Malangpariwara.com – Inovasi berbasis riset kembali ditunjukkan akademisi Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya melalui penerapan teknologi pengolahan limbah ternak di Desa Secang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.
Program ini dipimpin oleh Dr. Yusron Sugiarto, STP, yang mengubah limbah kotoran kambing menjadi pupuk organik bernilai jual bagi masyarakat.
Berbeda dari aktivitas laboratorium pada umumnya, Dr. Yusron menjadikan kandang kambing milik warga sebagai ruang praktik langsung penerapan ilmu bioproses.
Kondisi awal di lokasi menunjukkan tumpukan limbah kotoran kambing yang belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun secara kandungan nutrisi memiliki potensi tinggi sebagai pupuk alami.
Secara ilmiah, kotoran kambing mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat dibutuhkan tanaman.
Bahkan, hasil penelitian menunjukkan produktivitas tanaman yang menggunakan pupuk kotoran kambing lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk dari kotoran sapi.
Namun keterbatasan pengetahuan, teknologi, serta fasilitas menjadi kendala utama pemanfaatannya oleh masyarakat.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim menghadirkan teknologi tepat guna berupa mesin perajang dan penggiling serbaguna berkapasitas 100–150 kilogram per jam.
Mesin ini dilengkapi variasi saringan yang memungkinkan penyesuaian tingkat kehalusan bahan, sehingga mempercepat proses fermentasi dan menghasilkan pupuk yang lebih berkualitas.
Selain itu, tim juga membangun fasilitas rumah produksi sederhana menggunakan bahan bambu dan plastik UV.
Fasilitas ini berfungsi menjaga stabilitas suhu dan kelembaban selama proses fermentasi, sehingga kualitas pupuk tetap terjaga meskipun dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah.
Dalam aspek teknis, Dr. Ria Dewi Andriani turut berkontribusi melalui penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi pupuk organik yang sistematis dan mudah diterapkan.
Proses produksi meliputi tahapan persiapan bahan, pencampuran, fermentasi selama 14 hingga 21 hari, hingga proses pematangan dan penyimpanan.
Sementara itu, Dr. Taufiq Ismail berperan dalam pendekatan komunikasi kepada masyarakat, memastikan seluruh materi pelatihan dapat dipahami dengan baik oleh para pelaku UMKM pertanian di desa tersebut.
Program ini juga menunjukkan dampak nyata dalam peningkatan pengetahuan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman signifikan setelah pelatihan, yang ditandai dengan kenaikan nilai dari pre-test ke post-test.
Dari sisi ekonomi, pemanfaatan limbah ini terbukti memberikan peluang usaha baru. Dengan biaya produksi yang relatif rendah dan bahan baku yang mudah diperoleh, masyarakat dapat menghasilkan pupuk organik dengan margin keuntungan yang menjanjikan.
Produk yang sebelumnya dianggap limbah kini berubah menjadi komoditas bernilai jual.
Melalui program ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mampu mengelola limbah secara ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Inovasi ini menjadi contoh nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat dalam menciptakan solusi berkelanjutan.(Djoko W)






