Ngopi SAM FMIPA UB: Guru Besar Bahas Peran Reproductive Herbalisme dalam Penanganan Covid-19

Malangpariwara.com – Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng., memaparkan pandangan ilmiahnya terkait pemanfaatan herbal dalam menghadapi pandemi COVID-19 dalam forum Ngopi SAM bersama FMIPA UB, Jumat malam (13/02/2026).

Melalui konsep Reproductive Herbalisme yang dikembangkannya, Prof. Sasmito menekankan pentingnya pendekatan sinergis dan komprehensif.

Terutama dalam memperkuat sistem imun sebagai garda terdepan melawan infeksi, termasuk Covid-19.

Menurutnya, herbal tidak dimaksudkan sebagai pengganti terapi medis utama Covid-19.

Melainkan sebagai terapi pendukung (supporting therapy) untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu proses pemulihan pasien.

“Prinsip herbal adalah membangun sistem tubuh secara menyeluruh. Dalam konteks Covid-19, yang paling penting adalah memperkuat imunitas agar tubuh mampu merespons infeksi secara optimal,” ujarnya.

Pendekatan Holistik dan Berbasis Riset

Prof. Sasmito menjelaskan bahwa tanaman herbal mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator yang bekerja secara sinergis.

Dalam konsep Reproductive Herbalisme, kombinasi berbagai tanaman dirancang dengan mempertimbangkan keseimbangan fungsi organ, metabolisme, serta sistem pertahanan tubuh.

Ia menambahkan, selama pandemi terjadi peningkatan signifikan penggunaan herbal di masyarakat.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya landasan ilmiah dalam pemilihan maupun peracikan herbal.

“Tidak semua herbal cocok untuk setiap orang. Harus ada riset, takaran yang tepat, serta pemahaman terhadap potensi efek samping atau toksisitas,” jelasnya.

Herbal sebagai Terapi Pendukung

Dalam pembahasan mengenai Covid-19, Prof. Sasmito menekankan bahwa pendekatan herbal berfokus pada:

  • Meningkatkan sistem imun (imunomodulator);
  • Mengurangi peradangan (antiinflamasi);
  • Membantu pemulihan jaringan tubuh pascainfeksi.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan herbal harus tetap selaras dengan anjuran medis. Termasuk vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah selama pandemi berlangsung.

Penguatan Riset dan Biodiversitas Nasional

Sebagai Ketua Senat Akademik Fakultas MIPA UB, Prof. Sasmito aktif melakukan penelitian hingga ke luar negeri.

Menurutnya, kalangan akademisi internasional justru mengakui bahwa Indonesia merupakan “gudangnya” tanaman herbal dengan potensi besar untuk dikembangkan.

Ia berharap pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk memperkuat riset herbal berbasis biodiversitas Indonesia.

Dengan pendekatan ilmiah yang ketat dan terstandar, Indonesia dinilai berpeluang menjadi pusat pengembangan obat herbal modern yang teruji secara klinis.

“Indonesia kaya akan tanaman obat. Jika diteliti secara serius dan sistematis, herbal bisa menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan nasional,” pungkasnya. (Djoko W)