EMT Jawa Timur Benahi Sistem Tanggap Darurat Pascabanjir Pidie Jaya

Malangpariwara.com – Penanganan dampak kesehatan pascabanjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tidak berhenti pada pelayanan darurat semata. Di sana, Emergency Medical Team (EMT) Jawa Timur, mendorong pembenahan sistem komando kesehatan agar respons bencana ke depan lebih cepat, rapi, dan terintegrasi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan peningkatan kapasitas relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Pidie Jaya sekaligus penguatan integrasi peran Public Safety Center (PSC) 119 dalam skema Health Emergency Operation Center (HEOC), Senin (29/12/2025).

Pelatihan ini menjadi bagian dari evaluasi lapangan EMT Jatim yang selama 23-30 Desember 2025 mendampingi penanganan kesehatan di wilayah terdampak banjir bandang.

EMT Jawa Timur Benahi Sistem Tanggap Darurat Pascabanjir Pidie Jaya
Sharing session bersama Tim PSC 119 & PMI Kab Pidie Jaya Aceh (Djoko W)

“Kunci keberhasilan HEOC ada pada kejelasan pembagian tugas. PSC 119 kita dorong sebagai garda depan medis teknis dan rujukan, sementara PMI diperkuat perannya dalam evakuasi, logistik darah, dan sheltering. Keduanya harus melapor ke satu dashboard data yang sama,” ujar Dr. Mukhamad Fathoni, perwakilan Bapena DPW PPNI Jawa Timur sekaligus Dosen Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya.

Berdasarkan laporan Tim EMT Jatim 4, selain jumlah korban, tantangan kesehatan di Pidie Jaya juga mencakup akses dan sistem layanan.

Banyak warga kesulitan menjangkau puskesmas dan rumah sakit akibat akses yang terputus, sementara sebagian tenaga kesehatan setempat juga terdampak banjir.

Akibatnya, warga dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes mengalami putus pengobatan.

EMT Jatim mencatat pelayanan kesehatan darurat telah menjangkau 276 warga, dengan kasus terbanyak meliputi ISPA, nyeri otot, dan penyakit kulit akibat lingkungan pascabanjir.

Situasi ini diperparah oleh keterbatasan logistik skrining kesehatan serta lokasi pelayanan yang berpindah-pindah pada awal masa tanggap darurat.

Sanitasi yang Tidak Optimal

Selain layanan medis, persoalan kesehatan lingkungan turut menjadi perhatian serius. Di sejumlah lokasi pengungsian, sanitasi belum optimal.

Jamban terbatas, fasilitas cuci tangan minim, dan vektor penyakit seperti lalat serta nyamuk masih tinggi akibat lumpur dan sampah pascabanjir.

Tim EMT bersama warga melakukan penyemprotan vektor, desinfeksi tandon air bersih, hingga edukasi perilaku hidup bersih dan sehat. Upaya ini dilakukan untuk mencegah munculnya penyakit lanjutan di tengah kondisi pengungsian.

Di sisi lain, dukungan kesehatan jiwa juga diberikan, khususnya bagi anak-anak dan warga terdampak trauma. Kegiatan dukungan psikososial digelar di desa Beurawang dan pelatihan serupa diberikan kepada relawan PMI setempat.

EMT Jawa Timur Benahi Sistem Tanggap Darurat Pascabanjir Pidie Jaya
Dosen FIK UB, Mukhamad Fathoni, berikan pendapat terkait pentingnya pelatihan peningkatan kapasitas PMI terhadap keberhasilan HEOC (Instagram/@kominfojatim)

Menurut Fathoni, pelatihan HEOC ini menjadi momentum memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor.

“Baik di PSC maupun PMI, perawat adalah tulang punggung operasional. Standarisasi kompetensi mereka dalam triase bencana harus setara agar keselamatan warga Pidie Jaya lebih terjamin,” tegasnya. (Djoko W)