Malangpariwara.com – Pensiun bukan garis akhir untuk berhenti berkarya. Joko Santoso (60) membuktikannya dengan merintis usaha kuliner oleh-oleh, Bolu Legenda Malang, setelah puluhan tahun mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Politeknik Negeri Malang (Polinema).
Berbekal pengalaman berdagang sejak kecil, keberanian mencoba berbagai bidang usaha, dan kejelian membaca peluang pasar, Joko memilih menekuni bisnis kue bolu klasik.
Ia membidik kebutuhan buah tangan bagi keluarga mahasiswa dari luar daerah yang datang ke Kota Malang.
Kini, usaha yang dirintis untuk mengisi masa menjelang purnatugas itu berkembang menjadi toko oleh-oleh yang menawarkan beragam kue dan roti buatan sendiri.
Gerainya berada di Jalan Sidomakmur 113A, Dau, Kabupaten Malang, tak jauh dari kawasan wisata Sengkaling dan lingkungan kuliner.

Bagi Joko, membangun usaha bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Aktivitas produktif menjadi cara untuk tetap berkarya sekaligus menjaga semangat hidup setelah tidak lagi terikat rutinitas kedinasan.
“Saya orangnya tidak bisa diam. Kalau pensiun nanti cuma makan-tidur, kesehatan bisa terganggu. Harus ada mainan baru yang produktif,” kata Joko kepada Malangpariwara, Jumat (9/10/2026).
Terasah dari Keluarga Pedagang
Lahir di Pakisaji, Kabupaten Malang, Joko mengenal dunia usaha sejak masih kecil. Orang tuanya mengelola depot nasi sederhana. Ia terbiasa membantu pekerjaan keluarga, termasuk mempelajari proses pembuatan kue di dapur.
Pengalaman itu menjadi bekal awal yang kelak membentuk keberaniannya berwirausaha.
“Bagi kami yang tumbuh di keluarga pedagang, kalau mau uang saku lebih, ya harus bantu orang tua. Dari sana saya belajar adonan dan proses bikin kue,” tuturnya.
Di tengah perjalanan hidupnya, Joko tetap meniti karier sebagai abdi negara. Ia mulai bekerja sebagai tenaga honorer di Polinema pada 1988, kemudian diangkat menjadi ASN pada 1991.
Namun, pekerjaan sebagai ASN tidak membuatnya berhenti mengeksplorasi peluang usaha. Dengan latar belakang pendidikan administrasi niaga, ia mencoba membangun bisnis di luar jam kedinasan.
Pada awal 1990-an, ketika komputer belum menjadi perangkat yang mudah dijumpai seperti sekarang,
Joko membuka jasa persewaan komputer. Usaha itu kemudian berkembang ke bisnis biro perjalanan atau travel agent pada 1996.
Ia selanjutnya kembali menekuni penjualan dan layanan servis komputer hingga 2010.
Pengalaman tersebut memberinya pelajaran tentang perubahan pasar. Ketika persaingan bisnis komputer semakin ketat akibat masuknya pemodal besar dari Surabaya dan Jakarta, Joko memutuskan untuk tidak terus bertahan di sektor yang sama.
“Tahun 2010 persaingan makin ketat. Dengan modal pas-pasan, daripada terus tergilas, kita harus tahu diri dan mencari peluang lain yang persaingannya tidak terlalu raksasa,” ujarnya.
Keputusan itu menunjukkan bahwa bertahan dalam bisnis bukan semata-mata soal keberanian, melainkan juga kemampuan membaca situasi dan menentukan kapan harus mengubah arah.
Membaca Peluang dari Mobilitas Mahasiswa
Setelah mengurangi aktivitas bisnis komputer dan kembali berfokus pada tugasnya di bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Polinema, Joko mulai menyiapkan kegiatan produktif untuk masa pensiun.
Ia melihat Kota Malang memiliki karakter pasar yang berbeda dari kota-kota lain. Sebagai kota pendidikan, Malang didatangi mahasiswa dari berbagai daerah.
Mobilitas tersebut turut mendatangkan orang tua dan keluarga, terutama ketika masa penerimaan mahasiswa baru maupun wisuda.
