20 Tahun Tak Pernah Surut, Bidan Yuliana Jadikan Desa Ngabab Lumbung Donor Darah Sukarela

Malangpariwara.com — Konsistensi dan ketulusan pengabdian Bidan Yuliana, bidan Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, membuahkan hasil nyata. Selama lebih dari dua dekade, ia tanpa lelah menggerakkan warga desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani untuk rutin mengikuti donor darah sukarela Desa Ngabab.

Atas dedikasi tersebut, Yuliana dinobatkan sebagai salah satu bidan penggerak donor darah terbaik tingkat nasional.

Pengakuan itu terungkap saat wawancara di kediamannya di Desa Ngabab, Kamis (15/1/2026).

Yuliana menuturkan, membangun kesadaran warga untuk mendonorkan darah sejak awal bukan perkara mudah. Pada masa-masa awal gerakan, jumlah pendonor hanya berkisar 30 orang.

Namun, berkat pendekatan yang konsisten dan dilakukan secara berkelanjutan, jumlah pendonor terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 250 orang aktif dalam setiap kegiatan.

“Awalnya berat, tapi saya tidak pernah lelah mengajak. Kuncinya memang harus terus dan terus diingatkan,” ujar Yuliana.

Dilirik Pusat PDDI

Gerakan kemanusiaan yang dirintisnya bahkan menarik perhatian pimpinan pusat Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI).

Kunjungan Ketua PDDI Pusat Komjenpol Adang Daradjatun, yang juga pernah menjabat sebagai Wakapolri.

Menjadi salah satu momentum penting yang mendorong peningkatan signifikan jumlah pendonor di Desa Ngabab.

Sebagai bidan desa, Yuliana memanfaatkan kedekatan emosional dengan masyarakat, khususnya kaum perempuan.

Ia secara aktif memberikan edukasi tentang manfaat donor darah kepada pasien KB suntik yang rutin datang ke tempat praktiknya.

Edukasi tersebut disampaikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

“Sumur itu kalau sering diambil airnya justru lebih bersih. Begitu juga darah, kalau didonorkan, tubuh akan memproduksi darah baru yang lebih sehat,” jelasnya.

Gandeng Kader Kesehatan Desa

Tak berhenti di situ, Yuliana juga melibatkan kader kesehatan desa sebagai penggerak lapangan. Para kader diminta mengajak satu warga, lalu warga tersebut mengajak orang lain secara berantai.

Pola ini dinilai efektif menumbuhkan kesadaran kolektif dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Berbagai cara pun ditempuh, termasuk pengumuman keliling melalui pengeras suara masjid.

Meski sempat menimbulkan pro dan kontra karena identik dengan pengumuman duka, langkah tersebut tetap dijalankan dengan dukungan pemerintah desa.

Dalam praktiknya, Yuliana juga memberi perhatian khusus pada kondisi kesehatan calon pendonor.

Ia aktif memantau tekanan darah dan kadar hemoglobin (HB), sekaligus memberikan solusi bagi warga yang belum memenuhi syarat medis.

“Kalau HB turun, saya kasih tablet tambah darah dan sarankan konsumsi kacang hijau, bayam, serta daging. Biasanya satu bulan sudah bisa donor lagi,” tuturnya.

Sementara bagi pendonor pria dengan kadar HB terlalu tinggi, Yuliana menyarankan untuk memperbanyak minum air putih dan mengurangi begadang.

Pendekatan personal ini terbukti mampu menekan angka penolakan pendonor dari tahun ke tahun.

Saat ini, kegiatan donor darah di Desa Ngabab digelar rutin dengan sistem dua gelombang setiap bulan, menyesuaikan tingginya antusiasme warga.

Menariknya, meski tanpa iming-iming hadiah, jumlah pendonor tetap stabil di atas seratus orang setiap kegiatan.

“Bagi saya, ini soal kemanusiaan. Donor darah itu sehat dan bermanfaat untuk orang lain. Kalau niatnya sudah sampai ke situ, iming-iming tidak lagi penting,” pungkas Yuliana.

Dedikasi Bidan Yuliana menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari desa, melalui ketulusan, kesabaran, dan kepedulian yang terus dirawat tanpa henti. (Djoko W)