UPT Laboratorium Pancasila UM Libatkan 10 Guru Besar, Gelar Refleksi dan Orasi Kebangsaan

Malangpariwara.com — Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) menggelar kegiatan Refleksi dan Orasi Kebangsaan bertajuk “Merayakan Ruang Akademik, Merawat Republik” pada Senin (4/5/2026).

Kegiatan ini berlangsung di Outdoor Learning Space (OLS), Gedung A18 UM, mulai pukul 08.30 hingga 11.30 WIB.

Kegiatan ini menjadi ruang terbuka bagi sivitas akademika untuk menyuarakan gagasan, kritik, dan refleksi terhadap kondisi kebangsaan.

Sedikitnya 10 guru besar dan akademisi turut ambil bagian sebagai narasumber, di antaranya Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., Prof. Hadi Nur, Ph.D., Prof. Dr. Hari Wahyono, M.Pd., Prof. Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd., Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Evynurul Laily Zen, S.S., M.A., Ph.D., Dr. Subagyo, S.E., S.H., M.M., Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si., Achmad Tohe, M.A., Ph.D., serta Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M.

Kepala UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) adalah Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si.(Djoko W)

Kepala UPT Laboratorium Pancasila UM, Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali peran ruang akademik sebagai wadah refleksi kritis terhadap dinamika sosial politik bangsa.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin merayakan ruang akademik. Kampus tidak hanya fokus pada urusan internal, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk merespons situasi kebangsaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah merawat republik sekaligus menjaga nalar publik agar tetap sehat.

Menurutnya, akademisi memiliki peran strategis dalam memastikan arah kebijakan publik tetap berada pada jalur yang tepat.

Mahasiswa bebas ber ekpresi mengeluarkan pendapat tanpa intervensi meski mengkritik internal UM.(Djoko W)

Dalam pelaksanaannya, mimbar orasi dibuka secara bebas tanpa intervensi. Guru besar, dosen, hingga mahasiswa diberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan pandangan.

Beragam isu pun mencuat, mulai dari pentingnya menjaga ideologi Pancasila, kondisi ekonomi nasional, hingga kritik terhadap sistem pendidikan.

Menariknya, kritik tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, tetapi juga kepada internal kampus. Mahasiswa dan perwakilan BEM turut menyuarakan evaluasi terhadap kebijakan kampus dan sistem pendidikan secara umum.

“Kami sangat terbuka terhadap kritik. Setiap orang berhak menyampaikan aspirasi dan pandangannya secara ilmiah dan bertanggung jawab,” tambah Akhirul.

Kegiatan ini merupakan agenda perdana UPT Laboratorium Pancasila UM dan direncanakan akan menjadi program tahunan.

Harapannya, suara akademisi UM dapat lebih terdengar luas di ruang publik, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Selain orasi kebangsaan, acara juga diisi dengan penampilan puisi, musik, dan ekspresi seni dari mahasiswa.

Ragam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan refleksi yang lebih humanis dan menyentuh berbagai lapisan.

Lebih lanjut, Akhirul menjelaskan bahwa hasil dari refleksi dan orasi ini akan menjadi pandangan umum yang disebarluaskan melalui media.

Tujuannya agar aspirasi akademik dapat menjangkau masyarakat luas sekaligus mendorong kesadaran publik.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan politik sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan,” tegasnya.

Menanggapi kondisi Indonesia saat ini, pihaknya menilai masih terdapat sejumlah tantangan serius, mulai dari persoalan ekonomi hingga kebebasan pers.

Ia menekankan pentingnya sistem demokrasi yang berjalan dengan prinsip kedaulatan rakyat, di mana kebijakan publik seharusnya lahir dari aspirasi masyarakat.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Karena itu, suara akademisi penting untuk terus dihadirkan sebagai bagian dari kontrol sosial,” pungkasnya. (Djoko W)