Malangpariwara.com – Seorang alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dapat membawa produk lokal menembus pasar internasional.
Ia adalah Abdullah Dzikri, lulusan Agribisnis UMM tahun 2017, yang kini berhasil mengembangkan usaha keripik buah dan sayur. Produk olahannya yang menggunakan teknologi vacuum frying bahkan telah dipasarkan hingga Singapura.
Teknologi Pengolahan yang Digunakan
Usaha yang dirintis Dzikri memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Teknik ini mampu menjaga warna alami serta rasa asli bahan baku sehingga kualitas produk tetap terjaga.
Inovasi tersebut muncul dari pengamatannya terhadap fluktuasi harga hasil pertanian. Saat panen melimpah harga sering turun drastis, sementara pada musim paceklik biaya produksi justru meningkat sehingga diperlukan solusi pengolahan yang memberi nilai tambah.
“Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu.
Terbentuknya Motivasi Berwirausaha
Dzikri mengungkapkan bahwa semangat berwirausaha mulai terbentuk ketika ia menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Sistem pembelajaran yang memadukan teori dan praktik mendorong mahasiswa untuk langsung mencoba memproduksi serta memasarkan produk.
“Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya.
Semangat berbisnis itu telah ia latih sejak masih menjadi mahasiswa. Ia memulai dengan berjualan lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke berbagai fakultas.
Pengalaman tersebut membentuk keberanian dan ketekunan dalam menjalankan usaha. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil meraih penghargaan pada kategori inovasi produk olahan.
Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari dunia usaha. Mahasiswa didorong melakukan kunjungan lapangan ke petani, UMKM, hingga perusahaan besar guna memahami dinamika bisnis secara nyata.
Ia bahkan pernah mengikuti kunjungan industri ke perusahaan nasional seperti Indomie. Pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai pengelolaan bisnis dari skala kecil hingga industri besar.
Keunggulan Produk Usaha Dzikri
Keunggulan usaha yang dijalankannya juga terletak pada pola kemitraan dengan petani desa. Bahan baku diperoleh secara langsung tanpa perantara, sementara proses produksi turut melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha.
Model bisnis tersebut tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberi dampak sosial bagi masyarakat. Kehadiran usaha ini turut membuka peluang kerja serta meningkatkan nilai jual hasil pertanian lokal.
Pada Oktober 2025, Dzikri berhasil melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 kemasan keripik ke Singapura. Saat ini ia tengah mempersiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar ke Australia dan kawasan Timur Tengah.
“Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya.
Menurutnya, kemampuan membaca data dan memahami kebutuhan pasar menjadi kunci penting untuk bersaing di tingkat global. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak masa perkuliahan di UMM.
Kisah Dzikri menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya mencetak lulusan akademis, tetapi juga melahirkan wirausaha yang inovatif. Kampus ini mendorong mahasiswa menjadi pencipta lapangan kerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Djoko W)






