Alumni Dempo 2001 Jadi Contoh, Grace Evi Dorong Basket Tak Berhenti di Lapangan

Malangpariwara.com – Prestasi di dunia bola basket tidak selalu diukur dari jumlah poin, kemenangan, atau medali.

Bagi Ketua Perbasi DPD Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Perbasi Zona Jawa, Grace Evi Ekawati, prestasi juga lahir ketika para pelaku olahraga mampu membawa nilai kepedulian hingga jauh setelah meninggalkan lapangan.

Pandangan itu disampaikan Grace Evi saat menghadiri reuni 25 tahun Alumni Basket SMAK St. Albertus (Dempo) angkatan 2001 di lapangan basket SMAK Dempo, Sabtu (3/10/2026).

Grace Evi Ekawati saat menyerahkan bansos kepada penerima manfaat waga kecamatan Klojen.(Djoko W)

Ia secara khusus menyempatkan hadir di tengah agenda padatnya karena menilai kegiatan alumni tersebut memiliki nilai lebih.

Menurut Grace, para alumni tidak sekadar kembali mengenang masa ketika mengenakan seragam dan bermain basket. Mereka justru menunjukkan bahwa ikatan yang dibangun melalui olahraga dapat diteruskan dalam bentuk kepedulian dan kontribusi kepada sesama.

“Prestasi itu tidak harus ketika kita bermain basket. Hari ini mereka juga berprestasi, karena dalam perjalanan hidup mereka tidak hanya berpikir bagaimana mencetak gol untuk dirinya, tetapi bagaimana berbagi kasih untuk yang lain,” kata Grace.

Ia melihat langkah Alumni Dempo 2001 tersebut layak menjadi contoh bagi komunitas olahraga maupun alumni sekolah lainnya. Karena itu, Grace berharap praktik baik semacam ini lebih banyak diketahui publik agar dapat menginspirasi gerakan serupa.

“Saya ingin ini viral. Dempo menjadi salah satu contoh bahwa hal baik harus disiarkan, supaya orang lain bisa mencontoh,” ujar wanita karir pengusaha Hotel  di Surabaya.

Grace menegaskan, kontribusi sosial tidak harus diwujudkan dalam kegiatan besar dengan biaya besar. Ukuran utamanya adalah manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

“Tidak harus semeriah apa pun atau sebanyak uang apa pun. Yang penting asas manfaatnya seluas mungkin,” tegasnya.

Bibit Atlet Bukan Hanya Tanggung Jawab Perbasi

Grace juga menyoroti persoalan pembinaan atlet. Menurut dia, melahirkan atlet berprestasi bukan pekerjaan satu pihak. Peran tersebut harus dibangun bersama antara organisasi olahraga, sekolah, klub, pemerintah, orang tua, hingga media.

“Kalau tanggung jawab bibit atlet, itu sebetulnya ada di semua orang yang mengaku mencintai bola basket,” katanya.

Ia menilai media memiliki posisi strategis dalam membangun persepsi positif terhadap olahraga. Publik perlu mengetahui bahwa basket bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga dapat membuka jalan prestasi dan peluang pendidikan maupun karier bagi anak-anak.

Karena itu, pemberitaan mengenai prestasi dan ekosistem basket dinilai penting untuk membuat semakin banyak keluarga melihat olahraga sebagai bagian dari proses pembinaan generasi muda.

38 Kabupaten/Kota Terus Didorong Bergerak

Komitmen tersebut, kata Grace, juga diterapkan dalam pembinaan basket di Jawa Timur. Ia menyebut penguatan ekosistem dilakukan hingga tingkat kabupaten dan kota.

Grace mengungkapkan, selama periode kepemimpinannya, ia aktif melakukan kunjungan ke berbagai daerah untuk melihat langsung kondisi klub dan pembinaan atlet.

Dari kunjungan tersebut, ia tidak hanya membawa program, tetapi juga memberikan dukungan sesuai kebutuhan, mulai dari bola hingga perlengkapan olahraga.

