Malangpariwara.com – Suasana santai namun penuh gagasan terasa dalam acara “Ngopisam” (Ngobrol dan Ngopi Santai bersama Media) yang digelar di Gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya, Jumat (17/4/2026) pukul 16.00 WIB.
Kegiatan ini menghadirkan dua alumni FMIPA dengan kiprah berbeda namun sama-sama inspiratif: akademisi inovator dan praktisi industri.
Salah satu narasumber, Prof. Solimun, guru besar di Departemen Statistika UB yang telah mengabdi sejak 1987, memaparkan perjalanan panjang risetnya hingga melahirkan inovasi berbasis aplikasi.
Ia mengembangkan model statistik yang kini dihilirisasi menjadi aplikasi bernama CriCap.
Dalam paparannya, Prof. Solimun menjelaskan bahwa CriCap dirancang untuk menjawab kebutuhan pemetaan literasi keuangan masyarakat secara lebih akurat dan terstruktur.
Aplikasi ini mampu mengukur derajat respons kredit masyarakat, sehingga memberikan gambaran komprehensif bagi pengambil kebijakan.
“Model yang selama ini hanya berhenti di ruang akademik harus bisa diturunkan menjadi solusi nyata. CriCap hadir sebagai jembatan antara teori dan implementasi di lapangan,” ujarnya.
Keunggulan CriCap terletak pada kemampuannya menyediakan data berbasis wilayah yang detail.
Hal ini dinilai sangat strategis bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan inklusi keuangan, memperluas akses kredit, serta menekan risiko kredit bermasalah.
Selain itu, data yang dihasilkan juga dapat menjadi dasar penyusunan program edukasi keuangan yang lebih tepat sasaran.
Sementara itu, alumni lainnya, Sulton Kharis, menghadirkan perspektif berbeda dari dunia industri.
Lulusan FMIPA UB ini telah berkarier sejak 1999, memulai langkahnya di PT Wichem Chemical Adhesive sebagai Supervisor Quality Control dan Produksi, sebelum akhirnya berkiprah di PT Petro Oxo Nusantara Gresik hingga kini sebagai Supervisor Quality Control.
Perusahaan tersebut merupakan bagian dari holding Pertamina Patra Niaga yang bergerak di industri kimia dasar dengan produk seperti 2-Ethyl Hexanol, Iso Butanol, N-Butanol, CO₂ cair, hingga Neo Pentyl Glycol.
Menariknya, di luar rutinitas industri, Sulton dikenal memiliki semangat eksperimen yang tinggi. Kegemarannya dalam riset sempat membawanya mencoba budidaya udang windu, meski berakhir gagal. Namun, kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya.
Dengan latar belakang hobi memasak dan ketertarikan pada dunia peternakan, ia kemudian bereksperimen mengembangbiakkan unggas melalui persilangan bebek dan angsa.
Upayanya membuahkan hasil dengan lahirnya varietas unggas baru yang ia sebut “jemik”, hasil persilangan yang terinspirasi dari bebek peking.
“Gagal itu biasa, yang penting terus mencoba. Ilmu yang kita dapat di kampus bisa diterapkan di mana saja, termasuk di luar bidang utama,” ungkapnya.
Kegiatan NGOPI SAM ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan dunia akademik, industri, dan media dalam suasana santai namun bermakna.
FMIPA UB melalui forum ini ingin menunjukkan bahwa lulusan sains tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata dan inovasi lintas bidang.
Dari ruang kelas hingga aplikasi digital, dari laboratorium hingga eksperimen peternakan, kisah dua alumni ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan memiliki ruang tak terbatas untuk dikembangkan dan memberi dampak luas bagi masyarakat.(Djoko W)






