Putus Ketergantungan Tengkulak, Tim Pengabdian UMM beri Edukasi Pascapanen Tembakau

Malangpariwara.com – Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro selama ini dikenal sebagai salah satu sentra tembakau di wilayah selatan. Hamparan ladang yang produktif setiap musim panen seharusnya menjadi sumber kesejahteraan.

Namun realitas di lapangan justru menghadirkan ironi: panen melimpah, pendapatan tetap rendah.

Penjualan Tembakau Basah Menurunkan Harga Jual

Mayoritas petani masih menjual tembakau dalam kondisi basah tanpa proses pengeringan maupun perajangan. Harga yang diterima berkisar Rp500–2.000 per kilogram bahkan kerap tidak mampu menutup biaya produksi seperti pupuk, tenaga kerja, dan sewa lahan.

Padahal, jika diolah menjadi tembakau rajangan kering, nilai jualnya bisa melonjak hingga Rp32.000–36.000 per kilogram. Kesenjangan harga yang sangat besar ini menjadi potensi ekonomi yang belum tergarap optimal.

Kondisi tersebut diperparah dengan ketergantungan pada tengkulak sebagai satu-satunya saluran distribusi. Karena tembakau basah mudah rusak dan harus segera dijual, petani tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga.

Situasi ini menciptakan lingkaran ekonomi yang sulit diputus: produksi tinggi, nilai tambah rendah, kesejahteraan stagnan.

Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian skema blockgrant dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir melalui program bertajuk “Pemberdayaan Petani Tembakau melalui Optimalisasi Teknologi Tepat Guna Berbasis Kearifan Lokal.”

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (16/2/2026) ini secara khusus melibatkan ibu-ibu yang merupakan istri petani sebagai peserta utama.

Tim pengabdian diketuai oleh Wahid Muhammad Shodiq dengan anggota Festy Putri Ramadhani dan Nur Izzatul Maulidah. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berbasis teknologi tepat guna, tetapi juga memperhatikan praktik dan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Dalam pemaparannya, Wahid menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kemampuan budidaya, melainkan pada pengelolaan pascapanen.

Putus Ketergantungan Tengkulak, Tim Pengabdian UMM beri Edukasi Pascapanen Tembakau
Ketua tim pengabdian, Wahid Muhammad Shodiq, saat memaparkan cara pengelolaan pascapanen kepada istri para petani tembakau. (Djoko W)

“Menjual tembakau basah tanpa pengolahan akan memperoleh harga yang jauh lebih rendah dibandingkan menjual tembakau rajangan, sehingga pendapatan petani menjadi rendah. Oleh karenanya dalam pengabdian ini kami berharap setidaknya mampu meningkatkan pemahaman petani dalam melakukan pengolahan pascapanen,” ujarnya.

Istri Petani Dinilai Memiliki Peran Besar pada Pengelolaan Hasil Panen

Melibatkan ibu-ibu petani dinilai sebagai strategi penting, karena mereka memiliki peran besar dalam aktivitas rumah tangga sekaligus potensi untuk terlibat dalam proses pengolahan hasil panen. Dengan pemahaman yang tepat, keluarga petani tidak lagi hanya berperan sebagai  produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang menciptakan nilai tambah.

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Diskusi berlangsung dinamis, menggambarkan adanya kebutuhan nyata akan pendampingan dan transfer pengetahuan.

Salah satu peserta, Asik, mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi dirinya.

“Kegiatan semacam ini baru pertama kali kami dapatkan, dan ini sangat bermanfaat karena kami diberi informasi bagaimana meningkatkan nilai jual panen kami,” tuturnya.

Secara geografis, Desa Kedungsumber yang berada di wilayah selatan Bojonegoro dan berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk termasuk daerah dengan keterbatasan akses teknologi dan informasi.

Minimnya inovasi pascapanen membuat potensi ekonomi tembakau belum termanfaatkan secara maksimal.

Jika tidak ada intervensi strategis, kondisi ini berisiko menurunkan minat generasi muda untuk melanjutkan usaha tani. Selain itu, akan  mengancam keberlanjutan pertanian tembakau di daerah tersebut.

Melalui program ini, UMM berupaya mendorong perubahan paradigma: dari sekadar panen dan jual cepat, menjadi produksi yang berorientasi nilai tambah. Penguatan kapasitas masyarakat berbasis teknologi tepat guna dan kearifan lokal diharapkan menjadi pintu masuk menuju peningkatan kesejahteraan keluarga petani.

Di tengah tantangan sektor pertanian nasional, langkah kecil dari Desa Kedungsumber ini menjadi pesan penting. Solusi kesejahteraan petani tidak selalu dimulai dari lahan yang lebih luas. Akan tetapi, dari kemampuan mengolah hasil panen dengan lebih cerdas dan bernilai. (Djoko W)