Film Rindu Alumni UNITRI Tembus Juara Nasional, Angkat Toleransi Antarumat Beragama

MALANGPARIWARA.COM  – Tak sekadar menjadi portofolio setelah lulus kuliah, film Rindu karya alumni Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang justru melesat ke panggung nasional.

Karya produksi ORBITRA Creative itu berhasil meraih Juara 2 Festival Film Santri Nasional 2026.

Film yang mengangkat isu toleransi antarumat beragama tersebut dinilai memiliki kekuatan cerita karena berangkat dari pengalaman sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Prestasi itu sekaligus membawa nama UNITRI ke salah satu ajang perfilman santri tingkat nasional.

Festival Film Santri Nasional 2026 digelar Pesantren Fest bersama Nahdlatul Ulama (NU) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU).

Atas prestasinya, ORBITRA Creative memperoleh hadiah uang tunai Rp2 juta, sertifikat, trofi, dan piala penghargaan.

Di balik capaian tersebut terdapat tim kecil yang menggabungkan kemampuan akademik, pengalaman lapangan, dan keberanian bereksperimen.

Andi Kurniawan Saputra bertindak sebagai sutradara, penulis naskah sekaligus editor. Febrian Maulana menjadi produser dan gaffer, sedangkan Adam Pramudian bertugas sebagai kamerawan.

Sementara itu, film Rindu diperankan Fathur Rahman, Thomas Asduan Alfandy Shinky Oby, dan Anjelita Sepdiana Delvista Billy.

Salah satu sosok penting dalam produksi tersebut adalah Febrian Maulana. Ia baru menyelesaikan studi di Program Studi Ilmu Komunikasi UNITRI dan mengikuti Wisuda UNITRI Periode ke-52 pada Agustus 2026.

Febrian juga merupakan alumni Pesantren Darunna’im, Pontianak, Kalimantan Barat.

Menariknya, kemenangan itu justru tidak pernah menjadi target utama ketika film dibuat.

Sejak awal, Rindu diposisikan sebagai ruang bagi tim untuk menguji kemampuan sekaligus menjadi portofolio setelah menyelesaikan sidang. Namun, karya yang dibuat tanpa beban ekspektasi tersebut justru mampu bersaing dan meraih posisi kedua di tingkat nasional.

“Awalnya tidak ada ekspektasi untuk menang. Kami menganggap ini sebagai portofolio saja. Tapi ternyata film kami mendapatkan kemenangan. Ini merupakan langkah awal untuk berkarya lebih baik lagi,” kata Febrian.

Toleransi Tak Cukup Diucapkan

Kekuatan Rindu terletak pada isu yang diangkat. Film ini tidak sekadar berbicara tentang toleransi sebagai slogan, tetapi mencoba mempertanyakan bagaimana toleransi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sosial.

Gagasan cerita berangkat dari kegelisahan sang sutradara melihat praktik toleransi yang terkadang berhenti pada ucapan. Padahal, menghargai perbedaan membutuhkan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman pribadi sang sutradara kemudian menjadi bahan bakar cerita. Ketika pernah tinggal satu kos dengan teman berbeda agama, ia menemukan pengalaman sosial yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerita sinema.

Pesan tersebut dipertegas melalui film bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk membangun jarak. Toleransi justru diuji ketika seseorang berhadapan langsung dengan perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Tuhan sudah memberikan cara untuk bertoleransi. Tugas kita hanya merealisasikannya untuk saling bertoleransi antarumat beragama,” ujar Febrian.

Komunikasi Tim Jadi Kunci

Produksi Rindu dikerjakan dalam waktu relatif singkat. Mulai dari persiapan, pengambilan gambar hingga proses penyuntingan harus dilakukan secara efektif.

Dalam kondisi tersebut, tantangan terbesar ternyata bukan kamera, perangkat produksi, maupun persoalan teknis. Justru komunikasi antarpersonel dan kemampuan menekan ego menjadi faktor penting agar karya tetap berada di jalur yang sama.

“Kami dalam tim terbiasa dengan komunikasi to the point. Tantangan terbesarnya justru bagaimana membuang ego masing-masing untuk tujuan bersama,” tuturnya.

Pengalaman belajar di Program Studi Ilmu Komunikasi UNITRI turut memberi fondasi dalam proses kreatif tersebut. Bekal akademik digunakan untuk membangun gagasan, sementara kemampuan kreatif menjadi modal untuk menghadapi persoalan yang muncul selama produksi.

“Akademik menjadi fundamental kami dalam mencari ide kreatif, sementara unsur kreatif kami gunakan untuk memecahkan masalah yang ada di lapangan,” katanya.

Bukan Tugas Akhir, Justru Jadi Prestasi Nasional

Febrian menegaskan Rindu bukanlah film yang dibuat sebagai tugas akhir kuliah. Film tersebut lahir setelah seluruh anggota tim menyelesaikan sidang sebagai bentuk selebrasi sekaligus pembuktian bahwa proses belajar tidak harus berhenti ketika kuliah selesai.

Dari gagasan sederhana itu, mereka kemudian mengambil kesempatan mengikuti kompetisi hingga akhirnya berhasil membawa pulang penghargaan nasional.

Film Rindu selanjutnya diputar dalam sesi nonton bareng dan diskusi di Laboratorium Ilmu Komunikasi UNITRI, Kamis (3/9). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi alumni, mahasiswa, dan dosen untuk membedah pesan film, proses kreatif, hingga pengalaman produksi yang melatarbelakanginya.

Bagi tim ORBITRA Creative, penghargaan tersebut bukan garis akhir. Justru kemenangan itu dianggap sebagai pijakan awal untuk menghasilkan karya yang lebih matang.

“Kami menjadikan karya sebagai bahan bakar untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya,” ujar Febrian.

Alumni UNITRI Dorong Mahasiswa Berani Berkarya

Pengalaman tersebut juga menjadi pesan kuat bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNITRI agar tidak terjebak pada rasa minder ketika harus berkompetisi dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain.

Febrian menilai kampus bukan penentu tunggal kapasitas seseorang dalam berkarya. Keberanian mencoba, kemampuan berkomunikasi, dan kemauan mengembangkan kreativitas jauh lebih menentukan.

“Buang rasa minder itu. Kita hanya beda bangunan, bukan beda kapasitas kreatifnya,” tegasnya.

Capaian ORBITRA Creative di Festival Film Santri Nasional 2026 diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNITRI untuk lebih berani memproduksi karya dan memasuki ruang kompetisi kreatif.

Bagi ORBITRA Creative, Rindu adalah langkah awal. Namun bagi UNITRI, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari ruang akademik dapat keluar dari lingkungan kampus, berbicara kepada publik, dan bersaing di panggung nasional.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *