Inovasi UB: Alat Deteksi Dini Hipotiroid Bayi Baru Lahir Lebih Akurat dan Terjangkau

Malangpariwara.com – Tim peneliti dari Universitas Brawijaya (UB) kembali menghadirkan inovasi di bidang kesehatan dengan mengembangkan alat deteksi dini penyakit hipotiroid pada bayi baru lahir.

Inovasi UB: Alat Deteksi Dini Hipotiroid Bayi Baru Lahir Lebih Akurat dan Terjangkau
Prof. Aulanni’am ketua riset yang memanfaatkan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) sebagai sistem diagnostik .(Ist)

Riset yang dipimpin oleh Aulanni’am ini memanfaatkan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) sebagai sistem diagnostik yang mampu meningkatkan akurasi dan sensitivitas deteksi gangguan hormon tiroid sejak dini.

Inovasi ini menjawab tantangan dunia medis dalam mendeteksi hipotiroid kongenital yang kerap sulit dikenali karena minimnya gejala awal. Padahal, kondisi tersebut berpotensi berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak apabila tidak segera ditangani.

Secara teknis, alat ini bekerja dengan memanfaatkan antibodi poliklonal yang dihasilkan melalui induksi protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH).

Protein tersebut berfungsi sebagai antigen spesifik untuk merangsang sistem imun menghasilkan antibodi dengan afinitas tinggi terhadap biomarker hormon tiroid.

Keunggulan antibodi poliklonal ini terletak pada kemampuannya mengenali berbagai epitop dari satu antigen, sehingga meningkatkan peluang deteksi dalam sampel biologis.

Dalam penggunaannya, sistem ini terintegrasi dengan metode ELISA, yakni teknik analisis berbasis reaksi antigen-antibodi yang dilengkapi indikator enzimatik.

Ketika sampel darah bayi diuji, akan terjadi reaksi yang memicu perubahan warna. Intensitas warna tersebut kemudian diukur secara optik untuk menentukan konsentrasi biomarker hormon tiroid secara kuantitatif dan objektif.

“Hipotiroid kongenital merupakan gangguan endokrin yang harus dideteksi sedini mungkin karena berdampak besar pada tumbuh kembang anak. Melalui inovasi ini, kami berupaya menghadirkan metode deteksi yang lebih presisi guna mendukung program skrining kesehatan bayi di Indonesia,” ujar Prof. Aulanni’am.

Keunggulan alat ini terletak pada tingkat sensitivitas yang tinggi, sehingga mampu mendeteksi kadar hormon dalam konsentrasi sangat rendah, bahkan sebelum muncul gejala klinis.

Selain itu, spesifisitasnya juga meningkat berkat penggunaan antibodi yang dirancang secara khusus, menjadikannya lebih unggul dibanding metode konvensional.

Dari sisi pengembangan, alat ini dirancang dalam bentuk prototipe kit diagnostik yang praktis dan berpotensi diproduksi massal.

Penggunaan bahan berbasis riset dalam negeri, khususnya pada pengembangan protein rekombinan dan antibodi, turut menekan biaya produksi sehingga diharapkan lebih terjangkau dibanding produk impor.

Tak hanya itu, teknologi ini juga memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas sebagai platform diagnostik berbagai penyakit lain, cukup dengan mengganti target antigen yang digunakan.

Hal ini menjadikan inovasi tersebut sebagai langkah strategis dalam penguatan teknologi biomedis nasional.

Saat ini, alat tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum dipasarkan. Namun, inovasi ini telah menarik perhatian industri, termasuk PT Bio Farma (Persero), untuk dikembangkan ke skala industri agar dapat dikomersialisasikan dan dimanfaatkan secara luas di masa mendatang.

Dengan hadirnya alat ini, diharapkan proses skrining bayi baru lahir di Indonesia dapat dilakukan lebih cepat, akurat, dan efisien, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta masa depan generasi bangsa.(Djoko W)