MALANGPARIWARA.COM – Perekonomian Malang Raya dan wilayah sekitarnya menunjukkan akselerasi signifikan pada Semester I-2026.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih menekan perekonomian dunia, pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang justru mampu menembus rata-rata 6,36 persen.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha masih bergerak kuat.
Konsumsi masyarakat, investasi, serta transaksi perdagangan menjadi sejumlah motor yang menjaga laju perekonomian daerah.
Deputi Kepala KPw BI Malang, Abidin Abdul Haris, mengatakan capaian Semester I-2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan kinerja ekonomi pada 2025 yang secara umum masih berada di kisaran 5 persen.
“Pada Semester I-2026, mayoritas daerah mencatatkan pertumbuhan di atas 6 persen. Secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja BI Malang mencapai 6,36 persen,” ujar Abidin.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak berdiri sendiri. Kuatnya konsumsi masyarakat menjadi salah satu penopang utama, disusul realisasi investasi dunia usaha yang tetap berjalan.
Optimisme masyarakat juga tercermin dalam berbagai indikator yang dipantau BI Malang melalui survei konsumen dan penjualan eceran.
Aktivitas konsumsi yang tetap terjaga menjadi indikasi bahwa daya beli masyarakat masih memberikan kontribusi terhadap perputaran ekonomi regional.
Uang Palsu Masih Jadi Ancaman
Namun, di tengah geliat ekonomi tersebut, tantangan lain muncul pada sektor sistem pembayaran.
Peredaran uang palsu masih menjadi perhatian BI Malang.
Sepanjang Semester I-2026, sebanyak 6.023 lembar uang palsu ditemukan.
Pecahan Rp100.000 dan Rp50.000 menjadi uang yang paling banyak ditemukan dalam kasus tersebut.
BI Malang tidak bekerja sendiri dalam menangani persoalan tersebut. Sinergi dengan aparat penegak hukum terus diperkuat, termasuk dalam proses pendampingan hukum dan penyediaan saksi ahli.
Upaya pencegahan juga diperluas melalui edukasi literasi Rupiah.
BI Malang secara aktif melakukan sosialisasi melalui kegiatan kas keliling maupun edukasi langsung ke masyarakat.
Sasaran edukasi bahkan diperluas sejak usia sekolah, mulai tingkat SD, SMA hingga perguruan tinggi.
Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat memiliki kemampuan mengenali ciri-ciri keaslian Rupiah dan tidak mudah menjadi korban peredaran uang palsu.
QRIS Jadi Mesin Baru Transaksi Ekonomi
Sementara itu, transformasi pembayaran digital menunjukkan perkembangan jauh lebih agresif.
Penggunaan QRIS di wilayah kerja BI Malang hingga Juli 2026 tumbuh 436 persen secara tahunan (YoY).
Lonjakan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya pergeseran perilaku masyarakat menuju transaksi non-tunai.
Volume transaksi QRIS bahkan telah mencapai 148.169.485 transaksi, dengan pertumbuhan 94,59 persen YoY.
Dari sisi ekosistem usaha, jumlah merchant QRIS di wilayah kerja BI Malang telah menembus 1.091.021 merchant.
Secara lebih luas, jumlah pengguna QRIS di Jawa Timur kini mencapai 10.600.311 pengguna.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan digitalisasi pembayaran semakin merasuk ke berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari transaksi usaha mikro dan kecil hingga kebutuhan konsumsi masyarakat sehari-hari.
BI: Jangan Ada Surcharge QRIS
Namun, pesatnya pertumbuhan QRIS juga dibarengi dengan pengawasan terhadap praktik yang berpotensi merugikan konsumen.
BI Malang kembali mengingatkan merchant agar tidak mengenakan biaya tambahan atau surcharge kepada konsumen yang membayar menggunakan QRIS.
Merchant juga ditegaskan tidak boleh mengalihkan biaya Merchant Discount Rate (MDR) kepada pembeli.
Masyarakat diminta tidak ragu menolak apabila menemukan merchant yang membebankan biaya tambahan ketika pembayaran dilakukan menggunakan QRIS.
“Merchant tidak boleh membebankan MDR kepada konsumen. Masyarakat juga harus berani menolak apabila dikenakan surcharge,” tegas Abidin.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,36 persen dan akselerasi transaksi digital yang begitu cepat, BI Malang melihat ekonomi regional masih memiliki ruang pertumbuhan yang kuat.
Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan tetap tinggi, tetapi juga memastikan geliat ekonomi tersebut diikuti sistem pembayaran yang aman, literasi Rupiah yang semakin kuat, serta ekosistem digital yang tidak merugikan konsumen.
Malang Raya kini tidak hanya sedang tumbuh secara ekonomi, tetapi juga tengah mengalami perubahan besar dalam cara masyarakat bertransaksi.( Djoko W)






