Bahas Sosiologi Militer Pascakonflik di Ujian Promosi Doktor, Julio Tomas Pinto Lulus Doktor di UMM

Malangpariwara.com – Mantan Menteri Pertahanan Timor-Leste, Julio Tomas Pinto, laksanakan Ujian Promosi Doktor yang berlangsung di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang pada 14 Februari 2026. Dalam Ujian Promosi Doktor-nya, ia membahas tentang transformasi militer dari kekuatan perjuangan menjadi institusi professional.

Disertasinya mengkaji profesionalisasi militer Timor-Leste sebagai fondasi penting bagi konsolidasi demokrasi serta stabilitas negara pascakonflik.

Bahas Sosiologi Militer Pascakonflik, Mantan Menhan Timor-Leste Lulus Doktor di UMM
Pelaksanaan Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto di Aula GKB 4 UMM (Ist)

Penelitian tersebut menelaah perubahan mendasar pada struktur dan kultur militer, sekaligus mengurai relasi antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam masa transisi politik.

Fokus kajian ini menegaskan bahwa transformasi institusional tidak terlepas dari dinamika sosial dan sejarah yang melingkupinya.

Jejak akademik Julio memiliki hubungan erat dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada 1993, ia menempuh studi di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UMM dan menyelesaikannya pada 1998.

“Ketika saya sudah mulai punya waktu untuk belajar lagi, saya memilih kembali ke UMM. Selain di sini saya sudah kenal kultur akademiknya, saya juga tertarik dengan Sosiologi Militer dan minta dibimbing oleh pakarnya, Prof. Muhadjir Effendy. Alhamdulillah beliau berkenan,” tutur Julio. Pernyataan tersebut menunjukkan kedekatan emosional sekaligus komitmennya terhadap pengembangan keilmuan di almamaternya.

Tokoh Penting Timor-Leste Hadir dalam Ujian Promosi Doktor

Sidang promosi doktor ini dihadiri tidak hanya oleh sivitas akademika, tetapi juga sejumlah pejabat penting dari Timor-Leste. Kehadiran para tokoh tersebut memperkuat dimensi diplomatik sekaligus menegaskan signifikansi strategis tema disertasi bagi pembangunan nasional.

Dalam pemaparannya, Julio menegaskan bahwa sosiologi militer memandang militer bukan semata institusi pertahanan, melainkan entitas sosial dengan struktur, budaya, dan relasi kuasa yang dinamis.

Ia menelusuri perubahan militer Timor-Leste dari pasukan gerilya pembebasan menjadi tentara profesional dalam kerangka negara demokratis.

“Kajian ini dilakukan secara interdisipliner dengan memadukan perspektif sosiologi politik, sejarah sosial, organisasi, hingga antropologi. Profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan negara besar. Transformasi militer Timor-Leste bukan penghapusan total identitas lama, tetapi proses redefinisi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern,” ungkapnya. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa perubahan institusi berlangsung melalui proses adaptasi nilai dan identitas.

Ia juga memandang profesionalisasi militer sebagai proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar pembenahan struktur formal.

Dalam banyak konteks pascakonflik, profesionalisme kerap dipahami sebatas modernisasi alutsista dan sistem komando. Pada kenyataannya, tantangan terbesarnya terletak pada pembentukan kultur institusi, legitimasi publik, serta penguatan kontrol sipil dalam demokrasi.

Julio menjelaskan bahwa pada masa transisi pascareferendum 1999 dan pembentukan negara baru, muncul perdebatan antara mempertahankan struktur lama atau membangun militer yang sepenuhnya baru.

Timor-Leste akhirnya memilih jalur transformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional dengan tetap menjaga spirit historisnya. Sementara krisis politik 2006 menjadi momentum percepatan regulasi, profesionalisme, dan supremasi sipil.

Bahas Sosiologi Militer Pascakonflik, Mantan Menhan Timor-Leste Lulus Doktor di UMM
Julio Tomas Pinto saat diwawancarai oleh media (Ist)
Hasil Penelitian Terkait Profesionalisme Militer di Negara Pascakonflik

“Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme militer di negara pascakonflik berkembang melalui negosiasi antara struktur institusional modern dan nilai-nilai perjuangan masa lalu. Krisis, konflik internal, serta tekanan internasional turut berperan sebagai katalis perubahan. Dalam konteks ini, militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang dibentuk melalui sejarah panjang perjuangan,” ujarnya. Temuan tersebut menempatkan militer sebagai bagian integral dari proses pembentukan identitas dan stabilitas negara.

Sementara itu, salah satu promotor, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., menilai disertasi ini memberi kontribusi signifikan bagi pengembangan studi sosiologi militer, khususnya di Asia Tenggara. Ia menyebut penelitian tersebut menghadirkan perspektif baru tentang transformasi militer di negara pascakonflik melalui proses sosial yang kompleks.

Menurutnya, profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari demokratisasi. Ia menegaskan bahwa militer dapat tumbuh sebagai institusi profesional tanpa harus memutus akar sejarah perjuangannya. Selain itu, masa lalu dapat dikelolanya sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi dan kepercayaan publik dalam sistem negara demokratis. (Djoko W)