UM Kukuhkan 5 Guru Besar, Angkat Inovasi Nanomaterial hingga Manajemen PAUD Unggulan

Malangpariwara.com – Universitas Negeri Malang (UM) akan mengukuhkan lima guru besar dari berbagai bidang keilmuan pada Kamis (5/2/2026) di Aula GKB A19 Lantai 9.

Lima profesor itu ialah Prof. Ir. Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd, M.T., Ph.D. dan Prof. Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd. sebagai Guru Besar Fakultas Teknik, Prof. Dr. Ahmad Samawi, M.Hum. sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan, Prof. Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D. sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial, dan Prof. Dr. Hartatiek, M.Si. sebagai Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Dalam Jumpa Pers Rabu (4/2/25) di salah satu ruangan lantai 9 gedung A19 UM, Kelimanya memberikan gagasan ilmiah strategis. Mulai dari rekayasa nanomaterial, pelestarian filosofi batik, manajemen PAUD unggulan, paradigma baru geografi kebencanaan, hingga biomaterial untuk rekayasa tulang.

Prof. Ir. Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D., menyampaikan orasi berjudul “Size Does Matter: Merancang Fungsi Material dari Skala Nano.” Ia menegaskan rekayasa material modern tidak lagi berfokus pada ukuran semata, melainkan pada pengendalian antarmuka material di skala nano.

Menurutnya, pendekatan ini krusial untuk menjawab tantangan industri modern seperti efisiensi energi, pengurangan emisi, dan peningkatan keandalan komponen. Konsep tersebut diterapkan dalam empat bidang utama. Yakni nanokatalis, nano-reinforced materials, nanolubricant, dan nanofluids.

“Pada ujungnya, semua kembali ke satu kesimpulan praktis. Fungsi lahir dari antarmuka, antarmuka hanya bekerja bila stabil, dan stabilitas hanya bermakna bila diterjemahkan menjadi kinerja sistem yang terukur,” ujarnya.

Dari bidang pendidikan vokasional busana, Prof. Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd., mengangkat tema pelestarian filosofi batik melalui teknik grading motif. Ia menyoroti persoalan selama ini di mana motif batik besar kerap terpotong ketika diaplikasikan pada berbagai ukuran tubuh, sehingga makna filosofisnya hilang.

Melalui riset berbasis SEM-PLS yang melibatkan ratusan responden, ia membuktikan teknik grading pola dan motif mampu menjaga proporsi desain sekaligus menciptakan fesyen yang lebih inklusif.

Oleh sebab itu permasalahan bullying dan body shaming yang berkaitan dengan batik dan bentuk tubuh ini perlu dicarikan solusi.

“Sudah menjadi tugas profesional dosen melihat permasalahan dan mencari solusi melalui riset. Untuk mempertahankan makna filosofis motif batik khusus dan untuk melawan body shaming di industri fashion dilakukan penelitian,” tegasnya.

Prof. Dr. Ahmad Samawi, M.Hum., dari Fakultas Ilmu Pendidikan, menekankan PAUD sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia. Dalam orasinya tentang manajemen PAUD unggulan, ia menegaskan pentingnya sintesis nilai filosofis, ilmiah, religius, dan kultural dalam tata kelola lembaga pendidikan anak usia dini.

Ia menyebut PAUD unggulan harus memiliki pembelajaran bermakna, kemitraan kuat dengan orang tua, tata kelola profesional, serta inovasi berkelanjutan.

“Visi bukan sekadar rangkaian kata yang tertulis di dinding sekolah, melainkan gambaran ideal tentang kualitas manusia yang hendak dibentuk melalui proses pendidikan sejak usia dini. Visi tersebut dikembangkan ke dalam program kegiatan,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D., memperkenalkan Human-Volcano (Hu-Vo) System Model, paradigma baru dalam pengelolaan risiko bencana gunung api. Ia menilai pendekatan kebencanaan selama ini terlalu menempatkan masyarakat sebagai korban pasif.

Menurutnya, hubungan manusia dan gunung api bersifat dinamis dan ko-evolutif, bahkan melahirkan manfaat ekologis, ekonomi, dan kultural.

Misalnya bagi masyarakat Tengger di Bromo. “Erupsi tidak selalu dimaknai sebagai bencana. Ia juga dipahami sebagai bagian dari keseimbangan kosmik yang justru memperkuat solidaritas, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan penghidupan,” jelasnya.

Terakhir, di bidang biomaterial, Prof. Dr. Hartatiek, M.Si., mengembangkan nano-hidroksiapatit dari batu gamping Druju, Malang sebagai bahan rekayasa scaffold nanofiber jaringan tulang. Material ini memiliki kemiripan tinggi dengan mineral tulang manusia dan bersifat biokompatibel.

Teknologi scaffold nanofiber yang dikembangkannya meniru struktur matriks ekstraseluler tubuh sehingga mendukung pertumbuhan sel tulang baru. Penelitian ini membuka peluang besar bagi pengembangan implan tulang berbasis sumber daya lokal.(Djoko W)