MALANGPARIWARA.COM – Paradigma olahraga di Indonesia dinilai perlu diubah. Olahraga tidak semestinya dipandang sebagai beban biaya atau sekadar pengeluaran anggaran, tetapi harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang yang mampu menggerakkan perekonomian sekaligus menjaga kualitas kesehatan masyarakat.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan, pembangunan ekosistem olahraga membutuhkan kesamaan visi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai pemerintah, komunitas, Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), hingga PGRI.
Menurut Erick, aktivitas olahraga memiliki dampak ekonomi yang luas. Setiap penyelenggaraan pertandingan maupun kegiatan olahraga dapat mendorong transaksi tiket, kuliner, UMKM, hingga penerimaan pajak.
“Persepsi bahwa olahraga adalah biaya itu salah. Olahraga adalah investasi yang menciptakan keekonomian. Ada pertandingan, ada penjualan tiket, transaksi kuliner, hingga perputaran pajak. Jadi ini jelas investasi, bukan sekadar pengeluaran,” tegasnya.
Di sisi lain, olahraga juga menjadi investasi kesehatan yang penting untuk menghadapi bonus demografi Indonesia.
Dengan sekitar 125 juta penduduk berusia di bawah 30 tahun, kebiasaan hidup aktif sejak usia dini dinilai menjadi bagian penting dalam menekan beban kesehatan di masa mendatang.
“Jika masyarakat tidak terbiasa berolahraga sejak dini, ongkos kesehatan di masa depan akan makin tinggi ketika usia mereka bertambah. Olahraga adalah investasi kesehatan untuk menekan biaya tersebut,” ujarnya.
Erick menambahkan, olahraga bukan hanya berkaitan dengan kesehatan dan ekonomi.
Prestasi atlet di berbagai ajang internasional juga menjadi bagian dari kebanggaan nasional ketika Merah Putih berkibar di panggung dunia.
Dorong CFD di 514 Kabupaten/Kota
Untuk memperluas budaya olahraga di tengah masyarakat, pemerintah juga mendorong pelaksanaan Car Free Day (CFD) secara masif di seluruh Indonesia. Targetnya, CFD dapat berkembang di 514 kabupaten/kota.
Kota Malang menjadi salah satu daerah yang dinilai berhasil menjalankan CFD secara berkelanjutan.
Selain mendorong masyarakat beraktivitas fisik, CFD juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, khususnya sektor kuliner.
“Di CFD, orang berolahraga sekaligus ada transaksi ekonomi. Komunitas seperti KORMI bisa masuk mengisi kegiatan, mulai dari senam hingga olahraga rekreasi lainnya. Dari masyarakat untuk masyarakat,” jelasnya.
Saat ini, pelaksanaan CFD baru menjangkau sekitar 200-an kabupaten/kota. Pemerintah optimistis kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, dan organisasi olahraga dapat memperluas pelaksanaannya hingga seluruh wilayah Indonesia.
Menjelang momentum 100 tahun Sumpah Pemuda, Erick juga mendorong pemuda dan komunitas olahraga untuk terus terlibat aktif dalam membangun ekosistem olahraga.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar olahraga tidak berhenti sebagai aktivitas fisik, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi, kesehatan, sekaligus sarana pembentukan karakter generasi muda.
Dengan paradigma tersebut, olahraga diharapkan tidak lagi dilihat sebagai pos pengeluaran, melainkan investasi strategis untuk menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, sekaligus memperkuat perekonomian nasional.(Djoko W)






