Malangpariwara.com – Momen Lebaran yang identik dengan silaturahmi ternyata juga menyimpan potensi risiko kesehatan, terutama terkait risiko campak pada bayi.
Tingginya mobilitas masyarakat saat mudik hingga intensitas pertemuan keluarga dinilai dapat mempercepat penyebaran penyakit menular, salah satunya campak.
Kondisi ini menjadi perhatian karena anak-anak, khususnya bayi, termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi.
Keramaian di transportasi umum maupun interaksi dalam keluarga besar berpotensi meningkatkan risiko penularan.
Menanggapi hal tersebut, dosen kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus dokter spesialis anak, Dr. dr. Pertiwi Febriana Chandrawati, M.Sc., Sp.A, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada.
Terutama terhadap penyebaran campak selama momen Lebaran.

Menurutnya, campak merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular, terutama di lingkungan dengan interaksi sosial yang tinggi.
Penularan dapat terjadi melalui percikan droplet saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara.
Selain itu, virus campak juga dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu setelah penderita meninggalkan ruangan.
Hal ini membuat berbagai aktivitas seperti perjalanan mudik, penggunaan transportasi umum, hingga pertemuan keluarga besar menjadi faktor risiko penyebaran.
“Mobilitas masyarakat saat mudik memang dapat meningkatkan potensi penyebaran campak. Terutama karena banyak interaksi di ruang tertutup seperti transportasi umum maupun kerumunan keluarga,” jelasnya Selasa (17/03/2026).
Anak-Anak Rentan Tertular
Ia menambahkan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
Kondisi tersebut membuat anak lebih mudah tertular ketika berada di lingkungan dengan tingkat interaksi tinggi.
Di samping itu, faktor nutrisi juga turut memengaruhi daya tahan tubuh anak.
Kekurangan nutrisi tertentu dapat memperburuk kondisi ketika anak terpapar virus campak. Bahkan berisiko memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga infeksi pada sistem saraf.
Lebih lanjut, kebiasaan masyarakat saat Lebaran juga dinilai berpotensi meningkatkan risiko penularan.
Interaksi spontan seperti menggendong atau mencium bayi sebaiknya mulai dibatasi demi menjaga kesehatan anak.
“Kebiasaan memeluk, menggendong, atau mencium bayi dapat meningkatkan peluang penularan penyakit yang menyebar melalui droplet,” ujarnya.
Gejala Terdampak Virus Campak
Apabila anak terpapar virus campak, gejala umumnya tidak langsung muncul. Biasanya terdapat masa inkubasi sekitar 10 hingga 12 hari sebelum tanda penyakit terlihat.
Setelah itu, anak dapat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam pada kulit. Pada fase awal tersebut, anak bahkan sudah dapat menularkan virus kepada orang lain.
Karena itu, orang tua diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala yang mengarah pada campak. Layaknya seperti demam, batuk, pilek, atau ruam.
Pertiwi juga menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal.
“Imunisasi campak adalah perlindungan terbaik agar anak memiliki imunitas yang kuat dan terhindar dari komplikasi berat,” tuturnya.
Melalui edukasi kesehatan yang terus dilakukan, Universitas Muhammadiyah Malang berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menyikapi interaksi saat Lebaran secara bijak.
Dengan menjaga kebersihan, membatasi kontak langsung dengan bayi, serta memastikan imunisasi lengkap.
Keluarga tetap dapat merayakan Lebaran dengan aman tanpa mengabaikan risiko penularan penyakit. (Djoko W)






