo menegaskan bahwa peresmian Infectious Disease Center tidak hanya menjadi pembukaan fasilitas baru.

Tetapi juga menandai komitmen strategis UB terhadap ilmu pengetahuan, kolaborasi, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga kesehatan publik.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah peneliti UB telah memperoleh pendanaan dari Eropa untuk pengembangan sistem kesehatan publik yang berkelanjutan.

“Pandemi global telah mengingatkan kita bahwa penyakit menular tidak mengenal batas negara. Dampaknya tidak hanya pada sistem kesehatan, tetapi juga pada perekonomian,” ucapnya.

Pentingnya Kolaborasi Internasional
Resmikan Infectious Disease Center, UB Perkuat Peran Strategis di Sistem Kesehatan Nasional
Duta Besar Jerman, HE Ralf Beste, saat memberikan sambutan pada peresmian. (Djoko W)

Hal senada disampaikan Duta Besar Jerman untuk Indonesia, HE Ralf Beste. Ia menekankan bahwa sejak pandemi, dunia semakin menyadari bahwa penyakit tidak mengenal batas wilayah.

Sehingga kolaborasi internasional di bidang kesehatan menjadi sangat penting.

“Karena itu, pemerintah Jerman dan Uni Eropa bekerja sama dengan Indonesia di bidang kesehatan. Kami bangga dapat berkontribusi dalam pembukaan pusat penyakit menular ini,” ujarnya.

Ralf Beste juga membagikan pengalamannya saat awal pandemi COVID-19 di Eropa, yang menurutnya menjadi pelajaran penting tentang betapa cepatnya penyakit menyebar lintas negara.

Ia menyinggung keberhasilan ilmuwan Jerman dalam mengembangkan vaksin BioNTech dalam waktu singkat sebagai bukti kekuatan riset dan kolaborasi ilmiah global.

“Kisah ini menunjukkan kekuatan ilmuwan dan pentingnya kerja sama lintas negara. Akademia memiliki peran besar untuk bersiap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan,” katanya.

Resmikan Infectious Disease Center, UB Perkuat Peran Strategis di Sistem Kesehatan Nasional
Kunjungan ruangan sesaat setelah acara peresmian. (Djoko W)

Peresmian Infectious Disease Center ini diharapkan menjadi tonggak penguatan kolaborasi antara Universitas Brawijaya, pemerintah, dan mitra internasional.

Terutama dalam menghadapi tantangan penyakit menular serta memperkuat sistem kesehatan berkelanjutan di Indonesia. (Djoko W)