Dari Bangku Biologi UB ke Kursi Pejabat DLH, Tri Santoso Buktikan Lulusan MIPA Bisa Sukses Jadi ASN

Malangpariwara.com – Alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) ini membuktikan bahwa lulusan Jurusan Biologi tak melulu berkarier sebagai pengajar maupun ASN.

Tri Santoso, lulusan S1 Biologi angkatan 1995, sukses meniti karier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Malang.

Saat ini, Tri dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup di Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang.

Capaian tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa lulusan Biologi hanya memiliki peluang kerja sebagai guru atau dosen.

Ditemui usai memberikan kuliah umum di Departemen Biologi FMIPA UB, Tri berbagi kisah perjalanan kariernya. Ketertarikannya pada ilmu alam sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP.

Minat tersebut semakin kuat ketika SMA, terutama saat mempelajari Biologi.

“Dengan mempelajari Biologi, hasrat saya untuk memahami makhluk hidup dan lingkungan bisa tersalurkan,” ujarnya pada Senin (23/02/2026).

Awal Mula Terjun ke Dunia Biologi

Berbekal minat dan keyakinan tersebut, Tri mantap memilih Jurusan Biologi di UB untuk memperdalam ilmunya.

Setelah menyelesaikan studi, ia mencoba mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Kota Malang.

Meski sempat mengira lulusan Biologi hanya memiliki peluang menjadi pengajar, ia tetap optimistis mencoba jalur lain.

“Awalnya saya berpikir lulusan Biologi hanya bisa menjadi guru. Ternyata peluangnya jauh lebih luas,” ungkapnya.

Dari Bangku Biologi UB ke Kursi Pejabat DLH, Tri Santoso Buktikan Lulusan MIPA Bisa Sukses Jadi ASN
Tri Santoso, saat mengisi kuliah tamu mata kuliah Biologi Konversi di Universitas Brawijaya (UB). (Djoko W)

Kesempatan diterima sebagai PNS menjadi titik awal pengabdiannya di bidang lingkungan hidup. Baginya, pekerjaan yang dijalani saat ini tetap selaras dengan disiplin ilmu yang dipelajari, yakni berkaitan erat dengan makhluk hidup dan ekosistem.

Tri juga menyoroti pentingnya memahami arah kebijakan pembangunan pemerintah dalam menentukan pilihan karier.

Menurutnya, ketika pemerintah memprioritaskan isu tertentu, seperti pengendalian pencemaran lingkungan, maka kebutuhan tenaga profesional di bidang tersebut akan meningkat.

“Ketika pemerintah concern pada pengendalian pencemaran, kebijakan dan tata kelolanya pasti mengarah ke sana. Ini peluang bagi lulusan yang memiliki kompetensi di bidang lingkungan,” jelasnya.

Ia pun berpesan kepada generasi muda, khususnya siswa SMA, agar cermat memilih program studi.

Pemilihan jurusan yang tepat dan relevan dengan kebutuhan pembangunan dinilai dapat meminimalkan risiko menjadi sarjana yang kesulitan mendapat pekerjaan.

Tri meyakini, lulusan program studi di rumpun MIPA memiliki prospek yang menjanjikan. Terutama jika kurikulumnya adaptif terhadap perkembangan kebijakan nasional dan isu-isu global seperti krisis lingkungan.

Menurutnya, ilmu dasar Biologi harus terus dikembangkan agar lebih aplikatif dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Kisah Tri Santoso menjadi bukti bahwa lulusan Biologi memiliki ruang pengabdian yang luas, tak hanya di dunia pendidikan, tetapi juga di sektor pemerintahan dan pengelolaan lingkungan hidup. (Djoko W)