Malangpariwara.com – Ikatan Alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (IKA MIPA UB) kembali menyelenggarakan kegiatan diskusi inspiratif bertajuk NGOPI SAM (Ngobrol Pintar Sesama Alumni) edisi Maret 2026.
Kegiatan ini mengangkat tema “Pertumbuhan, Kreativitas, dan Kesuksesan” serta diikuti oleh alumni FMIPA Universitas Brawijaya dari berbagai angkatan dan latar belakang profesi.
Acara yang digelar pada Jumat (13/o3/2026) pukul 16.00 WIB yang di hadiri jajaran dekanat FMIPA tersebut diselenggarakan secara daring.
Sehingga memungkinkan para alumni yang berada di berbagai daerah di Indonesia maupun di luar negeri untuk tetap berpartisipasi dan mengikuti diskusi secara interaktif.
Dalam kegiatan ini, ketua panitia NGOPI SAM Zulfaidah Penata Gama, S.Si., M.Si., Ph.D Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumberdaya/Ex-Officio.
Di mana menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Prof. Akhmad Sabarudin, Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Brawijaya.
Serta Chaerul Firmansyah, Vice President TexCal Energy Inc. yang juga merupakan alumni Teknik Geofisika Universitas Brawijaya angkatan 2003.
Chaerul Firmansyah, Vice President TexCal Energy Inc. yang juga merupakan alumni Teknik Geofisika Universitas Brawijaya angkatan 2003.
Ia memberikan motivasi kepada mahasiswa yang masih menuntut ilmu agar mempunya tujuan setelah lulus nanti.

“Motivasi diri penting. Buang mindset bahwa lulusan dari FMIPA UB akan menjadi pendidik (Guru) di bidangnya. Cari informasi diluar. Tentukan akan kemana nanti setelah lulus. Gantungkan cita-cita raih masadepan yang sudah menjadi tujuan akhir,” Beber Vice President TexCal Energy Inc. Itu.
Melalui forum diskusi tersebut, para narasumber berbagi pengalaman serta pandangan mengenai pentingnya pertumbuhan diri dan kreativitas dalam menghadapi tantangan.
Juga erta strategi meraih kesuksesan baik di dunia akademik maupun profesional.
Kehadiran kedua tokoh tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan sekaligus motivasi bagi para alumni yang mengikuti kegiatan ini.
Program Rutinan IKA FMIPA UB
Zulfaidah menyampaikan bahwa NGOPI SAM merupakan salah satu program rutin IKA MIPA UB yang bertujuan mempererat hubungan antaralumni.
Sekaligus menjadi wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap alumni MIPA UB dapat terus saling terhubung, berbagi inspirasi, serta bersama-sama berkembang dalam berbagai bidang,” ujarnya.
“Selain mempererat silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat jejaring alumni. Serta mendorong kolaborasi antara alumni, akademisi, dan profesional di berbagai sektor,” timpal Dekan FMIPA Prof Sukir.
Antusiasme peserta yang mengikuti diskusi menunjukkan bahwa forum seperti NGOPI SAM sangat dibutuhkan sebagai ruang belajar, berbagi pengalaman, sekaligus membangun jaringan profesional.
“IKA MIPA UB berharap melalui kegiatan ini semangat kebersamaan dan kekeluargaan antar alumni dapat terus terjaga. Sekaligus memberikan manfaat nyata bagi pengembangan diri maupun karier para alumni,” tandas Prof Sukir.
Inovasi Deteksi Dini Penyakit Ginjal oleh Prof. Akhmad Sabarudin
Pada edisi kedua NGOPI SAM tahun 2026 ini, peserta juga mendapatkan paparan ilmiah dari Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc.,
Ia adalah seorang Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Brawijaya sekaligus alumni S1 Kimia angkatan 1992.
Ia dikenal sebagai peneliti yang telah meraih berbagai penghargaan ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam pemaparannya, Prof. Akhmad Sabarudin memperkenalkan inovasi riset berupa alat deteksi dini penyakit ginjal yang lebih cepat, murah, dan portabel.
Sehingga berpotensi memperluas akses pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat.
Krisis Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring limbah dari darah.
Ketika fungsi ginjal menurun, seseorang dapat mengalami penyakit ginjal atau nefropati yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.
Di Indonesia, jumlah pasien gagal ginjal yang harus menjalani terapi cuci darah (hemodialisis) terus meningkat.
Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan bahwa jumlah penderita penyakit ginjal kronis meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2013.
Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan deteksi dini. Banyak pasien baru menyadari penyakitnya ketika sudah memasuki tahap lanjut.
Padahal, jika diketahui sejak awal, perkembangan penyakit ginjal dapat diperlambat bahkan dicegah.
Mengembangkan Alat Skrining yang Sederhana dan Portabel
Sejak tahun 2018, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Akhmad Sabarudin mengembangkan alat deteksi dini gangguan ginjal yang sederhana, murah, dan mudah dibawa ke mana-mana.
Konsep alat ini mirip dengan alat tes kehamilan, namun digunakan untuk memeriksa kesehatan ginjal melalui sampel urin.
Alat tersebut dirancang untuk mengukur Rasio Albumin-Kreatinin (ACR) dalam urin, yang merupakan indikator penting untuk mendeteksi kebocoran protein pada ginjal.
Pemeriksaan ini cukup menggunakan sampel urin sewaktu, tanpa perlu pengumpulan urin selama 24 jam seperti pada metode konvensional.
Metode pemeriksaan di rumah sakit memang memiliki tingkat akurasi tinggi, tetapi memerlukan alat laboratorium yang mahal dan tenaga ahli.
Hal ini membuat pemeriksaan sulit dijangkau oleh fasilitas kesehatan primer atau masyarakat di daerah terpencil.

Teknologi Berbasis Kertas dan Partikel Emas
Inovasi yang dikembangkan tim peneliti menggunakan teknologi microfluidic paper-based analytical devices (µPADs).
Yaitu perangkat diagnostik berbasis kertas dengan saluran mikro yang memungkinkan sampel urin mengalir dan bereaksi dengan reagen kimia tertentu.
Hasil pemeriksaan dapat diamati melalui dua indikator utama, yaitu:
Perubahan warna, di mana intensitas warna menunjukkan kadar zat yang terdeteksi.
Jarak rambatan warna, yaitu seberapa jauh warna meresap pada media kertas yang menggambarkan konsentrasi zat dalam sampel.
Untuk meningkatkan akurasi, tim peneliti menambahkan partikel emas berukuran nano (AuNPs) yang mampu menghasilkan batas warna yang lebih jelas ketika bereaksi dengan albumin dan kreatinin dalam urin.
Selain itu, mereka juga mengembangkan desain alat dengan konektor tiga dimensi (3D) yang berfungsi mengatur aliran sampel sehingga reaksi kimia berlangsung lebih stabil dan presisi.
Inovasi ini kemudian dikenal sebagai 3D-µPADs.
Akurasi Tinggi dan Potensi Integrasi Kecerdasan Buatan
Dalam uji coba terhadap 100 sampel urin pasien di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, alat ini menunjukkan tingkat akurasi mencapai 93,48 persen.
Mendekati akurasi alat standar laboratorium rumah sakit seperti ROCHE COBAS c503.
Ke depan, tim peneliti juga berencana mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (machine learning) untuk membaca hasil tes secara otomatis melalui analisis citra.
Dengan pendekatan ini, interpretasi hasil dapat menjadi lebih objektif dan konsisten.
Algoritma seperti Random Forest dan Support Vector Machine akan dilatih menggunakan ribuan data gambar hasil tes sehingga mampu mengklasifikasikan rasio albumin-kreatinin dengan lebih akurat.
Menuju Skrining Ginjal yang Lebih Mudah Diakses
Integrasi teknologi ini menghasilkan sistem deteksi dini nefropati dengan tiga keunggulan utama:
Akurasi dan stabilitas tinggi, berkat desain 3D dan penggunaan partikel emas nano.
Interpretasi objektif, melalui bantuan kecerdasan buatan.
Praktis dan portabel, sehingga dapat digunakan di komunitas, fasilitas kesehatan primer, maupun daerah terpencil tanpa memerlukan laboratorium canggih.
Ke depan, inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi alat skrining penyakit ginjal.Tetapi juga menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan menuju sistem yang lebih prediktif, preventif, dan presisi.
Inovasi sederhana berbasis kertas dan partikel emas ini berpotensi menjadi langkah besar dalam upaya meningkatkan deteksi dini penyakit ginjal.
Serta membantu menyelamatkan jutaan orang dari risiko gagal ginjal melalui pemeriksaan yang lebih cepat dan terjangkau. (Djoko W)






