MALANGPARIWARA.COM — Universitas Brawijaya (UB) kembali memperkuat barisan akademiknya dengan mengukuhkan lima profesor baru dari lintas disiplin keilmuan.
Mereka membawa riset yang menyentuh persoalan strategis, mulai dari kemandirian petani dan material fungsional, efisiensi energi serta penangkapan karbon, hingga kesehatan psikologis dan literasi visual di era digital.
Pengukuhan ini dilangsungkan besok Selasa (22/9/26) di Gedung Samanta Krida UB.
Lima profesor tersebut berasal dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK), Fakultas Teknik (FT), serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Mereka adalah Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T., Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D., Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., dan Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn.
Prof. Edi Dwi Cahyono mengusung model E/D/C-RITA dan COAST Framework untuk memperkuat kemampuan petani mengadopsi teknologi pertanian berkelanjutan.
Pendekatannya menempatkan petani bukan sebagai objek penerima teknologi, melainkan subjek yang diajak memahami, mempertimbangkan, hingga mampu mengambil keputusan secara mandiri.
Prinsip yang ditawarkan sederhana namun kuat: “Jangan Dipaksa-Terpaksa-Terbiasa, tetapi Diajak-Menimbang-Memandirikan.”
Prof. Edi tercatat sebagai profesor aktif ke-25 di FBIPK dan profesor ke-456 di lingkungan UB.
Dari Fakultas Teknik, Prof. Putu Hadi Setyarini membawa riset mengenai rekayasa pelapisan dan karakterisasi material fungsional melalui kerangka COAT360.
Kerangka ini dirancang untuk menghubungkan siklus rekayasa material secara lebih terstruktur melalui enam rantai bukti minimum.
Riset tersebut diarahkan pada berbagai kebutuhan teknologi, termasuk pengembangan kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan, biomaterial medis, hingga teknologi pencegahan korosi.
Prof. Putu menjadi profesor aktif ke-34 di FT dan profesor ke-457 di UB.
Sementara itu, Prof. Winarto mengembangkan riset berbasis simulasi dinamika molekul (molecular dynamics) untuk mencari proses pemisahan air-alkohol dan penangkapan karbon dioksida (CO₂) yang lebih efisien.
Penelitiannya memanfaatkan carbon nanotubes (CNTs) dan membran silikon nitrida.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengurangi kebutuhan energi yang selama ini menjadi salah satu persoalan dalam proses distilasi konvensional.
Prof. Winarto tercatat sebagai profesor aktif ke-35 di FT dan profesor ke-459 di UB.
Dua profesor lainnya memperluas pengukuhan ke ranah sosial-humaniora.
Prof. Cleoputri Al Yusainy menawarkan konsep “Lebur Duka Labur Rasa”, sebuah model psikologi yang berangkat dari tradisi kontemplasi Timur.
Konsep tersebut mengurai tiga aspek pengalaman diri, yakni ilusi kepemilikan (mineness), pusat pengalaman (centeredness), dan keistimewaan diri (selfhood).
Pendekatan itu diarahkan untuk membangun individu yang lebih mampu memahami pengalaman batin dan menjaga kebugaran mental.
Cleo menjadi profesor ke-5 di FISIP dan profesor ke-458 di UB.
Sementara Prof. Desi Dwi Prianti mengangkat Literasi Visual Dekolonial sebagai respons terhadap kuatnya pengaruh rezim pengetahuan dalam membentuk cara masyarakat melihat gender, tubuh, dan realitas sosial, terutama di tengah derasnya arus visual digital.
Melalui strategi menyingkap, melacak, dan melawan, literasi visual tersebut diarahkan untuk membaca kembali konstruksi pengetahuan yang selama ini dianggap normal sekaligus membuka ruang bagi perspektif yang lebih inklusif.
Prof. Desi menjadi profesor ke-6 di FISIP dan profesor ke-460 di UB.
Pengukuhan lima profesor tersebut menunjukkan luasnya spektrum riset UB.
Dari persoalan adopsi teknologi di tingkat petani, rekayasa material dan efisiensi energi, hingga psikologi serta kritik terhadap budaya visual, riset akademik diarahkan untuk menjawab persoalan yang berkembang di masyarakat.
Dengan tambahan lima profesor tersebut, UB kini semakin memperkuat kapasitas keilmuannya melalui kepakaran lintas disiplin yang tidak berhenti pada pengembangan teori, tetapi juga diarahkan pada persoalan nyata di bidang pertanian, teknologi, lingkungan, kesehatan psikologis, dan kehidupan sosial.(Djoko W)






