Ujian Tanpa Batas: Difabel Taklukkan UTBK di UB dengan Kemandirian Penuh

Malangpariwara.com – Semangat kemandirian terpancar dari ruang Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Brawijaya, Kamis (23/4/2026).

Di tengah suasana hening ujian, Ahmad Saikun Najib, peserta difabel netra, tampak fokus menyimak instruksi soal yang mengalir melalui headset.

Dengan bantuan teknologi pembaca layar, ia mampu menuntaskan seluruh soal secara mandiri tanpa pendampingan langsung.

Ahmad menjadi satu dari 12 peserta difabel yang mengikuti UTBK di kampus tersebut tahun ini.

Bagi Ahmad, keberadaan screen reader menjadi kunci utama dalam menjawab soal.

Perangkat tersebut mengubah teks menjadi suara, sehingga ia dapat memahami dan menavigasi setiap pertanyaan secara mandiri.

“Dengan alat pembaca layar, kami bisa mengerjakan ujian sendiri. Sangat membantu,” ujarnya usai menyelesaikan ujian.

Namun, perjalanan menuju hari ujian tidaklah mudah. Ahmad mengaku harus berjuang ekstra dalam mempersiapkan diri, terutama saat belajar mandiri melalui platform daring.

Ia kerap menemui kendala ketika materi hanya menampilkan jawaban tanpa menjelaskan bentuk visual soal.

“Kadang hanya disebut jawabannya, tapi kami tidak tahu bentuk soalnya seperti apa. Itu cukup membingungkan,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Ahmad memilih belajar bersama temannya yang telah lebih dulu mengikuti UTBK tahun sebelumnya. Cara ini dinilai lebih efektif dalam memahami konteks soal yang tidak sepenuhnya dapat diakses secara audio.

Pengalaman serupa juga dirasakan Darrel, peserta netra asal Blitar. Ia mengaku fasilitas yang disediakan kampus membuatnya dapat berkonsentrasi penuh mengerjakan soal tanpa hambatan berarti.

Dari total 12 peserta difabel, lima di antaranya merupakan penyandang tuli, tiga tunadaksa, dua netra, dan dua low vision. Masing-masing memiliki kebutuhan khusus yang difasilitasi secara berbeda oleh panitia.

Pendampingan pengawas kepada peserta disabilitas netra utk memastikan kelancaran UTBK di UB.(Ist)

Dukungan tersebut tidak lepas dari peran Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (SLDPI) UB yang telah mempersiapkan berbagai aspek teknis sejak awal. Mulai dari pemilihan lokasi ujian di lantai satu untuk kemudahan akses, hingga penyediaan juru bahasa isyarat dan juru ketik bagi peserta tuli.

Mahalli, perwakilan SLDPI UB, menjelaskan bahwa seluruh panitia dan pengawas telah mendapatkan pelatihan khusus terkait kesadaran disabilitas. Hal ini penting agar interaksi dengan peserta tetap menghargai kemandirian mereka.

“Kami tidak memaksakan bantuan. Jika peserta mampu mandiri, itu yang kami dukung,” jelasnya.

Meski demikian, Mahalli menilai masih ada kekurangan dalam sistem seleksi nasional, khususnya bagi peserta dengan low vision. Ia menyebut fitur perbesaran layar yang ada justru memperlambat proses membaca karena tampilan menjadi terlalu terbatas.

“Sering kali satu kata bisa memenuhi satu layar. Ini jelas menghambat waktu,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti belum terakomodasinya kategori disabilitas mental seperti autisme dan ADHD dalam sistem pendaftaran nasional. Kondisi ini menyulitkan kampus untuk menyiapkan dukungan yang tepat sejak awal.

Pelaksanaan UTBK inklusif di Universitas Brawijaya ini menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan dukungan fasilitas yang tepat dan semangat mandiri, para peserta difabel membuktikan bahwa mereka mampu bersaing setara dalam meraih masa depan.(Djoko W)