Refleksi Akhir Tahun, UMM Pertegas Jati Diri sebagai Kampus Islami

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meneguhkan eksistensinya dalam dunia pendidikan tinggi nasional. Momentum Milad Muhammadiyah ke-113 yang dirangkaikan dengan kegiatan Refleksi Akhir Tahun, yang berlangsung di Masjid AR Fachruddin pada Sabtu (27/12/2025).

Kegiatan ini menjadi penanda penting bagi kampus putih. Dalam kesempatan tersebut, UMM secara resmi meluncurkan identitas barunya sebagai Kampus Islami.

Peluncuran ini sekaligus menjadi penegasan arah strategis UMM setelah berhasil menempati peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia versi Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Pencapaian tersebut menunjukkan konsistensi UMM dalam menginternalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ke dalam sistem tata kelola dan aktivitas akademik.

UMM dinilai mampu menjadi contoh perguruan tinggi modern yang tetap berpijak kuat pada nilai spiritual serta ideologi persyarikatan.

Rangkaian prestasi UMM semakin lengkap dengan diraihnya Cabang Ranting Award. Hal itu merupakan sebuah penghargaan atas kepedulian universitas dalam pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah serta kemakmuran masjid.

Sinergi yang terbangun antara kampus dan struktur organisasi inilah yang semakin mengokohkan posisi UMM di tengah masyarakat.

Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah, K.H. Jamaluddin Ahmad, S.Psi., menyampaikan refleksi mendalam mengenai daya tahan Muhammadiyah hingga memasuki usia 113 tahun.

Refleksi Akhir Tahun, UMM Pertegas Jati Diri sebagai Kampus Islami
Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid PP Muhammadiyah sampaikan tiga pilar utama persyarikatan (Ist)
Tiga Pilar Utama Persyarikatan

Ia menekankan adanya tiga pilar utama yang menjaga keberlangsungan persyarikatan. Antara lain keikhlasan para penggeraknya, kemandirian amal usaha, serta kepatuhan terhadap sistem organisasi yang tertata dengan baik.

“Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad karena tidak bertumpu pada figur individu, melainkan pada kekuatan sistem dan keikhlasan kolektif. UMM telah menunjukkan bahwa kampus harus hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat. Prestasi sebagai PTMA terbaik harus sejalan dengan kebermanfaatan bagi cabang dan ranting Muhammadiyah sebagai ujung tombak dakwah,” ujar Jamaluddin.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa identitas UMM sebagai Kampus Islami harus tercermin nyata dalam sikap serta perilaku seluruh sivitas akademika, mulai dari mahasiswa hingga jajaran pimpinan.

Menurutnya, Islam yang dikembangkan UMM merupakan Islam berkemajuan yang mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa tanpa meninggalkan jati diri Muhammadiyah.

“Melalui konsep Kampus Islami, kita diajak menghidupkan kembali fungsi masjid seperti pada masa KH Ahmad Dahlan. Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, laboratorium sosial, hingga pusat pemberdayaan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA., menyampaikan bahwa stabilitas dan berbagai capaian yang diraih universitas merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen kampus yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan profesionalisme dalam pengelolaan manajemen.

“Prestasi ini menjadi kado akhir tahun yang patut disyukuri. Namun refleksi hari ini juga mengingatkan kami bahwa mempertahankan posisi terbaik jauh lebih menantang. Karena itu, pengelolaan keuangan yang sehat dan manajemen yang bersih akan terus kami arahkan untuk memperkuat dakwah Muhammadiyah hingga ke tingkat cabang dan ranting,” pungkasnya. (Djoko W)