Kopwan Khadijah Sidoarjo Timba Ilmu Kunci Sukses Tanggung Renteng Kopmen SBW Malang

MALANGPARIWARA.COM – Sistem Tanggung Renteng (TR) yang selama puluhan tahun menjadi salah satu kekuatan Koperasi Konsumen Setia Budi Wanita (Kopmen SBW) Malang kembali menjadi rujukan bagi koperasi lain.

Kali ini, Koperasi Wanita (Kopwan) Khadijah Sidoarjo datang langsung ke Malang untuk timba ilmu, mempelajari tata kelola kelembagaan sekaligus strategi penerapan TR yang telah mengakar di SBW.

Sebanyak 16 pengurus dan pengawas Kopwan Khadijah mengikuti studi banding di Aula Lantai 3 Kantor Kopmen SBW Malang, Jalan Raden Intan No. 108, Kota Malang, Sabtu (12/9).

Selama sekitar tiga jam, mulai pukul 09.30 hingga 12.30 WIB, peserta menggali berbagai pengalaman SBW, mulai dari penguatan organisasi, pembinaan anggota, pengelolaan usaha hingga penerapan prinsip kebersamaan dalam sistem Tanggung Renteng.

Ketua I Kopmen SBW Malang, Mirna Anggraini, S.E., mengatakan kunjungan koperasi lain menjadi momentum penting untuk saling berbagi pengalaman.

Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya unit usaha, tetapi juga oleh kekuatan kelembagaan dan keterlibatan aktif anggota.

“Studi banding dari koperasi lain merupakan agenda rutin yang kami sambut terbuka. Melalui keterbukaan ini, SBW berkomitmen untuk saling membagikan kiat sukses, pengalaman pengelolaan kelembagaan, serta konsistensi penerapan sistem Tanggung Renteng agar bisa direplikasi demi kemajuan gerakan koperasi,” ujarnya.

Dalam sesi pemaparan, Mirna mengawali dengan perjalanan panjang SBW, mulai dari sejarah berdiri, perkembangan organisasi hingga berbagai capaian yang berhasil diraih.

Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa koperasi dapat bertahan dan berkembang apabila dibangun di atas fondasi anggota yang kuat.

Materi kemudian diperdalam oleh jajaran pengurus sesuai bidang masing-masing. Pada aspek kelembagaan dan layanan nonkeuangan, Benedecta, S.Sos., M.AP., bersama I Gusti Ayu, S.KM., menjelaskan berbagai program pembinaan mental (bimtal), kegiatan sosial, budaya hingga bina sejahtera.

Program tersebut menjadi bagian penting dalam membangun karakter dan rasa memiliki anggota terhadap koperasi. Sebab, bagi SBW, koperasi bukan sekadar tempat aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang untuk membangun solidaritas dan kemandirian anggota.

Sementara itu, Hj. Sudiastuti, Pengurus Bidang Usaha dan Keuangan, memaparkan pengelolaan unit usaha, manajemen keuangan serta operasional SBW Mart.

Peserta mendapat gambaran mengenai bagaimana aspek kelembagaan dan bisnis harus berjalan beriringan agar koperasi tetap sehat dan berkelanjutan.

Antusiasme terlihat dalam sesi diskusi

Para peserta Kopwan Khadijah aktif menggali pengalaman SBW, terutama dalam menghadapi persoalan operasional, penguatan modal serta menjaga komitmen anggota dalam menjalankan sistem Tanggung Renteng.

Ketua Kopwan Khadijah Sidoarjo, Siti Alfulaila, mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi koperasi yang baru berusia 17 tahun untuk belajar dari SBW yang telah melewati perjalanan 49 tahun.

“Kami berharap suatu saat koperasi kami bisa sebesar SBW Malang, tetap mengedepankan kekuatan anggota, rasa memiliki yang besar, serta cinta terhadap koperasinya,” ungkap Siti.

Ia mengaku terkesan melihat kuatnya budaya organisasi yang dibangun SBW. Menurutnya, semangat “I Love SBW” bukan sekadar slogan, tetapi tercermin dalam keterikatan anggota serta budaya gotong royong yang menopang penerapan sistem Tanggung Renteng.

Hal senada disampaikan Koordinator Pengawas Kopwan Khadijah, Endah, yang menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Kopmen SBW Malang dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Kunjungan ditutup dengan penyerahan materi pembelajaran, pertukaran tali asih, foto bersama serta office tour untuk melihat langsung fasilitas dan aktivitas di gedung tiga lantai Kopmen SBW Malang.

Bagi Kopmen SBW, berbagi pengalaman bukan sekadar menerima kunjungan.

Lebih jauh, forum semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan koperasi melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman dan praktik baik.

Sistem Tanggung Renteng yang telah menjadi identitas SBW pun terus diperkenalkan sebagai model kebersamaan yang menempatkan anggota sebagai kekuatan utama koperasi.(Djoko W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *