Malangpariwara.com – Program AFRASIA (Programme Validation & Stakeholder Strategic Engagement Workshop) di Universitas Negeri Malang presmi ditutup pada Jumat (8/5/2026) di Aula Rektorat Lantai 9 UM.
Kegiatan internasional tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi negara-negara selatan guna menjawab berbagai tantangan global, khususnya di bidang kesehatan, air, dan energi.

Workshop yang telah berlangsung sejak Selasa (6/5/2026) itu dihadiri delegasi dari empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan, dan Tanzania.
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan di lingkungan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Yos Sunitiyoso, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi internasional dan pihak tuan rumah atas terselenggaranya forum kolaborasi tersebut.
Ia menyebut, selama tiga hari pelaksanaan workshop, para peserta telah membahas berbagai peluang kerja sama strategis dan memperkuat hubungan antar lembaga melalui pertemuan langsung yang dinilai mampu membangun koneksi yang lebih kuat.
“Kami telah sampai di hari ketiga acara ini. Berbagai poin penting terkait potensi kerja sama telah dibahas dan saya percaya pertemuan langsung dengan para mitra internasional selama beberapa hari terakhir telah menambah koneksi yang sangat vital dalam kerja sama ini,” ujarnya.

Prof. Yos juga menyampaikan terima kasih kepada Universitas Negeri Malang selaku tuan rumah yang dinilai berhasil menghadirkan lingkungan diskusi yang produktif sekaligus memberikan sambutan hangat kepada para delegasi internasional.
Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan implementasi program berjalan efektif dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat di kawasan Asia dan Afrika.
“Tujuan kami adalah menciptakan program yang tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga berdampak besar bagi masyarakat serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia dan Afrika,” katanya.
Dalam forum tersebut turut hadir Ketua Pusat Inovasi Teknologi Sains Internasional, Pusat Teknologi dan Inovasi, Prof. Muhammad Basharuddin Abdullah Rahman, Pelaksana Tugas Manajer Eksekutif Yayasan Riset Nasional Afrika Selatan Prof. Muhammad Makhubesha Hadi, serta Kepala Bidang Sains Malaysia Science and Global Akademi Sains Malaysia, Liva Saman.
Selain itu, sejumlah perwakilan perguruan tinggi ternama dari Indonesia maupun luar negeri juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Prof. Yos menegaskan, keberhasilan program AFRASIA sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, dan mitra strategis lainnya.
Menurutnya, hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium maupun publikasi ilmiah semata, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
“Kami ingin memastikan hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi aplikasi hilirisasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah menjadi kunci utama keberhasilan program ini,” pungkasnya.

Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., menyampaikan bahwa tiga isu utama yang menjadi fokus kerja sama AFRASIA telah disepakati sejak pertemuan sebelumnya di Pretoria, yakni kesehatan, air, dan energi.
“Ketiga isu ini dipilih karena menjadi persoalan utama di setiap negara. Kami ditugaskan untuk menjembatani kerja sama melalui ISTIC yang mengoordinasikan berbagai kegiatan di bawah UNESCO,” jelasnya.
Ia menambahkan, AFRASIA merupakan inisiatif yang baru dicetuskan pada tahun lalu, meskipun berbagai kegiatan kolaboratif sebenarnya telah lebih dahulu berjalan.
Ke depan, program ini akan mendorong riset bersama yang berdampak langsung bagi masyarakat. Riset tersebut akan dikompetisikan di antara negara selatan-selatan.
Pendekatan multidisiplin juga menjadi fokus dalam pelaksanaan program, tidak hanya dari sisi sains, tetapi juga aspek sosial. Dampak penelitian terhadap masyarakat akan menjadi indikator utama keberhasilan program.
“Luaran yang diharapkan tidak hanya berupa produk, tetapi juga perubahan sosial yang nyata. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat merasakan manfaatnya,” tegas Markus.
Melalui AFRASIA, UM berharap dapat memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring kolaborasi global serta mendorong solusi inovatif berbasis riset untuk menjawab tantangan pembangunan di negara-negara selatan. (Djoko W)






