Malangpariwara.com – Perguruan tinggi kini tidak cukup hanya menjual kualitas akademik. Di tengah kebiasaan masyarakat mencari informasi melalui internet, wajah digital institusi ikut menentukan bagaimana sebuah kampus dikenal, dinilai, hingga dipertimbangkan calon mahasiswa.
Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. Dr. H. M. Mas’ud Said, M.Si., menilai website perguruan tinggi tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai pajangan informasi. Website justru menjadi salah satu pintu pertama publik untuk mengenali sebuah institusi.
Hal itu disampaikan Prof. Mas’ud dalam wawancara, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung mencari informasi terlebih dahulu melalui mesin pencari sebelum memutuskan untuk mengenal lebih jauh sebuah lembaga. Karena itu, informasi yang ditampilkan di ruang digital harus mampu merepresentasikan kualitas dan aktivitas institusi.
“Website itu sama dengan disertasi. Kami menjadi universitas yang S3-nya satu program studi, tetapi paling banyak peminatnya,” kata Prof. Mas’ud.
Ia menegaskan, penguatan kanal digital harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi komunikasi dan promosi perguruan tinggi. Branding, menurutnya, tidak bisa dibangun secara instan karena membutuhkan konsistensi dalam jangka panjang.
“Kalau branding itu jangka panjang. Sekarang sifatnya lebih promotif,” ujarnya.
Website Menjadi Pintu Pertama Publik
Prof. Mas’ud menyebut website sebagai salah satu instrumen utama dalam memperkenalkan lembaga kepada masyarakat.
Ketika calon mahasiswa maupun publik ingin mengetahui program pendidikan, profil, aktivitas dan keunggulan perguruan tinggi, website menjadi rujukan awal yang mudah diakses.
“Website nomor satu. Memang paling bagus,” tegasnya.
Karena itu, transformasi digital bagi perguruan tinggi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Lebih dari itu, kanal digital menjadi bagian dari strategi membangun komunikasi, memperluas jangkauan informasi dan memperkuat daya tarik institusi di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin terbuka.
Pascasarjana Unisma pun mendorong penguatan promosi melalui berbagai kanal, termasuk media digital, untuk memperluas jangkauan informasi program pendidikan kepada masyarakat.
Digitalisasi Harus Ditopang Tata Kelola
Namun, promosi digital saja dinilai tidak cukup. Menurut Prof. Mas’ud, penguatan citra institusi harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang baik.
Ia menempatkan good governance sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun perguruan tinggi yang sehat dan berkembang.
“Ketika kita datang dengan good governance, good corporate governance, itu namanya good university,” jelasnya.
Menurutnya, pengalaman dalam berbagai organisasi menjadi bekal dalam membangun kelembagaan yang tidak hanya memiliki struktur, tetapi juga mampu bekerja, berjejaring dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Ia menyebut pengalaman di berbagai organisasi kepemudaan, NU, PMI dan organisasi sosial turut memperkaya perspektifnya mengenai pengelolaan organisasi.
“Good organization, social organization, competition dan dasar-dasar pemerintahan itu semua,” tuturnya.
Ukuran Keberhasilan Ada pada Manfaat
Prof. Mas’ud juga menilai keberhasilan sebuah institusi tidak cukup diukur dari keberadaan struktur organisasi atau banyaknya program. Ukuran penting lainnya adalah bagaimana keberadaan lembaga tersebut dirasakan masyarakat.
Ia mencontohkan pengelolaan Masjid Sabilillah Malang yang menurutnya mampu membangun pelayanan sekaligus menjaga kepuasan jamaah.
“Kepuasan jamaah Sabilillah itu 4,8,” ungkapnya.
Bagi Prof. Mas’ud, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan organisasi harus bermuara pada pelayanan dan manfaat. Konsep serupa juga relevan diterapkan dalam pengelolaan perguruan tinggi.
Pascasarjana Unisma Perkuat Promosi
Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin dinamis, Pascasarjana Unisma akan terus memperkuat strategi promosi untuk meningkatkan minat mahasiswa.
Promosi tidak lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Website dan berbagai kanal digital menjadi bagian penting untuk memastikan informasi akademik dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan cepat.
Prof. Mas’ud menekankan bahwa digitalisasi, branding, promosi dan tata kelola tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Semuanya harus menjadi bagian dari strategi pengembangan institusi.
“Yang penting bagaimana lembaga ini terus berkembang,” katanya.
Pada akhirnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut memiliki program akademik yang kuat. Institusi juga harus mampu menjelaskan siapa dirinya, apa yang dikerjakan dan manfaat apa yang diberikan kepada masyarakat.
Di era ketika calon mahasiswa bisa mengenal sebuah kampus hanya melalui layar ponsel, website bukan lagi sekadar etalase digital. Ia telah menjadi wajah institusi ruang pertama tempat publik mengenal, menilai dan menentukan ketertarikannya terhadap sebuah perguruan tinggi.(Djoko W)






