Lomba Senam PKB Jadi Ruang Edukasi, Hikmah Bafaqih Kampanyekan Cegah Perkawinan Anak

MALANGPARIWARA.COM – Lomba Senam Kreasi Haha Hihi yang digelar Sekjen PKB di halaman parkir GOR Ken Arok, Kota Malang, Minggu (23/8/2026), tak sekadar menjadi ajang adu kreativitas dan kebugaran.

Di tengah semaraknya 60 kelompok senam dari berbagai wilayah Malang Raya, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi untuk mengampanyekan pencegahan perkawinan anak.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur yang juga Ketua DPC PKB Kota Malang, Hj. Hikmah Bafaqih, mengatakan kampanye pencegahan perkawinan anak harus dilakukan secara masif dan menyentuh langsung berbagai lapisan masyarakat.

Menurutnya, edukasi tersebut penting dilakukan mengingat persoalan perkawinan anak masih menjadi perhatian serius, terutama karena dampaknya tidak hanya menyangkut persoalan hukum, tetapi juga kesehatan, mental, sosial hingga ekonomi keluarga.

“Di tengah situasi maraknya perkawinan anak, kita memang harus memasifkan kampanye tentang cegah perkawinan anak,” ujar Hikmah.

Kampanye itu dilakukan PP Lakpesdam NU bersama Fatayat NU Kabupaten Malang melalui program Inklusi. Mereka bergerak di berbagai komunitas untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai risiko perkawinan pada usia anak.

Hikmah menjelaskan, edukasi tidak dilakukan secara formal semata. Pendekatannya justru dibuat lebih dekat dengan masyarakat, mulai dari mengajak berbincang secara langsung hingga membagikan flyer dan materi literasi.

“Macam-macam. Mengajak ngobrol, memberikan flyer, dan sebagainya secara langsung,” katanya.

Ia menyebut program tersebut telah berjalan selama beberapa tahun dan mulai menunjukkan dampak positif. Salah satu indikatornya terlihat dari menurunnya angka permohonan dispensasi perkawinan anak di Kabupaten Malang.

Hikmah mengungkapkan, Kabupaten Malang sebelumnya pernah menjadi daerah dengan angka permohonan dispensasi perkawinan anak yang sangat tinggi di Jawa Timur. Pada 2022, angkanya disebut mencapai sekitar 9.600 permohonan.

“Semula dulu juara satu, sekitar 9.600 pada 2022. Terbesar se-Jawa Timur untuk angka permohonan dispensasi usia perkawinan anak. Nah, sekarang menurun, sekitar 7.000-an,” ujarnya.

Penurunan tersebut, lanjut Hikmah, menjadi sinyal bahwa pemahaman masyarakat mulai tumbuh. Karena itu, kampanye tidak boleh berhenti dan harus terus diperluas melalui berbagai ruang interaksi masyarakat, termasuk kegiatan olahraga dan komunitas seperti lomba senam.

Bagi Hikmah, mencegah perkawinan anak bukan sekadar menunda pernikahan. Lebih jauh, hal itu merupakan upaya memastikan anak memiliki kesempatan untuk tumbuh, mendapatkan pendidikan, serta mempersiapkan diri secara matang sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.

Ia menegaskan, perkawinan pada usia terlalu muda memiliki banyak konsekuensi. Dari sisi kesehatan, misalnya, anak perempuan dinilai belum sepenuhnya siap secara fisik untuk menjalani kehamilan dan persalinan.

“Secara medis berbahaya karena anak perempuan belum siap untuk menjadi ibu dan melahirkan di usia yang masih sangat muda,” jelasnya.

Risikonya tidak berhenti pada persoalan medis. Kesiapan mental, sosial, ekonomi, maupun spiritual juga menjadi faktor penting yang kerap belum dimiliki pasangan yang menikah pada usia anak.

Ketidaksiapan tersebut, menurut Hikmah, dapat memicu berbagai persoalan setelah pernikahan, mulai dari konflik berkepanjangan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga perceraian.

“Secara mental, sosial, ekonomi, spiritual, mereka juga belum memiliki kesiapan. Sehingga rawan terjadi KDRT, pertengkaran panjang, lalu perceraian,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengambil peran dalam pencegahan perkawinan anak. Edukasi dinilai harus hadir di tengah komunitas dengan bahasa yang mudah dipahami dan pendekatan yang tidak menggurui.

Semangat tersebut coba dibawa dalam kegiatan Haha Hihi Sekjen. Di satu sisi, puluhan kelompok senam dari Malang Raya berkumpul untuk berolahraga dan berkreasi.

Di sisi lain, momentum itu dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan sosial yang menyangkut masa depan anak-anak.

Dengan pendekatan semacam ini, Hikmah berharap pesan pencegahan perkawinan anak tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi kesadaran bersama yang tumbuh dari komunitas dan keluarga. (Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *