Transformasi Perpustakaan Kampus Bisa Jadi Penerbit, Tak Sekadar Pembeli Buku

Malangpariwara.com – Perpustakaan perguruan tinggi selama ini identik sebagai “pembeli setia” buku dari industri penerbitan. Setiap tahun anggaran digelontorkan untuk koleksi baru.

Meskipun tak jarang buku yang dibeli cepat usang atau kurang relevan dengan kebutuhan riset dan perkuliahan.

Di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan dorongan keterbukaan akses ilmu pengetahuan, muncul gagasan baru yakni perpustakaan kampus tak harus selalu menjadi konsumen.

Dengan pengelolaan yang tepat, perpustakaan justru berpeluang bertransformasi menjadi produsen pengetahuan melalui penerbitan internal.

Selama ini, model pengadaan buku konvensional membuat perpustakaan bersifat reaktif.

Koleksi ditentukan oleh katalog penerbit dan ketersediaan dana tahunan, sementara perkembangan ilmu bergerak sangat cepat.

Ketergantungan pada penerbit komersial juga membuat harga buku akademik relatif tinggi, sehingga akses mahasiswa dan peneliti menjadi terbatas.

Banyaknya Karya Akademik yang Terabaikan

Padahal, setiap tahun kampus menghasilkan ribuan karya ilmiah, mulai dari skripsi, tesis, disertasi, modul pembelajaran, laporan penelitian, hingga artikel jurnal.

Sayangnya, sebagian besar hanya tersimpan di repositori digital tanpa proses kurasi dan penyuntingan lanjutan agar layak terbit sebagai buku referensi.

Di sinilah peluang itu muncul. Dengan pendekatan open access, perpustakaan tidak hanya menyediakan akses bacaan.

Tetapi juga bisa mengambil peran sebagai penerbit buku akademik berbasis karya internal kampus. Prinsip ini sejalan dengan semangat keadilan pengetahuan, terutama bagi perguruan tinggi negeri.

Di mana hasil riset yang didanai publik idealnya dapat diakses kembali oleh masyarakat luas tanpa hambatan biaya.

Tren Perpustaakan sebagai Penerbit

Tren global menunjukkan model ini bukan sekadar wacana. Sejumlah universitas di dunia telah mengembangkan library publishing, yakni unit penerbitan yang dikelola perpustakaan.

Keunggulan perpustakaan terletak pada pengelolaan metadata, preservasi digital, serta distribusi akses.

Jika dipadukan dengan sistem editorial dan peer review yang kredibel, fungsi penerbitan dapat berjalan profesional.

Selain itu, skema pembiayaan inovatif seperti Subscribe to Open (S2O) juga memperlihatkan bahwa penerbitan terbuka dapat didukung secara kolektif tanpa membebani penulis maupun pembaca.

Model swasembada buku ini menawarkan sejumlah keuntungan strategis. Anggaran pengadaan dapat dialihkan sebagian untuk produksi buku kampus sendiri.

Konten yang diterbitkan pun lebih relevan dengan kurikulum dan riset internal. Buku dapat dipublikasikan secara terbuka untuk meningkatkan visibilitas institusi.

Sekaligus mendorong budaya akademik yang lebih produktif.

Tantangan Tranformasi

Meski demikian, transformasi ini bukan tanpa tantangan. Kesiapan naskah, kebutuhan penyuntingan substansial, sistem penilaian ilmiah, hingga pendanaan berkelanjutan menjadi hal yang perlu dipersiapkan.

Perubahan paradigma juga dibutuhkan, dari melihat perpustakaan sebagai pengelola koleksi menjadi pusat produksi pengetahuan.

Langkah realistis yang bisa ditempuh adalah membentuk unit editorial di bawah struktur perpustakaan. Pustakawan dapat mengambil peran baru sebagai editor, pengelola metadata, sekaligus penghubung penerbitan.

Dukungan infrastruktur digital, seperti sistem manajemen naskah dan platform penerbitan daring, juga menjadi kunci.

Jika dikelola serius, perpustakaan kampus berpeluang menjadi pionir swasembada buku tak lagi sekadar menunggu pasar, tetapi aktif mengkurasi dan menerbitkan karya terbaik dari sivitas akademika.

Transformasi ini bukan hanya soal efisiensi, melainkan strategi jangka panjang untuk memperluas dampak riset.

Juga emperkuat reputasi institusi dan mendukung pemerataan akses pengetahuan sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. (Djoko W)