38 Tahun Bersama: Dari Titik Nol, Menaklukkan Liku Kehidupan hingga Menikmati Senja Bersama

MALANGPARIWARA.COM – Ada perjalanan yang tidak bisa diukur hanya dengan hitungan tahun. Ia tersimpan dalam keringat, air mata, kesabaran, pengorbanan, dan kesetiaan untuk tetap berjalan ketika keadaan tidak selalu berpihak.

Bagi saya, 8888 adalah titik awal perjalanan itu.

Hari ketika saya dan perempuan yang kemudian menjadi istri saya memilih untuk mengikat janji, membangun rumah tangga, dan memulai kehidupan bersama. Saat itu, kami tidak pernah tahu akan sejauh apa perjalanan ini membawa kami.

Yang kami tahu hanya satu: kami harus berjuang.

Kami memulai kehidupan dari titik yang nyaris nol. Tidak ada jalan yang benar-benar mudah. Ada masa ketika kebutuhan harus didahulukan daripada keinginan. Ada saat ketika persoalan datang silih berganti dan kami harus belajar menjadi kuat, meski sebenarnya sama-sama lelah.

Namun, dalam setiap kesulitan selalu ada satu hal yang membuat kami mampu bertahan: kami tidak berjalan sendiri.

Ada tangan yang saling menggenggam. Ada bahu untuk bersandar. Ada keyakinan bahwa setiap persoalan pasti memiliki jalan keluar jika dihadapi bersama.

Waktu kemudian berjalan begitu cepat.

Tahun berganti tahun. Rumah tangga yang dahulu kami bangun dengan segala keterbatasan perlahan tumbuh. Allah menitipkan kepada kami dua orang putri.

Mereka menjadi bagian terbesar dari perjuangan kami 

Kami membesarkan mereka dengan segala kemampuan yang kami punya. Tidak selalu sempurna, tentu saja. Tetapi kami berusaha memberikan yang terbaik, dengan satu harapan sederhana: kelak mereka bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik daripada orang tuanya.

Hari ini, melihat kedua putri kami telah berkeluarga, ada rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Anak-anak yang dahulu kami antar dan jemput, yang dahulu masih membutuhkan tangan kami, kini telah memiliki kehidupan dan keluarga sendiri.

Dan kebahagiaan itu semakin lengkap dengan hadirnya empat cucu.

Mereka datang membawa warna baru dalam keluarga. Ada tawa, ada kegembiraan, ada kerinduan setiap kali tidak bertemu. Melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, cantik dan ganteng, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami.

Di titik ini, saya semakin memahami bahwa kekayaan terbesar dalam hidup bukan selalu tentang materi.

Kekayaan terbesar adalah ketika masih diberi kesempatan melihat keluarga tumbuh, berkumpul, saling menyayangi dan saling menjaga.

Kini usia saya memasuki 61 tahun, sementara istri saya 56 tahun.

Kami sadar bahwa perjalanan hidup sudah memasuki fase yang berbeda. Tidak lagi seperti ketika masih muda. Tenaga mungkin berkurang, langkah mulai melambat, tetapi semangat untuk menjalani kehidupan tetap ada.

Kami tidak lagi mengejar terlalu banyak hal.

Kami hanya ingin hidup dengan tenang, sehat dan bermanfaat. Kami ingin tetap mandiri selama masih mampu, sehingga kelak tidak menjadi beban bagi anak-anak.

Dan ada satu keinginan yang semakin kuat: ingin melihat anak-anak dan cucu-cucu kami hidup bahagia.

Itulah doa yang kini terasa jauh lebih penting daripada apa pun.

Saya ingin menyaksikan mereka tumbuh, mencapai cita-cita, membangun kehidupan yang baik dan saling menjaga satu sama lain. Jika Allah masih memberikan umur panjang, saya ingin menikmati sebanyak mungkin waktu bersama mereka.

Untuk istriku, perempuan yang telah mendampingiku selama 38 tahun, mungkin tidak cukup kata untuk menggambarkan rasa terima kasih.

