BOUMI Lahir dari Kampus: Inovasi Personal Care Anak Berbasis Atsiri Nusantara dari Universitas Brawijaya

Malangpariwara.com — Universitas Brawijaya (UB) resmi meluncurkan BOUMI, brand personal care anak berbasis bahan alami dan essential oil yang dirancang khusus untuk usia 4–14 tahun.

Kehadiran BOUMI tidak sekadar menjadi langkah komersialisasi produk, tetapi juga menandai tonggak penting dalam penguatan ekosistem inovasi kampus yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Peluncuran ini dibangun di atas model kolaborasi Penta Helix ABCGM yang melibatkan berbagai pihak strategis, yakni akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

Perskonfrenes bersama beberapa narasumber pengenalan Boumi.( Djoko W )

Dalam hal ini, UB berkolaborasi dengan Martha Tilaar Group melalui Cedefindo sebagai mitra industri, serta didukung komunitas wisata keluarga Batu Love Garden (Jatim Park), pemerintah melalui Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi serta BMU UB, dan peran media dalam memperluas jangkauan inovasi.

Menjawab Kebutuhan yang Selama Ini Terabaikan.

BOUMI hadir untuk mengisi celah di pasar personal care anak yang selama ini belum terjawab optimal.

Produk bayi dinilai terlalu ringan untuk anak usia sekolah yang aktif, sementara produk dewasa justru terlalu keras bagi kulit anak yang masih berkembang.

Kaprodi Kesehatan Kulit UB, Dr. Sinta, menjelaskan bahwa kulit anak memiliki struktur yang lebih tipis dan rentan terhadap iritasi.

Karena itu, BOUMI diformulasikan dengan pendekatan dermatologi pediatrik, seperti pH-balanced, bebas pewangi sintetis keras, serta menggunakan bahan yang mendukung perkembangan skin barrier anak secara optimal.

Mengangkat Potensi Atsiri Nusantara

Keunggulan BOUMI terletak pada pemanfaatan minyak atsiri lokal sebagai basis utama formulasi. Indonesia yang dikenal sebagai salah satu produsen minyak atsiri terbesar dunia seperti nilam, cengkeh, hingga jahe merah. selama ini lebih banyak mengekspor bahan mentah tanpa nilai tambah tinggi.

Kepala Institut Atsiri UB, Prof. Warsito, menegaskan bahwa BOUMI mengubah paradigma tersebut.

Senyawa aktif dari atsiri tidak hanya berfungsi sebagai aroma, tetapi juga memiliki manfaat antimikroba, antiinflamasi, dan melembapkan kulit anak. Seluruh produk telah melalui uji keamanan dan efikasi ketat sebelum diproduksi massal.

Inovasi Sunscreen dari Limbah Rambut Jagung

Salah satu terobosan paling menarik dalam lini BOUMI adalah Hi-To-Go Sun Protector SPF 30+ yang memanfaatkan stigma silk atau rambut jagung sebagai bahan aktif.

Inovasi ini dikembangkan oleh Dr. Ocha dari UB yang menemukan kandungan ferulic acid dan fldakah d dalam rambut jagung memiliki kemampuan menyerap sinar UV.

Produk ini telah melalui uji SPF baik secara in vitro maupun in vivo dan memenuhi standar perlindungan untuk anak di iklim tropis.

Selain itu, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani jagung, karena limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kolaborasi Penta Helix yang Terintegrasi.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama UB, Prof. Unti Ludigdo, menyebut BOUMI sebagai contoh nyata keberhasilan model Penta Helix ABCGM.

UB berperan dalam riset dan pengembangan, Cedefindo memastikan standar produksi industri, Batu Love Garden menjadi jalur distribusi ke segmen keluarga, sementara BMU UB mengelola skema bisnis berkelanjutan.

Kolaborasi ini memastikan bahwa inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan benar-benar sampai ke masyarakat dalam bentuk produk berkualitas dan berdaya saing.

Tujuh Produk untuk Anak Aktif

BOUMI hadir dengan tujuh varian produk yang dirancang untuk mendukung aktivitas harian anak, mulai dari shampoo, body wash, sunscreen, cologne, body spray anti-nyamuk, hand wash, hingga pomade.

Edukasi pengunjung mencoba meramu sendiri minyak atsiri .(Djoko W)

Seluruhnya dikemas dengan pengalaman sensorik yang menyenangkan, mulai dari aroma, tekstur, hingga desain kemasan yang ramah anak.

Dengan peluncuran ini, UB menegaskan komitmennya untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“BOUMI bukan sekadar produk. Ini adalah bukti bahwa inovasi dari kampus Indonesia mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus bersaing di tingkat global,” demikian pesan yang menguat dari peluncuran tersebut.(Djoko W)