Joko melihat kebutuhan yang kerap muncul dari kunjungan tersebut: membawa oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman.
Menurut perkiraannya, terdapat sekitar 200.000 mahasiswa luar daerah yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi Malang, termasuk Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), dan Polinema.
Alih-alih menyasar mahasiswa sebagai konsumen utama, ia memilih membidik orang tua mahasiswa yang datang berkunjung.
“Minimal orang tua datang ke Malang dua kali: saat mengantar anak daftar kuliah dan saat menghadiri wisuda. Begitu datang ke Malang, mereka pasti ingin membawa buah tangan pulang untuk keluarga. Di situ saya melihat peluang oleh-oleh yang pas,” jelasnya.
Gagasan tersebut menjadi dasar lahirnya Bolu Legenda Malang. Joko berupaya menawarkan alternatif oleh-oleh di tengah pasar yang banyak diisi produk keripik buah dan makanan khas lainnya.
Mengangkat Bolu Klasik, Menjangkau Berbagai Segmen

Joko memilih bolu klasik atau bolu lawas sebagai produk andalan. Salah satunya bolu gulung dengan isian selai nanas, yang mengingatkannya pada keterampilan membuat kue sejak masa kecil.
Pilihan itu sekaligus menjadi upaya menawarkan produk yang akrab di lidah konsumen, tetapi tetap relevan sebagai buah tangan dari Malang.
Di gerainya, Bolu Legenda Malang menyediakan beragam kue dan roti produksi sendiri. Sejumlah proses produksi dikerjakan bersama anggota keluarga dengan dukungan tiga karyawan.
Strategi harga juga dibuat beragam agar produk dapat dijangkau konsumen dari berbagai kalangan.
“Kita menyesuaikan pasar, dari harga Rp3.000 hingga Rp60.000,” bebernya.
Rentang harga tersebut menjadi bagian dari upaya menjangkau pembeli dengan kebutuhan berbeda, mulai dari konsumen yang ingin membeli kudapan sederhana hingga mereka yang mencari buah tangan untuk keluarga.
Berpindah Lokasi, Terus Mencari Pasar
Perjalanan Bolu Legenda Malang tidak langsung menemukan tempat yang ideal. Gerai di Jalan Sidomakmur 113A, Dau, yang ditempati kurang dari empat bulan terakhir, merupakan lokasi baru setelah sebelumnya berpindah tempat dua kali.
Joko menilai lokasi sekarang lebih menjanjikan karena berada di kawasan yang strategis, dekat Taman Rekreasi Sengkaling dan lingkungan usaha kuliner.
Ia juga menyebut tokonya ramai didatangi pembeli setiap hari. Meski demikian, mempertahankan usaha tetap membutuhkan kemampuan membaca kebutuhan konsumen, menjaga kualitas produk, serta menyesuaikan harga dengan daya beli pasar.
Pengalaman panjang di sejumlah bidang usaha membuat Joko memahami bahwa peluang tidak selalu datang dalam bentuk yang sama. Ada kalanya bisnis harus dihentikan, strategi diubah, dan usaha baru dirintis dari awal.
Bagi Joko, teori bisnis tetap penting. Namun, pengalaman menghadapi persaingan dan perubahan zaman menjadi bekal yang tidak kalah menentukan.
“Teori itu penting, tapi yang membuat seseorang bertahan adalah pengalaman dan jam terbang di jalanan. Menjalani berbagai zaman membuat kita lebih fleksibel menghadapi perubahan,” pungkas ayah dua anak tersebut.
Kisah Joko memperlihatkan bahwa purnatugas tidak harus berarti berhenti produktif. Dengan pengalaman, keberanian beradaptasi, dan kejelian membaca kebutuhan pasar, masa pensiun justru dapat menjadi awal untuk membangun usaha baru.
Bagi Bolu Legenda Malang, tantangan berikutnya bukan sekadar bertahan setelah berpindah lokasi, melainkan menjaga kepercayaan pelanggan dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pilihan buah tangan di kawasan Malang.(Djoko W)







