Sebulan Mengabdi di Lokasi Bencana, Dosen UMM Turun Langsung Bantu Warga Sumatera Barat

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kepeduliannya dengan mengirimkan tim relawan ke wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Tim ini terdiri dari berbagai unsur, mulai dari dokter muda Fakultas Kedokteran, dokter umum, perawat, apoteker RS UMM, hingga Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana).

Salah satu relawan yang terjun langsung ke lapangan adalah Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P., dosen Akuakultur UMM yang akrab disapa Indra Ferry.

Ia meninggalkan aktivitas akademiknya dan mengabdikan diri selama hampir satu bulan penuh di zona bencana sepanjang Desember 2025.

Kehadirannya difokuskan untuk memastikan koordinasi relawan serta distribusi bantuan kemanusiaan tetap berjalan meski kondisi medan cukup berat.

Dalam misi ini, UMM bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai mitra strategis dalam penguatan peran perguruan tinggi pada penanganan kebencanaan.

Indra Ferry dipercaya memegang amanah sebagai Ketua Pos Koordinasi (Poskor).

Ia bertugas menghubungkan kerja antar-klaster sekaligus mengatur kebutuhan logistik sejak tahap persiapan hingga penyaluran di lapangan.

“Sebagai ketua posko, saya harus menjembatani koordinasi antar-klaster dan mengelola berbagai kebutuhan, baik logistik internal maupun eksternal,” ungkapnya saat diwawancarai tim Humas UMM pada 25 Desember lalu.

Tantangan yang Dihadapi

Wilayah penugasan relawan meliputi Kecamatan Malalak, Maninjau, dan Palembayan di Kabupaten Agam. Ia menilai setiap lokasi memiliki tantangan tersendiri.

Sebagai contoh di Malalak, akses terhambat karena jembatan yang terputus. Sehingga relawan harus menyeberangi sungai, yang sangat berisiko saat debit air meningkat.

“Kalau air sungai sedang naik, kami tidak bisa menyeberang karena berbahaya,” jelasnya.

Rindya Fery Indrawan, S.Pi MP., selaku dosen Akuakultur UMM saat di lokasi bencana. (Ist)

Sementara itu, di Maninjau, relawan harus selalu waspada terhadap potensi longsor susulan.

Banjir bandang sebelumnya membawa material batuan dari gunung yang bisa kembali bergerak saat hujan deras berlangsung lama.

“Kalau hujan lebih dari dua jam, kami harus ekstra hati-hati karena rawan longsor susulan,” tambahnya.

Dukungan yang Diberikan

Agar penanganan berjalan efektif, kegiatan kemanusiaan dibagi ke dalam empat klaster utama.

Klaster medis bertugas memberikan layanan kesehatan di puskesmas serta melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah penyintas.

Pelayanan ini menyasar warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

Selain itu, klaster dukungan psikososial fokus membantu pemulihan mental masyarakat terdampak, mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga lansia.

Klaster logistik bertanggung jawab menyalurkan kebutuhan pokok seperti sembako, obat-obatan, perlengkapan dapur umum, serta alat kesehatan termasuk kursi roda.

Sementara klaster WASH menyediakan akses air bersih dengan memasang unit filtrasi di fasilitas umum dan hunian sementara.

Keterlibatan Indra Ferry dan tim relawan menjadi bukti komitmen UMM sebagai kampus yang aktif hadir di tengah masyarakat.

Melalui aksi kemanusiaan ini, UMM menegaskan perannya tidak hanya dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga dalam pengabdian langsung saat masyarakat menghadapi krisis.

Menutup pengabdiannya, Indra Ferry menyampaikan pesan semangat kepada para penyintas agar tetap kuat dan tidak merasa sendirian.

Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang turut terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut.

“Tetap semangat, karena kalian tidak sendiri. Ada kami para relawan dan banyak pihak lain yang terus berjuang membantu saudara-saudara yang terdampak bencana,” pungkasnya. (Djoko W/Azizah)