Malangpariwara.com – Keselamatan berlalu lintas di kawasan permukiman masih kerap luput dari perhatian, padahal risiko kecelakaan tidak hanya mengintai di jalan raya.
Persimpangan sempit dengan jarak pandang terbatas (blind spot) menjadi salah satu titik rawan yang berpotensi memicu tabrakan antarkendaraan maupun membahayakan pejalan kaki.
Kondisi tersebut mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema) menghadirkan solusi melalui pemasangan rambu lalu lintas lensa cembung di RT 07 RW 09, Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang.
Program yang dilaksanakan pada 27 Juni 2026 ini dipimpin oleh Ir. Dwi Ratnaningsih, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng sebagai ketua pelaksana bersama tim dosen Teknik Sipil Polinema sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ketua Tim Pengabdian, Ir. Dwi Ratnaningsih, menjelaskan bahwa pemasangan lensa cembung bukan sekadar menambah fasilitas jalan, melainkan merupakan upaya menciptakan lingkungan permukiman yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat.
Menurutnya, teknologi sederhana seperti cermin cembung mampu membantu pengendara melihat kendaraan dari arah berlawanan yang sebelumnya tertutup bangunan, pagar maupun tikungan jalan.
Sebelum pemasangan dilakukan, tim terlebih dahulu mengedepankan pendekatan partisipatif dengan mengajak Ketua RT dan warga berdiskusi untuk memetakan persoalan keselamatan di lingkungan mereka.
Aspirasi masyarakat kemudian dipadukan dengan hasil survei lapangan yang mengkaji kondisi geometrik jalan, arah pergerakan kendaraan, hambatan pandangan, hingga tingkat risiko di setiap persimpangan.
Dari hasil identifikasi tersebut, tim menetapkan dua titik dengan tingkat keterbatasan visibilitas paling tinggi sebagai lokasi prioritas pemasangan rambu lalu lintas lensa cembung.
Keputusan itu diambil berdasarkan analisis teknis sekaligus kebutuhan nyata yang dirasakan masyarakat setiap hari.

Tahapan pemasangan dilakukan secara cermat, mulai dari penyiapan tiang penyangga, dudukan, baut pengikat hingga pemasangan lensa.
Setelah seluruh perangkat terpasang, tim melakukan pengujian dari berbagai arah untuk memastikan sudut pandang yang dihasilkan benar-benar mampu mengurangi area buta (blind spot).
Apabila masih ditemukan bagian yang belum terlihat optimal, posisi lensa kembali disesuaikan hingga memberikan jangkauan pandangan maksimal bagi pengguna jalan.
Tak berhenti pada pemasangan infrastruktur, tim Polinema juga memberikan edukasi kepada warga mengenai pentingnya budaya tertib berlalu lintas.
Masyarakat diingatkan bahwa lensa cembung hanyalah alat bantu, sementara faktor utama keselamatan tetap bergantung pada kewaspadaan pengendara, terutama dengan mengurangi kecepatan saat memasuki persimpangan serta menghormati pengguna jalan lainnya.
Edukasi tersebut mendapat sambutan positif. Warga menilai keberadaan lensa cembung menjawab persoalan yang selama ini mereka hadapi, terutama pada persimpangan yang kerap membuat pengendara kesulitan melihat kendaraan dari arah lain.
Program pengabdian ini menghasilkan dua manfaat sekaligus, yakni tersedianya fasilitas keselamatan berupa dua unit rambu lalu lintas lensa cembung serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan berlalu lintas di lingkungan permukiman.
Keterlibatan warga sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan juga diharapkan menumbuhkan rasa memiliki sehingga fasilitas yang telah dipasang dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Polinema kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sinergi antara perguruan tinggi dan warga diharapkan menjadi model penyelesaian persoalan lingkungan melalui penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, efektif, dan berkelanjutan.(Djoko W)






