Pasokan Langsung dari Petani, SPPG Bareng Kota Malang Catat Nol Keluhan Program MBG

Malangpariwara.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang terus menunjukkan kinerja menggembirakan.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bareng, Kecamatan Klojen, berhasil mencatatkan capaian tanpa keluhan (zero complain) dari sekolah penerima manfaat berkat kolaborasi dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Melalui kerja sama ini, kebutuhan bahan pangan seperti sayur, buah, hingga bahan baku gula dipasok langsung dari petani. Skema ini dinilai mampu menjaga kualitas bahan tetap segar sekaligus memangkas rantai distribusi yang sebelumnya melibatkan tengkulak.

Kepala SPPG Bareng, Rofi’u Rahmananda bersama Chef Gizi SPPG Bareng, Wahyu Siswo Putra Adi memeriksa kondisi Buah kiriman Suplayer.(Djoko W)

Kepala SPPG Bareng, Rofi’u Rahmananda, menyampaikan bahwa hingga kini program berjalan lancar dengan respons positif dari sekolah.

“Total ada 16 sekolah penerima manfaat, dan tidak ada keluhan maupun pengembalian makanan. Ini menunjukkan kualitas bahan dan pengolahan sudah sesuai standar,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Upaya menjaga kualitas juga dilakukan melalui penerapan sistem farm-to-table oleh KDMP Selorejo.

Berbagai komoditas seperti jeruk, buncis, kacang polong, wortel, brokoli, hingga bunga kol disuplai secara rutin guna menjaga variasi menu sekaligus memenuhi kebutuhan gizi siswa.

Chef Gizi SPPG Bareng, Wahyu Siswo Putra Adi, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada kebiasaan anak-anak yang kurang menyukai sayur.

“Kami tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga memberikan edukasi. Menu dikombinasikan dengan susu UHT atau pasteurisasi agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi,” jelasnya.

Ketua KDMP Selorejo, Deki Mahar Lesmana.(Djoko W)

Sementara itu, Ketua KDMP Selorejo, Deki Mahar Lesmana, menegaskan pihaknya menerapkan standar ketat dalam setiap pengiriman. Sayur dikirim sekitar 100 kilogram per pengiriman, sedangkan buah mencapai 1.500 hingga lebih dari 2.000 buah, menyesuaikan kebutuhan harian.

Distribusi dilakukan satu hingga dua kali dalam sepekan dengan sistem grading kualitas tinggi.

Meski demikian, kendala terkadang muncul saat komoditas tertentu seperti jeruk belum memasuki musim panen.

“Kalau belum musim, kami harus mencari dari beberapa sumber agar tetap memenuhi standar kualitas. Prinsipnya, mutu tetap kami jaga sesuai SOP,” katanya.
Kerja sama antara KDMP dan SPPG yang dimulai sejak Januari 2026 kini telah menjangkau beberapa wilayah dan melibatkan sinergi antar koperasi, termasuk Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP).

Deki berharap model kolaborasi ini dapat diperluas secara nasional sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Jika koperasi desa dan kelurahan dilibatkan secara luas, maka dampaknya akan besar bagi ekonomi petani dan keberhasilan program pemerintah,” ujarnya.

Keberhasilan SPPG Bareng menghadirkan layanan tanpa keluhan menjadi bukti bahwa kolaborasi antara lembaga pelayanan gizi dan koperasi lokal mampu memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi siswa penerima program, tetapi juga bagi penguatan ekonomi masyarakat.( Djoko W )