Malangpariwara.com – Ratusan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kegiatan i’tikaf dan salat malam pada 13–14 Maret 2026.
Kegiatan ini dimaknai sebagai retret spiritual untuk menata kembali kesadaran bahwa bekerja juga merupakan bagian dari ibadah.
Melalui kegiatan tersebut, UMM menghadirkan ruang refleksi bersama bagi civitas akademika untuk memperdalam makna pengabdian di lingkungan pendidikan.
Dalam suasana yang khidmat, para peserta mengikuti rangkaian ibadah malam sebagai momentum menenangkan diri.
Sekaligus menguatkan kembali nilai-nilai spiritual dalam menjalankan tugas di perguruan tinggi.
Gunakan Seragam Batik Universitas
Menariknya, seluruh peserta hadir mengenakan seragam batik pegawai universitas.
Kehadiran seragam tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus identitas institusi dalam membangun kekuatan spiritual secara kolektif di lingkungan kampus.
Bagi UMM, penguatan spiritual tidak hanya dimaknai sebagai pengalaman personal. Tetapi juga sebagai energi bersama yang diharapkan mampu memperkuat semangat pengabdian civitas akademika.
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik, dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun kekuatan ruhaniah sebagai landasan dalam bekerja dan berkarya.
Menurutnya, institusi pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan capaian akademik, tetapi juga menghadirkan nilai serta makna dalam setiap aktivitas yang dijalankan.
Ia menjelaskan bahwa UMM berupaya membangun kekuatan alamiah dalam diri setiap civitas akademika agar mampu berkiprah secara lebih bermakna dalam menjalankan peran pendidikan.
Dalam pandangannya, pekerjaan di dunia pendidikan sejatinya merupakan bentuk pengabdian yang memiliki nilai ibadah apabila dilandasi kesadaran spiritual yang kuat.
“Fondasi bekerja itu adalah ibadah. Karena itu, Ramadan menjadi momentum penting untuk mengasah dan memperkuat nilai tersebut,” ujarnya.

Hal untuk Tingkatkan Kualitas Kerja
Lebih lanjut, Nazaruddin Malik menyampaikan bahwa terdapat tiga hal utama yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas kerja sebagai ibadah.
Pertama adalah menghadirkan kesadaran akan pengawasan ilahi yang akan melahirkan integritas tinggi dalam menjalankan tugas.
Kesadaran tersebut secara alami akan menumbuhkan tanggung jawab dalam bekerja.
Selain itu, civitas akademika juga diingatkan untuk tetap menjaga kewajiban spiritual di tengah kesibukan pekerjaan. Sehingga keseimbangan antara aktivitas profesional dan ibadah dapat terjaga.
Sementara itu, aspek ketiga adalah memastikan kualitas kerja yang terus meningkat sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada institusi maupun masyarakat.
Melalui kegiatan i’tikaf yang dimaknai sebagai retret spiritual tersebut, UMM berharap energi positif yang lahir dari aktivitas ibadah dapat terus menguatkan semangat pengabdian civitas akademika.
Dengan fondasi spiritual yang kuat, setiap individu diharapkan mampu menjalankan tugas dengan kesadaran bahwa bekerja bukan sekadar rutinitas.
Melainkan juga bagian dari ibadah serta kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan masyarakat. (Djoko W)






