Keluhan Obat Pasien BPJS Jadi Evaluasi, RSI Unisma Janjikan Perbaikan Pelayanan

Malangpariwara.com – Manajemen Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang memberikan klarifikasi terkait keluhan keterlambatan obat yang dialami sejumlah pasien BPJS Kesehatan, termasuk pasien bernama Cahyono yang sebelumnya mengaku harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan obat yang diresepkan dokter.

Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh jajaran manajemen RSI Unisma kepada Malangpariwara.com.

Dalam pertemuan tersebut manajemen RSI Unisma diantaranya Nofa Diana, SH., MM selaku Pelayanan Hukum-HRD RSI, Indah Sri Widayati, S.Kep., Ns selaku Kepala Bidang Keperawatan, Dewi Marwahtiningsih, SE selaku Kepala Unit Keuangan, Apt. Wara Rejeki, S.Si selaku Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Medis, serta Nikmatul Laila, S.P selaku Koordinator Humas.

Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Medis RSI Unisma, Apt. Wara Rejeki, S.Si, mengakui bahwa rumah sakit memang mengalami kendala dalam rantai distribusi obat sehingga menyebabkan keterlambatan pemenuhan sebagian resep pasien.

“Rumah sakit sudah melakukan evaluasi internal terkait distribusi obat. Memang ada beberapa obat yang mengalami kendala pasokan sehingga berdampak pada keterlambatan penerimaan obat oleh sebagian pasien,” ujar Wara Rejeki.

Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa rumah sakit terus berupaya melakukan perbaikan agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut dan tidak kembali terjadi di masa mendatang.

Menurutnya, sejumlah pasien yang sempat mengalami keterlambatan sudah mulai mendapatkan penyelesaian secara bertahap. Termasuk pasien atas nama Cahyono yang sebelumnya menjadi sorotan.

“Untuk pasien yang sempat menunggu, kami berupaya menyelesaikannya satu per satu. Obat yang sebelumnya belum tersedia telah datang dan sudah diserahkan kepada pasien melalui keluarganya,” jelasnya.

Wara menerangkan bahwa proses pengadaan obat melibatkan berbagai tahapan mulai dari pemesanan, pengiriman hingga penerimaan barang. Selain itu, kondisi kekosongan stok di tingkat distributor juga turut memengaruhi ketersediaan obat di rumah sakit.

“Ada beberapa tahapan dalam rantai distribusi. Kadang juga terjadi kekosongan di distributor. Ini menjadi bahan evaluasi kami agar proses antisipasi dapat dilakukan lebih awal sehingga pelayanan kepada pasien tidak terganggu,” katanya.

Suasana antrian rawat jalan di RSI Unisma(Djoko W)

Ia menambahkan, tingginya jumlah kunjungan pasien rawat jalan di RSI Unisma juga berpengaruh terhadap perputaran dan kebutuhan obat.

Dalam satu bulan, kunjungan rawat jalan di RSI Unisma mencapai sekitar 3.000 pasien dari berbagai layanan spesialis.

Dengan jumlah kunjungan yang cukup besar tersebut, pihak rumah sakit berkomitmen untuk terus meningkatkan sistem pengelolaan obat agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi secara optimal.

“Kami berharap dapat terus memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien, termasuk peserta BPJS Kesehatan, sehingga pasien mendapatkan obat tepat waktu dan sesuai kebutuhan medisnya,” imbuh Wara.

Sementara itu, Kepala Bagian SDM, Umum dan Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Cabang Malang, Dody, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi langsung dengan manajemen RSI Unisma terkait persoalan tersebut.

Menurut Dody, pertemuan antara BPJS Kesehatan dan manajemen RSI Unisma telah berlangsung pada Jumat lalu.

Dalam pertemuan tersebut, rumah sakit menyampaikan bahwa proses pemesanan obat yang mengalami kekosongan telah dilakukan.

“Hasil pertemuan dengan manajemen rumah sakit, pemesanan obat sudah dilakukan dan estimasi kedatangan paling lambat awal Juli 2026,” ujarnya.

Namun demikian, BPJS Kesehatan meminta agar rumah sakit tetap melakukan langkah-langkah pemenuhan kebutuhan obat bagi pasien yang membutuhkan secara mendesak tanpa harus menunggu seluruh stok datang pada awal Juli.

“Kami menyampaikan kepada manajemen RSI Unisma agar pasien yang membutuhkan obat dalam waktu dekat tetap diprioritaskan pemenuhannya dan tidak harus menunggu hingga awal Juli,” tegas Dody.

Terkait pasien atas nama Cahyono, BPJS Kesehatan juga memperoleh informasi dari bagian farmasi RSI Unisma bahwa seluruh obat telah diberikan setelah stok obat datang.

Informasi tersebut dibenarkan oleh Cahyono. Pasien peserta BPJS Kesehatan itu mengaku seluruh obat yang diresepkan dokter kini telah diterimanya. Obat tersebut diambil oleh istrinya pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Dengan adanya klarifikasi ini, RSI Unisma menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembenahan sistem pelayanan dan distribusi obat guna memastikan kebutuhan pasien dapat terpenuhi secara optimal serta mencegah terulangnya keterlambatan serupa di kemudian hari.(Djoko W)