Busana Khas Malangan Resmi Diperkenalkan, Angkat Nuansa Kolonial dan Filosofi Lokal

Malangpariwara.com – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang dimanfaatkan Pemerintah Kota Malang untuk memperkenalkan busana khas daerah yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Peluncuran yang berlangsung pada 1 April 2026 ini menghadirkan konsep unik dengan mengadaptasi gaya berpakaian era kolonial Belanda.

Busana khas Malangan tersebut dirancang dalam lima tingkatan atau strata, yang masing-masing memiliki perbedaan desain serta peruntukan.

Peragakan busana khas malangan menurut strata.(Djoko W)

Tingkatan tertinggi diperuntukkan bagi Wali Kota, diikuti Wakil Wali Kota pada strata kedua.

Sementara strata ketiga dikenakan oleh Sekretaris Daerah, kepala dinas, serta jajaran Forkopimda.

Untuk strata keempat, busana diperuntukkan bagi pejabat eselon III seperti camat dan kepala bidang.

Sedangkan strata kelima ditujukan bagi eselon IV, staf pemerintahan, hingga masyarakat umum.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana, mengungkapkan bahwa perancangan busana ini didasarkan pada kajian historis dan sosial budaya masyarakat Malang.

Ia menjelaskan, pada masa kolonial, busana pejabat identik dengan jas hitam, kemeja putih berkerah tinggi, serta kain batik panjang sebagai bawahan.

“Busana tersebut dilengkapi aksesori seperti selempang dan sabuk khusus, serta penutup kepala berupa topi pet. Itu menjadi inspirasi utama dalam desain yang sekarang,” ujarnya.

Namun, dalam praktiknya di masa lalu, penggunaan kain panjang dinilai kurang praktis untuk aktivitas lapangan.

Oleh karena itu, terjadi penyesuaian dengan penggunaan celana panjang hitam agar lebih fleksibel dan mendukung mobilitas.

Lebih lanjut, Suwarjana menyebut desain ini juga terinspirasi dari sosok Raden Adipati Aryo Suryo Adiningrat atau Raden Saleh, yang pernah menjabat sebagai Bupati Malang pada periode 1898–1934.

Dalam versi modernnya, busana khas Malangan tampil dengan jas hitam berkerah rever, dipadukan kemeja putih berkerah tinggi dan dasi panjang.

Ciri khas lainnya terletak pada motif batik “Tugu Pecah Kopi” yang menghiasi bagian atas paha.

Motif tersebut merupakan perpaduan unsur batik kawung yang terinspirasi dari peninggalan era Kerajaan Singasari, dikombinasikan dengan simbol kopi dan ikon Tugu Malang.

Busana ini juga dilengkapi topi pet yang dibalut kain udeng bermotif serupa, serta sepatu pantofel hitam sebagai pelengkap.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa busana ini tidak sekadar pakaian formal, melainkan representasi identitas daerah.

Ia menyebut, desain tersebut menjadi simbol perpaduan antara nilai sejarah, budaya lokal, dan estetika klasik.

“Busana khas ini kami hadirkan sebagai upaya memperkuat jati diri Kota Malang. Di dalamnya terdapat filosofi yang mengangkat unsur lokal seperti Tugu Malang, bunga teratai, serta motif kawung yang dimaknai dari biji kopi pecah,” jelasnya.

Dengan peluncuran ini, diharapkan busana khas Malangan mampu menjadi ikon baru yang mempertegas karakter budaya Kota Malang sekaligus memperkaya warisan daerah di tengah perkembangan zaman.(Djoko W)