“Komitmen saya bagaimana punya kontribusi dan punya cinta terhadap bola basket, memasyarakatkan bola basket, dan membuat masyarakat mengenal bahwa dari bola basket juga bisa punya prestasi,” ujarnya.

Ia bahkan tengah mendorong gagasan agar kompetisi basket tingkat desa tidak dibatasi oleh persoalan perlengkapan. Menurut Grace, keterbatasan sepatu semestinya tidak menjadi alasan anak-anak tidak bisa berolahraga.

“Kalau mau prestasi, mereka akan mencari jalan. Tapi minimal dengan basket kita mengolahragakan anak-anak generasi penerus bangsa supaya sehat. Tidak usah menunggu sempurna, yang penting ada lapangan dan ada kemauan bergerak,” tuturnya.

Gagasan tersebut, lanjutnya, juga diarahkan agar basket menjadi olahraga yang dapat dinikmati lintas kelompok usia, termasuk masyarakat umum dan kaum ibu.

Ia mencontohkan kegiatan yang mulai diprakarsainya di Bondowoso. Setelah fasilitas ring basket tersedia, masyarakat mulai tertarik mencoba bermain, termasuk ibu-ibu yang sekadar berlatih lemparan bebas.

“Begitu kita kasih ring, ibu-ibu senang free throw. Anak-anaknya kemudian diajak basket. Yang kita harapkan bagaimana membawa dampak positif, sekecil apa pun,” katanya.

Berawal dari Mendampingi Anak

Menariknya, kecintaan Grace Evi terhadap basket tidak bermula dari pengalaman sebagai atlet. Ia mengaku bukan pemain basket dan tidak pernah bertanding secara profesional.

Keterlibatannya justru bermula ketika mendampingi putrinya, Jovita, yang tertarik menekuni basket.

“Saya bukan siapa-siapa, tidak mengerti bola basket dan tidak pernah bertanding. Tapi ketika anak saya minta basket, saya temani, saya perhatikan. Dari situ cikal bakalnya,” ungkap Grace.

Perjalanan mendampingi anak tersebut kemudian berkembang menjadi kepedulian yang lebih luas terhadap pembinaan basket dan atlet di Jawa Timur.

Jawa Timur Jadi Basis Besar Pembinaan

Dalam perkembangan basket nasional, Grace menyebut Jawa Timur memiliki basis pembinaan yang besar. Ia menyinggung sistem pendataan atlet yang kini diperkuat DPP Perbasi melalui mekanisme identitas dan kepemilikan induk atlet, sehingga perpindahan atlet dapat tercatat lebih tertib.

Menurutnya, dari pendataan tersebut terlihat besarnya potensi Jawa Timur, baik dari jumlah atlet maupun klub. Namun, ia mengingatkan masih terdapat klub yang belum masuk dalam sistem pendataan karena belum memenuhi persyaratan pembinaan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa potensi basket di Jawa Timur masih jauh lebih luas daripada angka yang tercatat secara administratif.

Karena itu, Grace menilai pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan struktur organisasi.

Dukungan masyarakat juga diperlukan, terutama bagi atlet dari daerah yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Kalau bicara orang tua asuh, di mana pun dibutuhkan. Anak daerah tidak semuanya mampu. Kalau ada yang mengoordinasikan orang tua asuh untuk peduli bagaimana menyehatkan anak bangsa, basket salah satu pilihannya,” pungkasnya.

Bagi Grace, masa depan basket tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak pertandingan yang digelar atau medali yang diraih.

Lebih jauh, olahraga harus mampu menjadi ruang untuk membangun kesehatan, karakter, prestasi, sekaligus kepedulian sosial.

Dan Alumni Dempo 2001, menurut dia, telah menunjukkan bahwa semangat yang lahir dari lapangan basket dapat terus hidup bahkan 25 tahun setelah mereka meninggalkan bangku sekolah.(Djoko W)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *