Malangpariwara.com – Upaya mempererat ukhuwah Islamiah sekaligus menjaga semangat seduluran saklawase kembali diwujudkan oleh Alumni SMAi 87 melalui kegiatan Thalabul Ilmi dengan acara inti ngaji dan diskusi bareng.
Acara digelar pada Minggu, 21 Desember 2025, mulai pukul 09.00 WIB bertempat di kediaman salah satu alumni, Djoko Winahyu, yang berlokasi di Perum Pondok Cempaka Indah View B2/12, Mulyorejo.

Sebelumnya beberapa alumni bergantian memimpin Murottal Qur’an.
Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Akhmad Khusairi sebagai pemateri utama dengan mengangkat tema besar “Hijrah”.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, pertemuan alumni ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga wadah pembelajaran keislaman yang jarang ditemui dalam reuni-reuni pada umumnya.
Pemaparan Materi Hijrah oleh Ustadz Akhmad Khusairi
Ustadz Akhmad Khusairi menegaskan bahwa hijrah tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai perpindahan fisik semata.

“Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi hijrah adalah perpindahan dari kegelapan menuju cahaya, dari keburukan menuju kebaikan, dan dari kejahilan menuju pengetahuan,” ujarnya di hadapan para alumni.
Ia menekankan bahwa semangat hijrah perlu terus dijaga dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hijrah memiliki beberapa dimensi penting, mulai dari hijrah spiritual, mental, hingga sosial.
“Hijrah spiritual adalah usaha kita untuk menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah dan mendekatkan diri pada amal yang diridhai-Nya. Dan pertemuan seperti ini pun sudah termasuk hijrah spiritual,” tuturnya.
Dalam pemaparannya, Ustadz Akhmad Khusairi juga menjelaskan konsep syukur yang terbagi menjadi dua, yakni syukur qauliyah dan syukur fi’liyah.
Perbedaan Syukur Qauliyah dan Syukur Fi’liyah
Syukur qauliyah diwujudkan melalui ucapan lisan seperti mengucap Alhamdulillah atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Sementara itu, syukur fi’liyah tercermin dalam tindakan nyata, yaitu memanfaatkan nikmat tersebut untuk menambah amal ibadah dan amal saleh.
Kehadiran para alumni dalam majelis ilmu ini disebut sebagai bentuk nyata syukur fi’liyah, karena nikmat kesehatan, waktu, dan usia digunakan untuk silaturahmi serta menuntut ilmu agama.
Ia mengapresiasi konsep pertemuan alumni yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga pada nilai keilmuan dan keagamaan.

“Jarang sekali saya menemukan pertemuan alumni yang diajak ngaji, membaca Al-Qur’an, dan diskusi seperti ini. Biasanya kumpul alumni ya makan-makan lalu pulang. Ini luar biasa,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ustadz Akhmad Khusairi juga menyinggung pentingnya hijrah sosial. Ia menjelaskan bahwa hijrah sosial merupakan sikap untuk tidak menyusahkan orang lain, menjaga hubungan dengan sesama, serta menumbuhkan kepedulian sosial.
Menurutnya, jika seseorang belum mampu membahagiakan orang lain, setidaknya jangan menjadi sebab kesusahan bagi orang di sekitarnya.
Dalam konteks ini, hijrah sosial juga berarti menahan diri dari membuka aib orang lain, karena menutup aib sesama akan dibalas Allah dengan ditutupinya aib kita di dunia dan akhirat.

Selain itu, Ustadz Akhmad Khusairi mengingatkan tentang keterbatasan usia manusia.
Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, ia menyampaikan bahwa rata-rata usia umat Nabi berada di kisaran 60 hingga 70 tahun.
“Umur diatas 60 adalah bonus dari Allah. Maka hirah yang paling penting adalah memanfaatkan sisa umur untuk menambah alam saleh,” ujarnya.
Kegiatan Thalabul Ilmi tidak hanya sebagai momen nostalgia
Acara berlangsung dengan khidmat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator, Indra G. Peserta tampak antusias menyimak dan berdiskusi, menjadikan kegiatan Thalabul Ilmi ini bukan sekadar pertemuan nostalgia, melainkan juga momentum refleksi diri untuk terus berhijrah menuju pribadi yang lebih baik.

Ketua kumpul Ngaji SMAI 87′ Sedukuran saklawase H Hafidz menyampaikan rasa syukur karena kegiatan kumpul ngaji ini semakin hari pesertanya bertambah banyak dengan hadirnya wajah wajah baru.
“Melalui kegiatan ini, Alumni SMAi 87 berharap kebersamaan dan nilai-nilai kebaikan dapat terus terjaga, membawa keberkahan bagi kehidupan dunia dan akhirat,” tandasnya. (Djoko W)