Engkau bukan hanya seseorang yang hidup bersamaku.

Engkau adalah saksi dari seluruh perjalanan ini.

Engkau tahu bagaimana kami memulai dari bawah. Engkau tahu bagaimana rasanya melewati masa sulit. Engkau tahu air mata yang tidak selalu terlihat dan perjuangan yang tidak selalu bisa diceritakan.

Dan engkau tetap berada di sampingku.

Karena itu, setelah 38 tahun, saya semakin yakin bahwa cinta bukan sekadar tentang kata “sayang”.

Cinta adalah kesediaan untuk bertahan.

Cinta adalah tetap menggenggam tangan pasangan ketika keadaan sedang sulit. Cinta adalah memaafkan, memahami, mengalah, saling menguatkan dan memilih untuk tetap bersama ketika banyak hal bisa membuat seseorang menyerah.

Kini, ketika rambut mulai memutih dan usia semakin bertambah, saya hanya ingin kita tetap berjalan berdampingan.

Tidak perlu lagi mengejar sesuatu yang terlalu tinggi.

Cukup menikmati pagi dengan kesehatan, menikmati sore bersama keluarga, mendengar suara cucu, melihat anak-anak bahagia, dan sesekali mengenang perjalanan panjang yang telah kita lewati.

Saya tidak tahu berapa lama lagi Allah memberi kesempatan kepada kita.

Tetapi saya tahu satu hal.

Jika kelak waktunya tiba, saya ingin kita meninggalkan kehidupan ini dengan tenang, tanpa menyusahkan mereka yang kita tinggalkan.

Dan sebelum hari itu datang, saya ingin menggunakan waktu yang masih ada untuk mencintai keluarga ini lebih banyak, bersyukur lebih banyak, dan memohon ampun kepada Allah lebih banyak.

Ya Allah…

Terima kasih telah mempertemukan kami.

Terima kasih telah memberi kami kesempatan melewati 38 tahun perjalanan rumah tangga.

Terima kasih atas dua putri yang Engkau titipkan kepada kami.

Terima kasih atas empat cucu yang kini menjadi kebahagiaan kami.

Terima kasih atas setiap kesulitan yang ternyata mengajarkan kami arti keteguhan.

Terima kasih atas setiap kebahagiaan yang membuat kami semakin bersyukur.

Jagalah istri saya. Jagalah anak-anak kami. Jagalah cucu-cucu kami. Lindungi keluarga kami dalam setiap langkah kehidupan.

Berikan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, rezeki yang halal dan cukup, serta hati yang selalu dekat kepada-Mu.

Jika Engkau masih memberi kami waktu bersama, izinkan kami menikmatinya dengan penuh syukur.

Dan jika suatu hari salah satu dari kami harus lebih dahulu pulang kepada-Mu, berikan kekuatan kepada yang ditinggalkan untuk tetap melanjutkan kehidupan dengan ikhlas.

38 tahun telah kami lalui.

Dari 8 Agustus 1988 hingga 8 Agustus 2026.

Dari dua orang yang memulai perjalanan dengan segala keterbatasan, kini menjadi orang tua dari dua putri dan kakek-nenek dari empat cucu.

Ternyata, hidup memang bukan tentang seberapa jauh kita berjalan.

Tetapi tentang siapa yang tetap berada di samping kita ketika perjalanan itu terasa berat.

Dan selama 38 tahun, saya beruntung karena orang itu adalah istriku.

Selamat ulang tahun pernikahan ke-38, istriku.

Semoga tangan kita tetap saling menggenggam hingga langkah terakhir.

Semoga rumah kita tetap menjadi tempat pulang bagi anak-anak dan cucu-cucu.

Dan semoga cinta yang dimulai pada 8 Agustus …(38) Lalu ini menjadi cinta yang Allah jaga hingga akhir hayat.

Aamiin Ya Rabbal Alamin.(Djoko Winahyu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *